Senin , 5 Oktober 2026

Tiga (tak) Serangkai [7]

OPINI

Oleh: Khairul Amri*

BAGI yang menyukai sejarah, tentu masih ingat kisah perjuangan menjelang kemerdekaan Indonesia. Ada tiga tokoh yang sangat dikenal ketika itu. Mereka kemudian tercatat sebagai bagian penting dalam sejarah pergerakan nasional dan dikenal dengan sebutan “Tiga Serangkai”.

“Tiga Serangkai” dalam sejarah pergerakan nasional menuju kemerdekaan Indonesia merujuk kepada tiga tokoh pelopor nasionalisme yang mendirikan Indische Partij, salah satu organisasi politik penting pada masa pergerakan.

Ketiga tokoh tersebut adalah:

Pertama, Ernest Douwes Dekker (Danudirja Setiabudi), tokoh keturunan Belanda-Indonesia yang kritis terhadap pemerintahan kolonial dan salah satu penggagas berdirinya Indische Partij.

Kedua, Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, tokoh pergerakan yang dikenal kritis dan tegas dalam menyuarakan perlawanan terhadap kebijakan kolonial Belanda.

Ketiga, Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara), tokoh wartawan dan aktivis yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ia antara lain dikenal melalui tulisan kritiknya, Als ik een Nederlander was atau “Seandainya Aku Seorang Belanda”.

Mereka di Riau Pos Group

Kini, kita mengenal pula tiga nama yang dikirim manajemen Jawa Pos ke Riau Pos Group. Mereka disebut mendapat tugas untuk membantu memperbaiki kondisi perusahaan media tersebut, terutama dari sisi pendapatan dan keuangan.

Mari kita sebut kembali nama mereka: Suhendro Boroma, Ahmad Dardiri, dan Hendro Kusbianto.

Dalam pandangan saya, perjalanan ketiga orang ini menjadi bagian penting untuk melihat bagaimana kondisi Riau Pos Group berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Mereka datang dengan tugas memperbaiki kondisi perusahaan. Namun, berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya, persoalan yang dihadapi perusahaan justru semakin kompleks.

Pada 2018, saya mendapat kepercayaan menjadi Direktur PT Pekanbarupos Intergrafika Pers, perusahaan yang menaungi koran Pekanbaru Pos.

Di bawahnya terdapat beberapa koran daerah, antara lain Posmetro Mandau, Posmetro Indragiri, dan Posmetro Rohil. Salah satu dari tiga koran daerah tersebut resmi tidak lagi terbit pada 2019, sementara dua lainnya masih terbit.

Ketika dipercaya menjadi direktur, saya merasakan sendiri betapa beratnya kondisi keuangan perusahaan. Seingat saya, akhir 2018 merupakan salah satu periode paling sulit yang saya hadapi.

Apakah ada bantuan dari Riau Pos sebagai perusahaan induk? Dalam pengalaman saya, bantuan tersebut tidak saya rasakan.

Saya memahami kondisi Riau Pos juga tidak mudah. Karena itu, saya berusaha menjalankan amanah yang diberikan perusahaan dalam kondisi yang serba terbatas.

Jika saya hitung, pada Desember 2018, sudah sekitar 1,5 tahun “Tiga Serangkai” tersebut menjalankan tugas di Riau Pos Group. Namun, berdasarkan yang saya lihat, kondisi perusahaan belum menunjukkan perbaikan yang berarti dan justru semakin tidak menentu.

Pinjaman Ditolak

Salah satu indikator yang saya rasakan mengenai beratnya kondisi perusahaan adalah pengalaman pribadi yang hingga kini tidak pernah saya lupakan.

Peristiwa itu terjadi menjelang pandemi Covid-19. Tepatnya pada akhir 2019 hingga awal 2020. Saat itu, saya sudah hampir dua tahun menjadi Direktur Pekanbaru Pos Group.

Di tengah kondisi tersebut, alhamdulillah, saya mendapat rezeki untuk merencanakan ibadah umrah bersama keluarga.

Awalnya, hanya saya yang berencana berangkat. Kemudian, dengan izin Allah SWT dan rezeki yang ada, istri saya juga mendaftar. Tinggal anak kami yang belum terdaftar karena masih membutuhkan tambahan biaya sekitar Rp20 juta.

Saat itulah saya mengajukan pinjaman kepada CEO Riau Pos Group ketika itu, Suhendro Boroma.

Namun, beberapa kali saya mengajukan permohonan, jawaban yang saya terima pada dasarnya sama: perusahaan sedang tidak memiliki dana dan dalam kondisi sulit.

Saya terus berdoa agar dimudahkan untuk berangkat ke Baitullah. Namun, hingga mendekati keberangkatan, bantuan yang saya harapkan dari perusahaan tidak kunjung terealisasi.

Terus terang, saya merasa sangat sedih ketika itu.

Di satu sisi, saya tetap berusaha menjalankan amanah sebagai direktur dengan sebaik-baiknya dalam kondisi perusahaan yang sulit. Di sisi lain, permohonan pinjaman sekitar Rp20 juta untuk melengkapi biaya keberangkatan anak saya ke Tanah Suci tidak dapat dipenuhi.

Dalam hati saya sempat berpikir, saya hanya meminta pinjaman. Jika dapat dibantu, tentu akan saya kembalikan. Apalagi tujuan saya adalah beribadah.

Namun, saya akhirnya menerima keadaan tersebut.

Karena tekad untuk berangkat bersama keluarga sudah bulat, saya memutuskan menjual mobil. Dari hasil penjualan mobil itulah, alhamdulillah, saya dan keluarga akhirnya dapat berangkat ke Tanah Suci.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu peristiwa yang sampai sekarang masih saya ingat.

Tiga (tak) Serangkai

Memasuki masa pandemi Covid-19, kondisi bisnis media semakin berat. Riau Pos Group yang sebelumnya sudah menghadapi persoalan keuangan juga ikut terdampak situasi ekonomi yang terjadi secara luas.

Pada periode itu, saya mulai melihat perubahan dalam formasi manajemen yang sebelumnya dikenal sebagai “Tiga Serangkai”.

Dalam sejumlah rapat evaluasi bulanan, triwulanan, semesteran, maupun tahunan, CEO Suhendro Boroma masih memimpin rapat. Namun, dalam keseharian, berdasarkan pengamatan saya, hanya Ahmad Dardiri dan Hendro Kusbianto yang lebih sering berada di Pekanbaru.

Suhendro Boroma semakin jarang terlihat di kantor Riau Pos Group.

Kemudian, setelah saya tidak lagi menjabat sebagai Direktur PT Pekanbarupos Intergrafika Pers sejak Mei 2021, posisi CEO Riau Pos Group, seingat saya, telah beralih kepada Ahmad Dardiri.

Dengan demikian, tiga orang yang sebelumnya ditugaskan oleh Jawa Pos ke Riau Pos Group tersebut praktis tinggal dua orang yang lebih banyak menjalankan aktivitas manajemen di Pekanbaru.

Ketika itu, saya mulai menduga bahwa kondisi tersebut mungkin berkaitan dengan beratnya persoalan yang dihadapi perusahaan. Hampir lima tahun mereka mendapat kepercayaan untuk melakukan pembenahan, tetapi menurut pengamatan saya, kondisi Riau Pos Group belum menunjukkan perubahan seperti yang diharapkan.

Dari tiga orang, kemudian tinggal dua nama yang lebih sering terlihat dalam aktivitas manajemen Riau Pos Group, yakni Ahmad Dardiri dan Hendro Kusbianto.

Riau Pos Kini: berada di tangan mereka berdua. Dan, dari apa yang saya lihat serta rasakan, perjalanan perusahaan justru semakin membuat hati miris. ** (bersambung)

*) Khairul Amri, adalah eks karyawan Riau Pos Group yang sedang berjuang menuntut haknya. Pernah bekerja di Riau Pos selama 20 tahun. 

Check Also

Kelompok Cipayung Plus Taja Konsultasi Publik Terkait Kelanjutan Pengelolaan STC, Pemko Cari “Win-Win Solution”

Sekdako Pekanbaru Zulhelmi Arifin saat tampil menyampaikan gambaran terkait pengelolaan STC yang perlu solusi terbaik. …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *