
Pak Sahid Coffee (paling kiri) dalam salah satu kesempatan perkenalkan kopi lokal.
TANGERANG (Khabarmetro.com) – Kopi Kabupaten Kepahiang, Bengkulu, mencatat langkah baru dengan menembus pasar Italia. Keberhasilan ekspor perdana tersebut dinilai menjadi buah dari perjuangan panjang para pelaku perkopian dalam memperkenalkan kopi Kepahiang ke pasar nasional hingga internasional.
Pak Sahid Coffee menilai keberhasilan tersebut tidak lahir secara instan. Menurutnya, ada proses panjang yang melibatkan petani, pelaku usaha, eksportir dan berbagai pihak yang selama bertahun-tahun memperkenalkan karakter serta kualitas kopi Kepahiang.
Lebih jauh, Pak Sahid Coffee melihat kearifan lokal dalam proses pengelolaan kopi Kepahiang memiliki nilai penting dalam menghadapi tuntutan pasar Eropa, termasuk regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR).
Menurutnya, praktik pengelolaan kopi yang dilakukan masyarakat secara turun-temurun menjadi bagian dari budaya perkopian Kepahiang yang telah berkembang jauh sebelum munculnya regulasi EUDR.
“Proses kopi kearifan lokal yang kembali digaungkan Pak Sahid Coffee merupakan kultur budaya tak tertulis yang telah ada dan dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat perkopian Kabupaten Kepahiang dan sekitarnya,” ujar Pak Sahid Coffee saat ditemui dalam ajang Halal Indo 2026 di ICE BSD Tangerang, 24–27 September.
Ia mengatakan, pendekatan tersebut kemudian diperkenalkan kepada pihak Eropa dan eksportir sebagai salah satu kekuatan yang dapat mendukung pemenuhan tuntutan pasar, khususnya terkait asal-usul dan proses produksi kopi.
Italia menjadi salah satu pasar Eropa yang menerima kopi Kepahiang melalui proses ekspor yang tidak sederhana. Menurut Pak Sahid Coffee, keberhasilan tersebut melewati sejumlah tahapan, mulai dari pengiriman sampel, pengujian kualitas, komunikasi dengan calon pembeli, hingga diskusi dan negosiasi.
“Buyer luar negeri tidak membeli kopi kita secara tiba-tiba. Ada proses yang harus dilalui, mulai dari pengiriman sampel, pengujian kopi, diskusi sampai negosiasi. Apalagi negara-negara Eropa memiliki regulasi yang ketat,” katanya.

Perjuangan Panjang Kenalkan Kopi Kepahiang
Pak Sahid Coffee menilai ekspor perdana ke Italia merupakan hasil kerja bersama para pejuang perkopian Kepahiang. Selama bertahun-tahun, berbagai pihak aktif membawa kopi Kepahiang dalam pameran dan kegiatan perkopian, baik di dalam maupun luar negeri.
Perjuangan tersebut, katanya, membutuhkan waktu, biaya dan konsistensi. Upaya mengenalkan kopi Kepahiang akhirnya membuka peluang bertemu dengan pembeli dari luar negeri.
“Keberhasilan ini bukan pekerjaan perorangan. Ini rangkaian usaha panjang yang dilakukan para pelaku perkopian Kabupaten Kepahiang,” ujarnya.
Ia mengibaratkan keberhasilan tersebut dengan pepatah, “Tidak akan ada lemari kayu yang cantik kalau tidak ada si tukang kampak yang berjuang keras menebang kayu.”
Menurutnya, pepatah tersebut menggambarkan bahwa sebuah keberhasilan merupakan hasil dari rangkaian kerja yang saling berkaitan.
Ia juga mengapresiasi para pelaku perkopian yang telah berkontribusi memperkenalkan kopi Kepahiang, termasuk mereka yang tidak sempat hadir saat pelepasan ekspor perdana.
Dari Tak Banyak Dikenal hingga Masuk Pasar Italia
Pak Sahid Coffee mengungkapkan, beberapa dekade lalu kopi Kepahiang belum banyak dikenal, bahkan di tingkat nasional. Kondisi tersebut juga terjadi terhadap kopi Bengkulu secara umum, meski provinsi tersebut merupakan salah satu daerah penghasil kopi di Indonesia.
Kini, menurutnya, situasi mulai berubah. Berbagai kegiatan promosi dan pameran menjadi sarana memperkenalkan kopi Kepahiang kepada konsumen dan calon pembeli dari berbagai daerah hingga mancanegara.
“Perjuangan panjang para pelaku perkopianlah yang mengenalkan kopi Kabupaten Kepahiang di berbagai kesempatan sehingga kopi Kepahiang dikenal seperti saat ini,” katanya.
Ekspor perdana ke Italia pun diharapkan menjadi momentum untuk meningkatkan motivasi petani dan pelaku usaha kopi di Kepahiang dalam menghasilkan produk dengan mutu yang semakin baik dan memenuhi kebutuhan pasar ekspor.
Menurut Pak Sahid Coffee, keberhasilan menembus pasar Eropa juga perlu diikuti dengan peningkatan kualitas di tingkat petani, termasuk perhatian terhadap proses produksi, mutu dan karakter kopi.
“Ekspor ini adalah berkat kerja keras kita semua, para pelaku dan pejuang perkopian Kabupaten Kepahiang. Mari kita jaga kopi Kepahiang agar tetap menjadi ikon Kabupaten Kepahiang,” ujarnya.
Ia berharap kopi Kepahiang tidak hanya dikenal karena volume produksinya, tetapi juga karena kualitas, mutu serta nilai storynomics yang mengangkat kearifan lokal dan budaya masyarakat.
Dengan demikian, kopi Kepahiang diharapkan memiliki identitas yang semakin kuat di pasar internasional, sekaligus membawa cerita tentang masyarakat dan budaya penghasilnya ke meja konsumen dunia. (uli/irg)
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU