
Oleh: Suhu Wan
“Wan, impian kamu besar, kalau hanya dengan masalah seperti ini kamu menyerah, bagaimana kamu akan bisa mencapai impianmu?”
SAAT membaca tujuan yang telah saya tulis beberapa tahun yang lalu di pagi itu, saya merenung dan membandingkan dengan kondisi kehidupan saya yang lagi terpuruk saat itu. Cukup lama saya diam dan merenung ditengah keheningan subuh itu.
Pelan saya mulai berkata-kata pada diri saya sendiri;
“Bukankan dari awal memulai bisnis saya menyadari bahkan sering menasihati orang lain, kalau kegagalan dalam bisnis adalah memang sebuah risiko yang harus dihadapi?”
“Kenapa nasihat atau motivasi yang dulu sering saya sampaikan kepada teman, saudara atau orang lain yang mengalami kebangkrutan, saat terjadi pada diri sendiri malah saya lupakan nasihat itu?”
Saya teringat seorang mentor saya pernah berkata,”Bangkrut itu sementara tapi miskin itu bisa saja selamanya”.
“Kegagalan hanya terjadi kalau kita berhenti. Kalau kita tidak berhenti maka kita tidak akan gagal”.
“Bukankan sudah janji Allah bersama kesulitan itu akan datang kemudahan?”
“Allah tidak akan membebani seorang hambanya melainkan sesuai dengan kesanggupan hamba-Nya”.
“Wan, impian kamu besar, kalau hanya dengan masalah seperti ini kamu menyerah, bagaimana kamu akan bisa mencapai impianmu?”
Saya berbicara dengan diri saya sendiri saat itu, sesuatu yang sudah sangat jarang saya lakukan. Biasanya setiap bangun pagi saya sudah langsung merasa depresi mengingat banyaknya masalah dan beban hidup yang harus saya hadapi.
Apa yang saya rasakan setelah pagi itu, saya mulai dengan membaca kembali tujuan hidup saya, merenung dan berkomunikasi dengan diri sendiri.
Saya mulai bisa berpikir jernih, kekuatan mental saya perlahan muncul dan keyakinan saya untuk bangkit mulai tumbuh.
Apakah setelah pagi itu serta merta masalah saya teratasi? Belum juga sebenarnya.
Setelah pukul delapan pagi seperti biasa telpon dan sms tagihan mulai berdatangan. Saya merasa kembali kepada kehidupan “nyata”, kehidupan dengan banyak masalah dan beban pikiran.😀
Tetapi ada yang berubah drastis pada diri saya, sikap dan mental saya dalam menjalani kehidupan pada hari itu. Rasa optimis saya muncul sehingga beban yang biasa terasa berat mulai menjadi terasa ringan. Bahkan beberapa telepon pemasok yang menagih hutang, yang biasanya takut saya angkat hari itu berani saya jawab.
Pokoknya pada hari itu sikap dan mental saya lebih banyak positif dibanding negatif. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya yang mayoritas selalu negatif. Hari itu adalah awal dari kebangkitan saya dari keterpurukan, kebangkitan pada mental dan pikiran saya.
Pernahkan Anda mendengar bahwa untuk menjadi sukses secara fisik kita harus sukses dulu secara mental? Memiliki tujuan menjadi sukses, kita tulis dan kita yakin akan tercapai, berarti kita telah sukses secara mental.
Sebelum menjadi kaya secara fisik kita harus kaya dulu secara pikiran. Karena kalau mindset kita masih miskin, walaupun kita memperoleh banyak uang, misalkan dapat warisan, ganti rugi tanah atau undian, dalam waktu singkat kita akan kembali miskin.
Demikian pula untuk bisa bangkit dari keterpurukan secara fisik kita harus bangkit dulu secara mental dan pikiran.
Selama 2 tahun dalam kebangkrutan saya bekerja dan berjuang keras, bahkan kadang sangat keras, namun tidak juga berhasil untuk bangkit karena sikap dan mental saya belum bangkit.
Bagaimana kelanjutan dan cara saya bisa bangkit bahkan akhirnya jauh lebih sukses, bisa 100 kali lebih sukses dari pada kesuksesan saya sebelum bangkrut? Saya lanjutkan lagi tulisan ke bagian berikutnya ya.
Selamat pagi, salam 🖐 AMRI
** bersambung
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU