OPINI

Oleh: Khairul Amri*
TAK sabar rasanya saya mau menulis cerita kondisi Riau Pos Kini.
Karena sudah viral kemana-mana. Bukan karena oplah atau pembacanya makin bertambah, tapi justru masalah yang dihadapi Riau Pos Kini, semakin menumpuk.
Tapi, sabar dulu.
Saya mau menceritakan seperti apa Manajemen Riau Pos (dulu), peduli dan sangat perhatian terhadap peningkatan kualitas SDM atau karyawannya.
Tujuan dari tulisan ini, agar bisa memberi pemahaman yang jelas kepada pembaca, tentang fakta (dulu).
Termasuk untuk membuka mata orang-orang yang sekarang memimpin Riau Pos Group. Jangan asal saja kalau bercakap kemana-mana. Banyak bercakap, nanti banyak bohongnya.
Sekali (lagi), ini cerita waktu dulu.
Versi saya, begini ceritanya.
Seingat saya, kesempatan pertama belajar dan menambah wawasan, ketika saya diberangkatkan bersama tim Riau Pos ke Jawa Pos di Surabaya, awal tahun 2009.
Kami ditugaskan berempat, 2 orang tim redaksi dan 2 orang tim perwajahan. Sepulang dari Surabaya, saya dapat tugas menjadi penanggung jawab rubrikasi Xpresi.
Tak sampai disitu. Pada 2012 saya diberi kesempatan ikut Uji Kompetensi Wartawan (UKW) di Jakarta bersama beberapa orang dari Riau Pos. Waktu itu, kami semua langsung dapat menyandang prediket UKW Utama.
Dan, sebagian rekan kantor yang ikut UKW ini, sekarang masih ada beberapa orang yang bertahan di Riau Pos. Sudah punya jabatan. Saya menduga: mereka satu gerbong dengan pimpinan yang sekarang. Mungkin itu pula yang menyebabkan mereka masih bertahan.
Masih pada tahun yang sama, saya juga dapat penugasan mengikuti kursus kuangan: Pelatihan Financial Management for Non Financial Manager (FINON), di Malang.
Seingat saya, FINON ini adalah persyaratan wajib bagi calon manager di lingkungan Riau Pos Group. Gagasan dan idenya langsung dari pak Dahlan Iskan, bos Jawa Pos Group ketika itu.
Bahkan, di awal-awal menjalankan amanah sebagai Wakil GM di Pekanbaru Pos Group, pada 2016, saya diikutsertakan bersama Bang Zulmansyah Sekedang — sudah almarhum, ikut berkeliling meninjau pengelolaan koran dan iklan di Manado dan Gorontalo.
Waktu itu pula saya dikenalkan dengan pak Suhendro Boroma. Beliau waktu itu, adalah bos koran Manado Pos — Jawa Pos Group.
Jadi, tak disangka pula pak Suhendro Boroma ditugaskan menjadi pimpinan di Riau Pos Group. Seingat saya, beliau mulai bertugas pada pertengahan 2017.
Cuma, pak Suhendro Boroma tak datang sendiri. Jawa Pos menugaskan pak Suhendro dan 2 orang lagi dari Kaltim Pos — juga Jawa Pos Group, menjadi pimpinan baru di Riau Pos Group.
Dalam hati saya berucap, waktu itu: rupanya, kabar yang berhembus sebelumnya ternyata benar-benar terjadi.
Nah, untuk diketahui, bahwa penugasan-penugasan, pendidikan dan menambah wawasan, sampai belajar jauh ke Indonesia Timur sana, itu semua dibiayai kantor. Dibiayai oleh Riau Pos.
Begitulah gambaran jelas, sedikit cerita versi saya, betapa jayanya koran Riau Pos (dulu).
Lalu, tak jelas dan kurang tersistem seperti apa juga lagi Manajemen Riau Pos, ketika itu, dalam menjalankan perusahaan.
Menurut saya, kalau ada sekarang yang menjadi pimpinan di Riau Pos Group mengatakan, bahwa semua serba tak jelas. Usaha Riau Pos semakin buruk/menurun, dan masalah semakin menumpuk, akibat apa itu? Jawab sajalah sendiri.
Jadi, jelas bahwa mereka tak memahami secara menyeluruh. Sudahlah tak paham, malah merasa paling tahu semuanya. Ada-ada saja.
Ya, cerita-cerita saya di atas tadi, semua itu terjadi di masa-masa Riau Pos dulu.
Riau Pos Kini?
Kita lanjut di tulisan berikutnya, ya. ** (bersambung)
*) Khairul Amri, adalah eks karyawan Riau Pos Group yang sedang berjuang menuntut haknya. Pernah bekerja di Riau Pos selama 20 tahun.
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU