Senin , 20 April 2026

Mendengar Cerita Ridwan: Dana Perjuangan Ini, Semua Murni dari Masyarakat (Bagian-2)

Bus ukuran jumbo berjejer saat akan berangkat membawa warga TNTN untuk aksi damai ke Jakarta. 

AKSI masyarakat TNTN di bawah komando Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Riau, mendapat reaksi dan sorotan tajam berbagai kalangan. Bahkan ada pihak yang tidak yakin, aksi tersebut akan terlaksana.

Sebagai Kordinator Aksi dari LMND Riau, Muhammad Ridwan sudah punya tekad bulat, akan langsung melakukan aksi massa ke Jakarta.

“Kami sudah sepakat, bang. Urusan kawasan TNTN ini tak akan bisa diselesaikan oleh gubernur. Kami harus ke Jakarta,” kata Ridwan, mengingat saat-saat rencana itu dimatangkan bersama warga.

Wawancara khusus khabarmetro.com dengan Ridwan, Rabu sore (30/7/2025) di Pekanbaru, memberikan ruang bagi Ridwan untuk bercerita tentang perjuangannya bersama masyarakat TNTN ke Jakarta.

Kata Ridwan, semua sudah membulatkan tekad. Sebanyak 11 bus berukuran jumbo siap untuk berangkat ke Jakarta.

Hari itu, Sabtu (19/7/2025). Rencana perjalanan selama enam hari, dan akan melakukan aksi di beberapa titik di Jakarta, pun dimulai.

“Sudah disepakati, awalnya titik aksi itu di Kementerian Kehutanan, DPR RI, dan jika perlu di depan Istana Presiden. Semua masyarakat pun sudah setuju,” jelas Ridwan. Konvoi bus pun bergerak menuju Jakarta.

Ridwan mengakui, ada saja pihak-pihak yang berupaya mempersoalkan sumber pendanaan aksi tersebut. Dan, saat wawancara itu, tegas disebutnya bahwa sumber dana perjuangan tersebut, murni dari masyarakat.

“Aksi yang ke Jakarta kemarin seluruh pendanaan dipegang oleh masyarakat. Mereka mau dapat uang dari mana silahkan iuran, karena konsep gotong royong yang kita pakai,” jelas Ridwan.

Sawit-sawit milik masyarakat ini sekarang sedang produktif. “Masyarakat yang berada di kawasan larangan, kan saat ini sawit mereka sedang masa produktif. Itu menghasilkan. Itulah yang menjadi sumber penopang dana untuk berjuang,” ujarnya lagi.

“Saat iuran, ada yang Rp150 ribu per-hektare dan ada yang Rp100 ribu per-hektare,” jelasnya lagi.

Tapi Ridwan belum bisa memastikan, berapa luas seluruh kawasan milik warga yang diperjuangkan. Jumlah KK pun, kata dia, masih dalam tahap proses pendataan.

Surat Sakti dari Kementerian

Konvoi iring-iringan bus warga TNTN tiba di Jakarta, Ahad menjelang tengah malam (20/7/2025). Wajah-wajah penuh semangat, walau dari perjalanan jauh. Malam itu, persiapan untuk aksi besok dipersiapkan.

Ridwan memimpin pertemuan. Titik aksi yang direncanakan, satu persatu dibahas. Keputusan diambil, jika aksi selesai di satu titik maka tidak lagi dilanjutkan ke titik lain.

Senin pagi (21/7/2025), pun menjelang. Massa bergerak ke Kementerian Kehutanan (Kemenhut RI). Ridwan pegang kendali. Megaphone untuk pengeras suara sudah disiapkan.

Aksi damai pun dimulai. Ridwan berdiri di atas mobil, di tengah-tengah kerumunan warga TNTN yang ikut aksi. Mereka berteriak-teriak dan bersorak menyuarakan semangat perjuangan. Walau panas terik. Wajah-wajah dengan sorot mata tajam, namun aksi ini berjalan damai dan aman.

Setelah puas berorasi, sebanyak 15 orang perwakilan, dari sekitar 500 orang massa yang ikut aksi, akhirnya diterima untuk berdialog oleh pejabat di Kemenhut RI.

Pejabat yang ikut menerima perwakilan masyarakat, antara lain Kepala Biro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri, Direktur Penindakan Pidana Kehutanan Ditjen Gakkum Kehutanan, Sekretaris Ditjen Gakkum Kehutanan, Direktur Koservasi Kawasan Ditjen KSDAE dan Polisi Kehutanan Ahli Utama Dr Ir Suhaeri MSi.

Pertemuan berlangsung aman dan lancar. Ridwan sebagai Kordinator Aksi memimpin dialog, dan beberapa kali pula warga diberi kesempatan untuk ikut bersuara. Untungnya, para pejabat Kemenhut RI mendengarkan dan memahami situasi hati dan kondisi yang dirasakan masyarakat.

Beberapa hal yang disepakati dari pertemuan itu, antara lain; 1) Kemenhut dan LMND bersama masyarakat Dusun Kuala Renangan, Dusun IV Toro Jaya, Dusun Lima Toro Palembang, Desa Lubuk Kembang Bunga, Kecamatan Ukui serta Desa Kesuma Dusun Bukit Makmur, bersama sepakat menjaga TNTN.

Selanjutnya, 2) Kemenhut akan mengusulkan kepada Gubernur Riau dan/atau Kementerian lainnya supaya masyarkat yang disebutkan di atas, sebagai perwakilan masyarakat dilibatkan kedalam Tim Percepatan Pemulihan Pasca Penguasaan (TP4).

Dan, ke 3) Kemenhut akan mengusulkan tidak akan ada relokasi mandiri untuk para pihak pada poin (a) sampai dengan 22 Agustus 2025. Surat ini ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemenhut RI Dr Ir Mahfudz MP.

Satu hal yang menggembirakan, kata Ridwan lagi, di dalam ‘surat sakti’ dari Kemenhut itu tegas disebutkan bahwa LMND sebagai pendamping warga TNTN ini, diusulkan agar dilibatkan dalam TP4 TNTN.

Pulang, Hati Terasa Agak Tenang

Walau berhari-hari di perjalanan, namun seluruh rombongan terlihat lebih tenang saat akan pulang. Karena aksi di Kemenhut RI membuahkan hasil, Ridwan dan ratusan massa tidak lagi melanjutkan aksi.

“Awalnya kami akan ke DPR RI. Tapi, karena di Kementerian Kehutanan persoalan itu sudah terang dan ada kesepakatan, akhirnya kami tidak lanjut aksi. Bekal di Jakarta pun sudah menipis. Akhirnya masyarakat memutuskan pulang ke Riau,” kata Ridwan, mengenang masa itu.

Sekarang, lanjut Ridwan, dirinya terus mendampingi masyarakat TNTN. Sambil mengikuti dan mengawal proses tahap pendataan, Ridwan dan rekan-rekan LMND Riau secara bergiliran keluar masuk lokasi TNTN. Ia berharap, hasil kesepakatan di Kemenhut RI itu bisa dijalankan. (uli/bersambung)

Check Also

SMK Sawit dan Kehutanan Pertama di Pekanbaru Hadir, Jawaban Kebutuhan SDM Perkebunan Riau

  DR Muhammad Syafii, SPd MPd. PEKANBARU (khabarmetro.com)– Provinsi Riau dikenal sebagai salah satu daerah …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *