Selasa , 15 September 2026

UMKM Perempuan Sungai Tohor Benahi Dapur Sagu, Tim Universitas Riau Dorong Hilirisasi Mie dan Kukis Sagu

Tim pengabdian Universitas Riau beraudiensi dengan Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang, (05/08/2026). (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

KEPULAUAN MERANTI (Khabarmetro.com) – Delapan industri rumah tangga perempuan yang bernaung di bawah Koperasi Sungai Sagu Nusantara, Desa Sungai Tohor, Kecamatan Tebing Tinggi Timur, mulai membenahi dapur produksi mie sagu dan kukis sagu mereka. Pembenahan itu menjadi langkah awal program pengabdian kepada masyarakat Universitas Riau yang berlangsung pada tanggal ( 5 – 7/08/ 2026) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.

Kabupaten Kepulauan Meranti menyumbang sekitar 15 hingga 20 persen produksi sagu nasional dengan luas areal lebih dari 40.000 hektare. Namun potensi besar di sisi hulu itu belum diimbangi penguatan pengolahan di tingkat masyarakat. Kabupaten ini masih tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di Provinsi Riau, pada kisaran 22 sampai 23 persen.

Survei lapangan pada dua unit dapur produksi memperlihatkan akar persoalannya. Proses produksi masih berlangsung di ruang rumah tinggal, zona bersih dan zona kotor bercampur, alur bahan baku belum terpisah dari alur produk jadi, dan belum tersedia ruang khusus pengemasan. Sumber air untuk proses produksi pun masih mengandalkan tampungan air hujan sehingga ketersediaan dan mutunya sulit dikendalikan. Kondisi tersebut membuat produk mitra sulit memenuhi persyaratan sertifikasi Pangan Industri Rumah Tangga maupun Halal, yang selama ini menjadi pintu masuk ke pasar di luar kabupaten.

Sosialisasi program dan diskusi terarah bersama pelaku industri rumah tangga di Sentra Sagu Desa Sungai Tohor, 6 Agustus 2026, diikuti 22 peserta. (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

Wawancara terhadap delapan pelaku usaha juga mengungkap persoalan pencatatan. Hanya satu dari delapan unit usaha, sekitar dua belas persen, yang mampu mengisi form perhitungan biaya produksi secara lengkap. Dari catatan itu terlihat marjin usaha mie sagu tersisa sekitar tujuh belas persen dari harga jual, sementara bahan baku sagu sendiri menyerap lebih dari separuh biaya produksi. Pelaku usaha lain belum dapat mengisi form karena belum terbiasa mencatat biaya, dan sebagian besar masih mencampur keuangan usaha dengan keuangan rumah tangga.

Persoalan lain muncul pada sisi jenama. Kukis sagu sudah dipasarkan dalam kemasan kotak berjenama Mosagu yang mencantumkan komposisi, logo Halal Indonesia, nomor P-IRT, serta kanal media sosial. Sebaliknya, mie sagu yang justru menyumbang volume produksi terbesar di kelompok masih dijual dalam plastik bening tanpa label dan tanpa identitas apa pun. Tim pengabdian mengusulkan jenama payung bernama SAGUNA agar seluruh produk anggota koperasi berada di bawah satu identitas bersama.

Rangkaian kegiatan dibuka dengan audiensi bersama Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kepulauan Meranti di Selatpanjang pada tanggal (05/08/2026), yang diikuti 13 peserta dari jajaran dinas, Badan Riset dan Inovasi Daerah Provinsi Riau, serta tim Universitas Riau. Sehari berikutnya, sosialisasi program dan diskusi terarah digelar di Sentra Sagu Desa Sungai Tohor dan dihadiri 22 peserta, terdiri atas pelaku industri rumah tangga, warga desa, pengurus koperasi, serta perwakilan dinas dan BRIDA. Pada tanggal (07/08/2026), pertemuan lanjutan dengan dinas menghasilkan kesediaan pemerintah daerah untuk mendampingi proses sertifikasi PIRT sekaligus sertifikasi Halal bagi produk mitra.

Tim Universitas Riau bersama pelaku industri rumah tangga perempuan, pengurus Koperasi Sungai Sagu Nusantara, dan perwakilan dinas seusai sosialisasi di Sungai Tohor. (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

Sekretaris Desa Sungai Tohor, Andi, yang mewakili kepala desa dalam sosialisasi tanggal (06/08/2026), menggambarkan besarnya ketergantungan desa pada sagu. Dari 414 kepala keluarga, sekitar 150 kepala keluarga menggantungkan hidup pada 15 kilang sagu yang beroperasi di desa. Produksi sagu basah mencapai sekitar 400 ton per bulan dan melonjak hingga 700 ton menjelang Lebaran, sebagian di antaranya pernah dipasok ke Malaysia. “Kalau satu kilang macet, ekonomi desa ikut melemah. Kami berharap kegiatan ini menjadi motivasi bagi ibu-ibu pengolah mie sagu supaya usahanya terus jalan dan berkembang, termasuk pemanfaatan limbahnya menjadi briket,” ujarnya.

Tokoh masyarakat Sungai Tohor, Abdul Manan, yang akrab disapa Cik Manan, menyebut permintaan mie sagu dari luar daerah sebenarnya sudah terbuka. Hampir dua ton mie sagu per minggu dikirim ke restoran di Jakarta, dan sebagian lagi ke Malaysia, tetapi peralatan produksi yang belum memadai membuat kapasitas sulit ditambah. “Kami minta tunjuk ajar supaya produk ini lebih baik, bisa masuk BUMDes, dan bisa diekspor. Akademisi Riau harus memegang jenama sagu ini, dan harus cepat, sebelum dipegang orang luar,” katanya.

Perubahan mulai terlihat tidak lama setelah kegiatan. Sebagian pelaku industri rumah tangga menata ulang ruang produksinya atas inisiatif sendiri, dan beberapa di antaranya mulai mencatat biaya serta penjualan harian. Pengukuran tingkat keberdayaan mitra pada awal program menunjukkan skor 41,7 persen untuk aspek produksi dan 39,6 persen untuk aspek pemasaran. Program menargetkan kedua angka itu naik menjadi 75 persen dan 70 persen pada akhir pelaksanaan.

Kondisi eksisting tempat produksi mie sagu: bangunan produksi beratap sederhana yang menyatu dengan lingkungan rumah tinggal (kiri) dan area penjemuran lembaran mie sagu yang ditinjau tim pengabdian (kanan). (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kabupaten Kepulauan Meranti, Marwan, S.E., dalam audiensi di Selatpanjang mengakui bahwa hilirisasi sagu di Meranti sudah menghasilkan puluhan jenis produk, bahkan pernah tercatat dalam rekor MURI, tetapi belum menembus pasar modern. “Kendalanya bukan lagi jenis produk, melainkan bagaimana kuantitas dinaikkan dan kualitasnya dibina secara berkelanjutan di sentra-sentra yang ada. Kami juga berharap ada penelitian agar masyarakat tidak bergantung pada BBM, misalnya arang dari limbah sagu, supaya manfaatnya dirasakan banyak orang,” ujarnya.

Sekretaris Dinas, Miftah, menambahkan bahwa program kukis sagu di Sungai Tohor pernah difasilitasi BUMN dan produknya habis terserap di Selatpanjang, namun pengelolaannya kemudian tersendat. Ia berharap pendampingan Universitas Riau tidak berhenti pada pembinaan, melainkan berlanjut sampai produk mitra dibawa ke Pekanbaru dan pasar modern. “Kegiatan seperti ini jangan sampai terhenti. Kami harap masyarakat Sungai Tohor saling mendukung dan tetap semangat berproduksi,” katanya saat membuka sosialisasi di Sungai Tohor.

Selain pengolahan mie dan kukis, anggota tim Dr. Hafidawati, S.T., M.T. memaparkan peluang pemanfaatan uyung, yakni limbah kulit batang sagu, menjadi arang, biopelet, dan briket. Limbah ini menumpuk di sekitar kilang dan sebagian terbuang ke perairan. Dinas menyambut gagasan itu dan meminta contoh penerapan yang dapat ditiru masyarakat, termasuk penanganan limbah cair kilang sagu dan pemanfaatan arang sebagai penjernih air.

Pelaku industri rumah tangga mengisi form perhitungan harga pokok produksi dan kuesioner keberdayaan. (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

Program ini dilaksanakan tim Universitas Riau yang diketuai Mira Dharma Susilawaty, S.T, M.T. dari Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik, bersama Dr. Hafidawati, S.T., M.T. dan Yeni Kusumawaty, S.P., M.M., Ph.D., serta melibatkan mahasiswa Hilmi Rozan dan Ananda Vieryando. Kegiatan memperoleh pendanaan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi untuk tahun pelaksanaan 2026.

Tahapan berikutnya mencakup lokakarya penataan ruang produksi berbasis prinsip Cara Produksi Pangan Olahan yang Baik, lokakarya jenama dan pemasaran digital, pendampingan manajemen usaha termasuk perhitungan harga pokok produksi, serta pengukuran akhir tingkat keberdayaan mitra. Seluruh rangkaian dijadwalkan tuntas pada akhir 2026.

Ketua tim, Mira Dharma Susilawaty, S.T., M.T., menegaskan bahwa sagu basah yang melimpah di Sungai Tohor baru memberi nilai tambah bagi masyarakat jika diolah menjadi produk yang tertata dari dapur hingga ke pasar. “Penataan ruang produksi kami jadikan pintu masuk karena menyangkut sirkulasi, sanitasi, dan keamanan pangan sekaligus, dan itu prasyarat sertifikasi. Pembenahannya tidak bisa sekali jadi, perlu keteguhan hati untuk terus belajar. Harapan kami, produk ibu-ibu ini bersertifikat, punya jenama, dan saling terkoneksi dalam pemasaran yang lebih luas dengan dukungan dinas,” katanya.(*.Adn)

Mie sagu masih dikemas dalam plastik bening tanpa label (kiri), berdampingan dengan kukis sagu yang sudah dikemas dalam kotak berjenama Mosagu (kanan). (Foto: Dokumentasi Tim Pengabdian UNRI)

 

Check Also

Sekolah Kopi Nusantara Diluncurkan di Yogyakarta, Dewan Kopi Provinsi Bengkulu Dukung Pengembangan Pendidikan Kopi

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Prof. Dr. Ir. H. Rachmat Pambudy, M.S. meluncurkan SKN. YOGYAKARTA …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *