
Wakil Walikota Pekanbaru Markarius Anwar saat tampil pada program Pamong Menyapa LPP TVRI Stasiun Riau, belum lama ini.
PEKANBARU (Khabarmetro.com) – Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru memperkuat langkah pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui pendekatan edukasi sejak dini serta perluasan akses layanan kesehatan.
Upaya tersebut dilakukan menyusul kekhawatiran terhadap kecenderungan kasus HIV/AIDS yang mulai ditemukan pada kelompok usia lebih muda.
Strategi tersebut diwujudkan melalui program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Goes to School yang menyasar pelajar SMP di Kota Pekanbaru, sekaligus penyediaan layanan pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS secara gratis di sejumlah fasilitas kesehatan.
Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar mengatakan, Pemko Pekanbaru bersama Dinas Kesehatan (Dinkes) secara langsung turun ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman yang benar kepada pelajar mengenai HIV/AIDS, mulai dari cara penularan hingga langkah pencegahannya.
Menurutnya, edukasi kepada generasi muda menjadi penting karena jika sebelumnya kasus HIV/AIDS lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa, kini fenomena tersebut mulai menyentuh kelompok remaja.
“Melalui program KPA Goes to School, kami ingin memberikan pemahaman kepada anak-anak tentang bahaya HIV/AIDS, bagaimana penularannya, serta bagaimana cara melindungi diri agar tidak terjerumus ke dalam perilaku berisiko,” ujar Markarius.
Sebelumnya, Pemko Pekanbaru telah berkolaborasi dengan Dinkes Provinsi Riau dalam memberikan penyuluhan di tingkat SMA. Kini, program tersebut diperluas ke seluruh SMP di Kota Pekanbaru.
Penyuluhan dilaksanakan secara rutin setiap pekan dengan sistem bergiliran hingga seluruh sekolah memperoleh kesempatan mendapatkan edukasi.
Salah satu kegiatan berlangsung di SMP Negeri 6 Pekanbaru, Rumbai, dengan melibatkan sekitar 1.300 siswa dan KPA Kota Pekanbaru.
Tidak hanya menyampaikan informasi dari sisi kesehatan, program tersebut juga memberikan penguatan karakter kepada para pelajar.
Pemko Pekanbaru turut menghadirkan ustaz untuk memberikan pembinaan mental dan spiritual, sehingga edukasi mengenai HIV/AIDS berjalan beriringan dengan penguatan nilai agama dan tanggung jawab dalam menjaga diri.
“Dalam setiap kegiatan, kami juga menghadirkan ustaz untuk memberikan pembinaan mental dan spiritual. Sehingga siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan dari sisi kesehatan, tetapi juga penguatan karakter dan nilai agama,” jelas Markarius.
Layanan Gratis Diperluas
Selain memperkuat edukasi di lingkungan sekolah, Pemko Pekanbaru melalui Dinas Kesehatan juga memastikan masyarakat memiliki akses terhadap pemeriksaan dan pengobatan HIV/AIDS.
Sekretaris Dinkes Kota Pekanbaru Dedy Sambudi menjelaskan, layanan pemeriksaan HIV/AIDS tersedia secara gratis di 21 puskesmas melalui layanan konseling dan tes sukarela atau Voluntary Counseling and Testing (VCT).
“Jadi mereka, bagi pengidap, sudah bisa mengakses layanan ini di Puskesmas,” ujar Dedy usai menjadi narasumber dalam program Pamong Menyapa LPP TVRI Stasiun Riau bertema “Sinergi Bersama: Wujudkan Generasi Sehat Bebas HIV/AIDS” di Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Rabu (12/8/2026).
Menurut Dedy, layanan pendukung pemeriksaan juga tersedia di 29 rumah sakit, serta sejumlah fasilitas layanan lainnya, termasuk lapas, rutan dan klinik. Sementara layanan pengobatan tersedia di fasilitas kesehatan yang telah ditetapkan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan HIV/AIDS.
Temuan positif selanjutnya akan mendapatkan penanganan dan pendampingan melalui fasilitas layanan kesehatan. Masyarakat yang merasa pernah melakukan perilaku berisiko juga diimbau memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia.
Upaya penanggulangan tidak berhenti pada pemeriksaan dan pengobatan. Dinkes bersama KPA Pekanbaru juga mendorong pendampingan secara berkelanjutan dengan melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Pendampingan tersebut antara lain dilakukan bersama kelompok pendamping dan LSM Peduli AIDS yang bekerja sama dengan fasilitas pelayanan kesehatan. Pendekatan keagamaan juga menjadi bagian dari strategi edukasi melalui keterlibatan pendakwah dan penceramah.
Dedy menyebut, edukasi melalui tokoh agama diarahkan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pencegahan HIV/AIDS serta perilaku yang dapat meningkatkan risiko penularan.
“Intinya kita akan terus menggencarkan sosialisasi dan edukasi untuk memberantas HIV/AIDS di Kota Pekanbaru. Karena penyakit ini adalah ancaman serius terhadap tatanan nilai kehidupan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pendampingan juga dapat membantu masyarakat dalam melakukan pemeriksaan secara sukarela, termasuk mendorong pasangan untuk melakukan pemeriksaan bersama.
Perlu Sinergi Semua Pihak
Dedy menegaskan, penanggulangan HIV/AIDS membutuhkan keterlibatan berbagai unsur. Karena itu, Pemko Pekanbaru berharap dukungan dari tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, lembaga swadaya masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan hingga kader posyandu.
Kolaborasi tersebut dinilai penting agar pencegahan tidak hanya dilakukan ketika seseorang sudah terindikasi positif, tetapi dimulai dari peningkatan pengetahuan, perubahan perilaku berisiko, pemeriksaan secara sukarela, hingga pendampingan dan pengobatan.
Melalui kombinasi edukasi di sekolah, layanan pemeriksaan gratis, pengobatan, serta pendampingan, Pemko Pekanbaru berupaya membangun sistem penanggulangan HIV/AIDS yang lebih komprehensif.
Program KPA Goes to School sekaligus menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran sejak usia pelajar, sementara keberadaan layanan kesehatan gratis memberikan ruang bagi masyarakat untuk memperoleh pemeriksaan dan penanganan tanpa harus khawatir mengenai biaya.
Dengan langkah tersebut, Pemko Pekanbaru berharap masyarakat semakin terbuka terhadap pentingnya pemeriksaan dini dan memahami bahwa pencegahan HIV/AIDS membutuhkan pengetahuan, kepedulian, serta keterlibatan bersama. (Adv)
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU

