Minggu , 28 November 2021

Turun ke Sipungguk, Kabid Promosi Wisata, David Hendra Bina Pengelola Sungai Gelombang

David Hendra selaku Kabid Promosi Wisata Kampar berfoto di Jembatan Pelangi yang Instagramable di Desa Sipungguk. Jembatan ini terletak Tidak Jauh dari Sungai Gelombang

 

SALO, (Khabarmetro.com)–  David Hendra, selaku Kepala Bidang Promosi Wisata, Dinas Pariwisata Kabupaten Kampar turun ke Desa Sipungguk, Kecamatan Salo untuk melakukan pembinaan kepada Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan seluruh pihak yang terlibat dalam pengelolaan objek wisata Sungai Gelombang, Jumat (19/2/2021)

Menurut David, Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar melalui Dinas Pariwisata akan tetap melakukan pembinaan agar seluruh Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlibat dalam mengelola Sungai Gelombang semakin meningkatkan kualitas pelayanan kepada setiap pengunjung yang datang.

David juga mengatakan, untuk mencegah terjadi dinamika tidak sehat yang dapat berujung pada salah paham antar pemilik lahan di areal Sungai Gelombang, maka ia menawarkan formulasi dengan skema pembagian hasil bagi setiap orang yang memiliki lahan di sana. Skema pembagian keuntungan menurut David yang paling ideal untuk diterapkan ialah skema bagi hasil berdasarkan persentase lahan yang dimiliki oleh masing-masing orang.

“Misalnya, total lahan keseluruhan areal Sungai Gelombang 10 hektar, bagi yang memiliki lahan 2 hektar, maka bagian dia 20 persen dari seluruh pendapatan. Meskipun lahan parkir dia tidak terisi penuh setiap harinya,” ucap David mencontohkan.

Kabid David Hendra berdialog dengan pengelola objek wisata sungai gelombang Desa Sipungguk, Jumat, 19 Februari 2021 kemarin.

 

Hal ini, kata David juga bertujuan untuk mencegah adanya perebutan pengunjung untuk parkir di lahan parkir masing-masing yang dapat mengusik kenyamaan para pengunjung.

“Kalau pengunjung terkesan kita paksa-paksa parkir di tempat kita, tentu akan dapat mengurangi kenyaman mereka,” kata David.

“Jadi, skema pembagian bagi hasil berdasarkan persentase ini untuk meminimalisir perebutan pengunjung untuk parkir di lahannya masing-masing,” sambung David.

Namun demikian, lanjut David, pihaknya tidak akan serta merta menerapkan konsep itu tanpa terlebih dahulu bermusyawarah dengan pihak Pokdarwis maupun seluruh pihak terkait dalam pengelolaan Sungai Gelombang termasuk tetap akan melibatkan pemerintah desa.

“Karena yang paling utama itu adalah kesepakatan. Jadi apapun keputusan, kalau setelah musyawarah kita sepakat, maka skema ini akan kita terapkan demi perbaikan pelayanan kepada pengunjung,” beber David lagi.

David mengungkap, masih cukup banyak potensi wisata di Desa Sipungguk yang bisa dikembangan menjadi objek wisata layak jual. Bahkan David menjelaskan, seluruh wilayah desa tersebut bisa menjadi objek wisata yang sangat layak untuk dikembangkan.

Bebernya, di sana ada kawasan Congkiong yang bisa menawarkan sensasi bakar ikan dan memancing. Kemudian adalam pulau tak jauh dari Sungai Gelombang yang juga menawarkan nuansa klasik berpadu dengan sentuhan alam berupa sungai dan pohon-pohon kepala yang tinggi. Belum lagi di sana juga ada Jembatan Pelangi yang begitu Instagramable. Dan tentu saja paket wisata di Sipungguk ini akan dilengkapi oleh sajian kuliner khas desa setempat yang bisa pengunjung nikmati. Dll.

Namun, lanjut David, ada syarat yang sangat penting dari semua syarat-syarat lain guna mewujudkan impian itu ke depan. Yang pertama katanya, ialah kesiapan sumber daya manusia di desa setempat agar merubah mindset (pola pikir) untuk menjadi penyambut dan melayani tamu yang baik.

“Untuk mengelola objek wisata itu yang utama itu pelayanan. Kita buat bagaimana pengunjung nyaman berlama-lama berada di tempat kita. Kita buat orang senyaman mungkin berada di sini. Maka kita harus berikan pelayanan terbaik yang kita punya,” ucapnya.

Soal tarif yang dipungut dari pengunjung mulai dari biaya masuk, biaya parkir, biaya makan dan fasilitas penunjang sebut David, harus benar-benar jelas dan tersosialisasikan dengan baik.

David mencontohkan, biaya masuk ke Taman Impian Jaya Ancol di Jakarta, tarif yang ditetapkan bagi setiap pengunjung sebesar Rp150 ribu. Dan itu menurutnya sudah tersosialisasikan dengan baik, sehingga tarif ini jelas dan telah diketahui oleh para pengunjung.

“Soal mahal atau tidak itu kan relatif, tapi yang penting itu, setiap tarif yang dipungut harus sudah tersosialisasikan dengan baik kepada pengunjung. Sehingga tidak ada salah paham. Dengan demikian, pengunjung ketika hendak datang sudah mempersiapkan segala sesuatunya. Termasuk biaya masuk. Dan ini harus sudah tersosialisasikan, semua yang kita pungut dari pengunjung memang harus jelas.” ungkap David. (naz)

Check Also

Pemkab Siak raih peringkat ke 4 Kabupaten terbaik Nasional.

JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Siak, Rabu (24/11/2021), menerima penghargaan sebagai Kabupaten Terbaik ke IV tingkat …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *