
Oleh : Suhu Wan
(Ketum AMRI, Ketum IKA UNRI, Owner Idolmart)
SAAT kebanyakan orang di Indonesia kalau ditanya; ”Berapakah rentang waktu yang paling produktif dalam kehidupan manusia? Jawabannya mayoritas di usia 50-60 tahun.
Bahkan ada pula yang menyebutkan usia terproduktif itu di usia 40-50 tahun. Coba teman-teman renungkan sejenak, sesaat, apakah benar apa yang saya sampaikan ini? Terutama yang sekarang berusia 50 tahun ke atas atau 40 tahun ke atas. 😀
Apa pengaruh dari usia produktif yang dipercaya orang di Indonesia secara mayoritas ini?
Saat berusia sudah 50 tahun ke atas, mereka akan merasa karir mereka sudah mentok dan tidak bisa akan lebih tinggi lagi. Bahkan ada yang baru berumur 40 tahunan sudah mulai merasa pesimis, apalagi kalau karir dan kehidupannya masih biasa saja, dia merasa akan sulit untuk meraih kesuksesan.
Jadi berapa usia terproduktif manusia sebenarnya?
Sebuah penelitian di AS yang dipublikasikan di NEJM menyebutkan, bahwa usia 60-70 tahun dalam kehidupan manusia adalah usia terproduktif (terbaik) yang pertama. Sedangkan usia 70-80 adalah usia terproduktif kedua. Sedangkan usia 50-60 adalah usia terproduktif ketiga. Apakah teman-teman kaget dengan hasil penelitian ini? 😀
Ingin tahu buktinya?
Usia rata-rata dari pemenang Nobel adalah 62 tahun. Mayoritas pebisnis mengalami puncak kehebatan bisnisnya juga pada usia ini. Lihat saja Bill Gates, Jeff Bezos, dan para pebisnis besar lainnya. Kolonel Sanders baru memulai KFC, bahkan di saat telah berumur 65 tahun.
Di Indonesia juga sama, para konglomerat mencapai puncak pada usia terproduktif pertama (60-70) atau kedua (70-80). Usia terproduktif ketiga (50-60) menepati urutan setelahnya.
Walaupun memang ada yang sukses di bawah 50 tahun, namun kalau bicara rata-rata, masih jarang. Kalau pun mereka sukses sebelum 50 tahun berarti mereka belum berada di puncak sukses.
Hasil penelitian ini bukan hanya untuk penerima Nobel atau pengusaha. Sebagai ketua alumni Universitas Riau dan juga Presidium Himpuni, saya sering berhubungan dengan dunia kampus. Puncak karir para pendidik ini adalah kalau berhasil meraih gelar profesor.
Nah, apakah kita tahu pada usia berapa yang terbanyak mereka meraih gelar profesor? Ya, pada usia terproduktif di atas juga. Hanya minoritas yang mencapai gelar di bawah 50 tahun.
Mungkin masih ada yang agak menyangkal, lalu bagaimana dengan dunia karir di pekerjaan yang kalau di Indonesia justru pensiun di usia 60 tahun? Di usia terproduktif yang pertama? 😀
Walaupun pada umumnya usia pensiun bagi yang bekerja adalah di bawah 60 tahun, namun tidak sedikit Direktur atau Komisaris yang berusia di atas 60 tahun. Artinya bagi pekerja yang hebat, yang sangat dibutuhkan perusahaannya, yang karirnya terus menanjak selalu tetap dipertahankan oleh perusahaan.
Bahkan walau pun tetap pensiun, mereka malah menjadi sangat sukses di bidang yang lain seperti di bisnis. Seperti TP Rachmat justru sukses di bisnis sendiri setelah pensiun dari CEO Astra. Banyak sekali contoh mantan karyawan yang sukses di berbagai bidang.
Bahkan para pensiunan ASN maupun TNI/Polri juga tidak sedikit yang meraih kesuksesan setelah pensiun baik sebagai pebisnis, konsultan, maupun yang terjun politik seperti Presiden Prabowo dan lain-lain.
Memang secara mayoritas khusus pekerja agak kontradiktif di Indonesia dan berbeda di banding banyak negara maju yang mencapai usia terproduktif (60 tahun ke atas), di Indonesia sebagian besar tidak. Kenapa? Ada dua alasan.
Pertama, alasan kesehatan. Pada saat usia terproduktif tidak sedikit yang menyerah dengan kesehatan fisiknya. Merasa sudah tidak jika harus terus beraktifitas seperti biasa.
Alasan kedua, jauh-jauh dari awal sebelum pensiun pikirannya sudah disiapkan akan pensiun atau ada usia 56, 58 atau 60. Padahal menurut saya kita baru pensiun itu kalau kita meninggal dunia. 😀
Kedua alasan di atas saling berhubungan, karena sudah tertanam dalam pikiran mau pensiun alias tidak produktif lagi tentu akan membuat kesehatan pun akan menjadi menurun seiring bertambahnya usia. Pikiran juga menjadi lebih gampang pikun. Padahal para profesor walau usia sudah di atas 80 tahun ingatan masih sangat tajam.
Menurut saya ini adalah masalah pola pikir saja. Tolong juga dibedakan antara kesehatan dengan usia hidup kita hidup. Tentu ada batas usia kita, tetapi kita bisa berikhtiar dalam menjaga kesehatan kita termasuk teruslah produktif selagi kita masih hidup.
Berapa usia teman-teman saat ini? Masih 30 tahun? 40 tahun? Itu masih sangat jauh dari usia terproduktif. Sudah kepala 5 seperti saya? Itu baru usia terproduktif (terbaik) ketiga. Masih belum mencapai puncak. Idolmart bagi saya masih terus akan mencapai puncak. 💪😀
Begitu pula yang sekarang usia di atas 50 tahun, itu masih usia terproduktif ketiga, belum yang terbaik. Bagi yang 60 atau 70 bahkan lebih, ini adalah usia terproduktif ayo terus berbuat, jangan berhenti. Bahkan kesehatan pun bukan penghalang untuk meraih puncak.
Dulu, saya memang pernah berpikiran (mendengar pendapat orang) bahwa usia puncak (terproduktif) itu adalah 40 tahun. Kalau sudah 40 tahun maka yang paling bisa hanya mempertahankan, sudah sulit untuk berkembang lagi.
Justru pendapat ini secara kenyataan terbantahkan. Ini hanya pikiran kita saja, bukan fakta. Buktinya pada usia 37 tahun saya bangkrut. Hampir usia 40 tahun baru bangkit dari kondisi minus.
Ada juga yang berpendapat, karena Nabi Muhammad SAW meninggal pada usia 63 tahun, maka kalau sudah usia tersebut berarti usia bonus. Kalau hal ini mengingatkan kita untuk beribadah lebih tekun tentu kita akan setuju sekali. Tetapi kebanyakan pernyataan ini menjadi alasan untuk tidak produktif lagi, tentu lah tidak tepat.
Berapapun usia kita berarti adalah usia produktif dan beramal bukan hanya beribadah sendiri saja. Berbuat untuk kebaikan bagi orang lain juga merupakan Ibadah. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.
Sekali lagi ayo teman-teman semua, mari kita terus belajar, berbuat, bertumbuh dan bermanfaat bagi orang lain dan kehidupan ini. Umur hanyalah masalah angka, jangan percaya kalau kita disebut sudah berumur, kita bisa sama baik dan sehatnya dengan saat kita masih berusia lebih muda.
Percayalah selagi kita masih hidup berarti kita masih bisa terus bertumbuh dan mencapai puncak. Karya terbaik kita ada di depan kita. **
Selamat beraktivitas, Salam AMRI
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU