OPINI

Oleh: Khairul Amri*
BAGI pembaca yang baru membaca tulisan ke-6 ini, saya sampaikan ulang: bahwa ini adalah Opini saya berbentuk rangkaian cerita versi saya pribadi. Karena saya pernah bekerja selama 20 tahun di bawah atap Riau Pos Group (RPG) untuk menghidupi keluarga saya.
Menjelaskan seperti apa kondisi Riau Pos Kini, dalam tulisan sebelumnya sudah bisa disimpulkan bahwa Riau Pos dulu, harus diingat: dulu, sangat jaya.
Bendera RPG berkibar di 5 provinsi, yakni Aceh, Sumut, Sumbar, Riau dan Kepulauan Riau. Induknya Riau Pos, berada di Divisi Regional (Divre) Pekanvaru.
Nah, seperti apa pula sekarang?
Ini kelanjutan ceritanya.
Cerita Riau Pos Kini, saya awali di tahun 2017. Ketika itu, saya tidak lagi berada di dalam Manajemen Riau Pos, sebagai induk dari RPG. Artinya, setelah sekitar 14 tahun, saya dipindahtugaskan ke perusahaan lain.
Pada 2017, posisi saya dipercaya sebagai General Manager (GM) Pekanbaru Pos, yang dijalankan oleh PT. Pekanbarupos Intergrafika Pers. Perusahaan ini, pun merupakan anak dari Riau Pos. Sebab pemegang saham terbesar Pekanbaru Pos adalah Riau Pos itu sendiri.
Begini, cerita di tahun 2017.
Awal 2017, kondisi usaha media secara umum: bukan saja di Riau, tapi di Indonesia bahkan dunia, turun drastis. Terutama bisnis media cetak (news paper).
Kondisi ini, sebenarnya sudah terasa sejak 2008-2009. Dan, semakin terasa pada 2012 hingga makin berat pada 2017.
Itu pulalah, mungkin, yang membuat Manajemen Jawa Pos Group sebagai pemegang saham terbesar Riau Pos menjadi gundah dan gusar. Keuntungan Riau Pos terus turun. Kondisi keuangannya semakin memburuk. Maka, mereka kirimlah tim berjumlah tiga orang: Suhendro Boroma, Ahmad Dardiri dan Kusbianto.
Seingat saya, Jawa Pos juga mengirimkan orang ke Batam Pos di Kepri. Karena Batam Pos, pun anak dari Riau Pos. Tapi, sepengetahuan saya, tetap saja tidak berdampak signifikan.
Nah, pada masa-masa penuh masalah dan sengkarut di perusahaan itu pulalah, saya dapat amanah jadi pimpinan di Pekanbaru Pos. Ya, namanya karyawan, tak boleh menolak tugas: gas terus, selagi bisa di gas. Optimis!
Juni atau Juli 2017, tiga orang dari Jawa Pos tadi, mulailah secara resmi menjadi pemegang pucuk pimpinan Riau Pos Group.
Rapat Bulanan
Setiap bulan, kami dari Pekanbaru Pos diajak rapat keuangan.
Semua anak-anak perusahaan se RPG, khususnya Divre Pekanbaru, pun ikut rapat. Sedangkan RPG Divre lain, rapat di daerah operasinya pula. Ketiga orang pimpinan baru tadilah yang berkeliling ke 4 provinsi lagi.
Gaya kepemimpinan CEO RPG yang baru Suhendro Boroma, di awal-awal menjabat, menurut saya cukup meyakinkan. Karena dia berlatar belakang redaksi. Lebih paham kondisi lapangan. Apalagi sebagai orang baru, dia nampak sekali banyak melakukan penyesuaian.
Seperti akan ada harapan. RPG bisa bangkit lagi, walau harap-harap cemas. Karena setiap rapat keuangan, selalu saja yang dibahas Riau Pos merugi. Anak-anak perusahaan pun hampir bernasib sama.
Sebagai GM Pekanbaru Pos, saya tidak terlalu detil dan paham kondisi Riau Pos dari dalam. Namun, dari gambaran rapat-rapat bulanan tadi, Riau Pos ketika itu memang sedang terseok-seok.
Tapi CEO Suhendro Boroma terus saja menebar optimisme. Termasuk ke saya, beliau selalu diskusi dan berharap agar Pekanbaru Pos bisa membaik dan keluar dari kesulitan.
Seperti apa cerita selanjutnya?
Nasibmu, Riau Pos Kini. ** (bersambung)
*) Khairul Amri, adalah eks karyawan Riau Pos Group yang sedang berjuang menuntut haknya. Pernah bekerja di Riau Pos selama 20 tahun.
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU