Rabu , 29 September 2021

Wow! Ada Aktor Monopoli Harga TBS di Rengat

RENGAT (Khabarmetro.com) – Dampak tutupnya Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Saling Sawit Sejahtera (PT SSS,) baru-baru ini, telah merugikan perusahaan dan 300 lebih karyawan. Belakangan diketahui, ada oknum pemodal yang menghendaki ditutupnya perusahaan, Jumat (12/3/2021).

”Sejak awal berdirinya PKS ini, ada pihak yang tidak senang, karena merasa tersaingi. Jadi dibuatlah isu soal limbah dan Lingkungan Hidup, dan itu sudah diberitakan banyak media, bahkan hal ini pun sudah bergulir hingga ke Pengadilan karena digugat oleh warga yang bernama Slamet dan David. Namun PT SSS menang dalam upaya hukum banding di PT Pekanbaru,” sebut Zulfendi, selaku ketua Serikat Pekerja Transportasi Darat (SPTD) Kabupaten Inhu.

Dari informasi yang berhasil di himpun oleh awak media ini, termasuk dari tokoh masyarakat Desa Rimpian, Datuk Peli, di Kecamatan Lubuk Batu Jaya Kab Inhu, diketahui sejak berdirinya perusahaan itu ribuan kelurga dari pekerja bongkar muat dan PKS PT SSS telah mengalami perubahan positif terhadap ekonomi dengan signifikan, diperkirakan di warung sekitar PKS itu, ada 25 juta rupiah uang berputar setiap hari.

”Yang tadinya kita prediksi ada dana 25 juta rupiah yang berputar setiap hari di warung-warung masyarakat, kini setelah tutup akibat isu yang sengaja diciptakan itu, semua pada tiarap, untuk beli rokok saja pun sudah tidak sanggup,” terang Datuk Peli, baru-baru ini.

Hasil penelusuran awak media kepada sejumlah daerah yang berdekatan dengan Desa Rimpian kecamatan lubuk batu, khususnya daerah Air molek dan sekitarnya, ditemukan harga TBS di masyarakat sudah menembus harga Rp2.000/Kg, namun di wilayah kabupaten Inhu, khususnya yang meliputi Rengat dan sekitarnya, hingga kini harga masih di kisaran Rp1.800/Kg. Artinya ada selisih sekitar Rp200 atau lebih. Hal ini dikatakan Zulfandi, selaku ketua SPTD Inhu, sangat menciderai masyarakat petani.

,”Disaat harga TBS membaik saat ini, seharusnya petani bisa menikmati hasil kebunnya dengan harga minimal Rp2.000/Kg, dan itu yang dilakukan oleh PT SSS, sehingga mengundang reaksi dari pesaing, karena di sinyalir, ada pengusaha yang sejenis tinggal di Kota Rengat Inhu, yang diduga memonopoli harga TBS selama ini di Inhu,” beber Zulfandi.

Diketahui dari hasil wawancara dengan pihak PT Sanling Sawit Sejahtera, bahwa pihaknya setelah menerima buah masyarakat, langsung membeli harga tinggi, diatas harga yang biasa diberlakukan oleh perusahaan lain pada petani sawit di wilayah tersebut.

”Kami datang Berinvestasi ke Inhu ini sesuai dengan dukungan Pemerintah Daerah Inhu dan seluruh masyarakat, khususnya tempatan, demikian pulak kami sudah mendapatkan perizinan dan semua dokumen penting dari instansi terkait, tujuannya agar dapat meningkatkan ekonomi masyarakat,” sebut IR, selaku pejabat di PT SSS.

IR juga menuturkan, PT SSS benar-benar patuh pada aturan yang ada, sehingga pihaknya menolak semua isu miring yang di alamatkan kepada perusahaannya, namun untuk menjaga hal yang tidak di inginkan perusahaan itu sempat menutup sementara operasionalnya.

,”Dan kami setalah sempat menutup pabrik, sudah kerap di minta seluruh masyarakat dan pemerintah Inhu agar segera mengoperasikan kembali perusahaan ini,” kata IR mengisahkan.

Di sisi lain, Zulfandi, saat di wawancarai oleh awak media ini, menuturkan, mulai sekarang, setelah Pemerintah melalui Bupati dan DPRD, serta DLHK Inhu meminta perusahaan agar secepatnya beroperasi, untuk meredakan gejolak dari karyawan dan masyarakat Desa Rimpian. Sebab diketahui, atas tutupnya Pabrik tersebut beberapa hari ini telah mengundang reaksi serius dari kalangan serikat pekerja akibat kehilangan penghasilan.

,”Saya dan seluruh anggota dari SPTD Kabupaten Inhu, berkomitmen untuk maju paling depan apabila ada tindakan pihak manapun yang ingin menghendaki tutupnya perusahaan. Karena ini soal perut, bukan soal ingin kaya. Perusahaan mungkin tidak masalah kalau ditutup, tetapi karyawan dan masyarakat bisa tidak makan lagi. Jadi kami minta dengan sangat, agar perusahaan PT SSS secepatnya beroperasi,” pinta Zulfendi.

Bahkan kabarnya perusahaan bersama-sama dengan SPTD dan masyarakat Desa Rimpian, akan segera menyelidiki siapa tokoh intelektual dibalik berita-berita miring yang merugikan perusahaan PKS PT SSS. Bahkan disebutkan, akan di cari siapa sosok yang selama ini diduga monopoli harga TBS di wilayah Rengat Inhu, agar nantinya semua terkait isu miring terhadap PKS PT SSS terjawab.

,”Ya benar dan kami juga berharap pihak kepolisian dapat mencermati perihal ini secara bijak, karena sudah jelas, tidak ada satupun indikator yang kami lihat dilakukan PT SSS, sebagaimana diberitakan, justru perusahaan ini sangat patuh, bahkan Pemerintah sangat mendukung, kita juga harus objektif dalam menilai, ini bukan soal bela membela, tetapi yang benar, ya benar, yang salah ya salah,” ujar Zulfandi. (btr)

Check Also

Syamsurizal: Jika tak Berbenah PPP Akan Punah

Rapimwil Jalan, Pelantikan Pengurus DPW PPP Ditunda Pengurus DPW PPP Riau periode 2021-2026 di sela-sela …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *