Serasa Dilayani “Robot”

Sarapan di Morning Bakery Batam.
Oleh: Khairul Amri*
JALAN pagi (joging) di Batam, mengasikkan.
Udara di sini mash relatif bersih. Ada asap, tapi tak separah di Pekanbaru.
Jalan pagi, 3 km dan siap-siap untuk ‘olahraga perut’ alias sarapan.
Tempat yang selalu direkomendasikan, jika bepergian ke Batam: sarapan di Morning Bakery.
Tak sah, kalau sudah ke Batam, tapi tak singgah sarapan atau sekedar ngopi di tempat viral ini.
Saya dan teman memilih tempat yang tak jauh dari tempat joging: Morning Bakery Greenland.
Seperti MB yang lain, bangunannya juga 2 lantai. Tapi, teman sudah pilih tempat duluan di lantai bawah. Ya, akhirnya duduk berdua di lantai 1 MB Greenland.
Serasa Dilayani ‘Robot’
Di MB ini, kita tak akan dilayani oleh siapa pun. Lihat kiri, lihat kanan, kita hanya dicuekin. Seperti tak ada orang saja suduk di meja, dan mau sarapan.
Saya teriak-teriak.
Tapi percuma, bro. Pelayan cuma lihat-lihat, sambil sesekali aenyum. Itu pun kalau kita senyum duluan, hehe.
Teman saya, karena sudah duluan tiba, eh sudah mulai saja makan nasi goreng. Hmmm, lahap.
Tapi, minumannya belum ada. Sedang saya, masih teriak-teriak, dan tidak dilayani.
Perut tak tahan lagi.
Akhirnya saya berdiri. Mendatangi pelayan yang duduk dekat stall mie lendir.
“Saya pesan mie lendir 1 piring,” kata saya.
Untunglah pelayannya ini ramah.
“Ya, nanti dipesankan. Yang punya lagi antar makanan ke lantai atas,” sahut pelayan.
Tak lama berselang, mie lendir pun datang. Tapi, air minum — sekedar 1 gelas air putih hangat, belum juga sampai di meja kami.
Lalu, teman saya berujar.
“Scan barcode, ini,” kata dia, sambil menunjuk ke sudut meja.
Setelah saya scan, muncul aplikasi berisi menu makanan dan minuman.
Saya pura-pura gaptek (gagap teknologi) saja. Akhirnya ‘robot’, eh pelayan yang dipanggil mendekat ke meja kami.
Sarapan saya, mie lendir sudah lahap saya makan. Namun, air putih tak datang juga.
“Air putih langsung pesan juga di aplikasi,” ucap pelayan itu.
Dalam hati saya, “mahal betul air putih hangat di Batam, ni.” Hehehe.
Mie lendir dah hampir habis, air minum belum juga datang.
Saya teriak lagi.
“Mana air minunnya? Kan, sudah dibayar. Air minum putih tu aja dulu,” teriak saya sedikit kesal.
“Iya, pak. Ordernya baru masuk,” sahut pelayan, seperti tak berdosa.
Kata saya ke teman, “memang kita di sini serasa dilayan sama robot saja,” kata saya.
Teman saya senyum-senyum tak sedap saja.
Kali ini, dia pula yang teriak.
“Ini, sarapan Abang ni mau habis. Air putih belum datang juga,” teriaknya kesal.
“Iya, pak. Sebentar lagi jalan,” sahut pelayan itu lagi, sambil nyegir.
Akhirnya, pelayan lain datang ke meja. Membawa nampan berisi air pesanan kami.
“Memanglah kalian ni melayani orang seperti robot,” ujar saya kesal.
Pelayan itu diam saja. Seperti tak acuh, lalu pindah melayani meja lain.
Apa iya begini Batam, pak Wali Kota?
Jadi, mikir-mikir kalau mau ke Batam. **
*) Khairul Amri, jurnalis media portal berita online dan cetak inforiau group.
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU