Sabtu , 18 September 2021

Tim Pengabdian Unri 2021 Terapkan Teknologi Pembenihan Lele Mutiara di Desa Pangkalan Baru Kampar

Sasar Kelompok Tani Unggul Farm

SIAK HULU (Khabarmetro.com) – Tim Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau (Unri), diketuai oleh Dr Nur Asiah SPi MSi, beranggotakan Dr Ir Henni Syawal MSi, Ir Eni Yulinda MP, Dr Yuliati SPi MSi dan Ir Yetti Elfina S MP, melakukan pengabdian.

Kegiatan di tengah pandemi Covid-19, yang bertajuk “Meningkatkan Produksi Benih Lele Mutiara (Clarias gariepinus) melalui Penerapan Teknologi Pembenihan Ikan ini, menyasar Kelompok Tani Unggul Farm di Desa Pangkalan Baru, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar.

Kegiatan penerapan teknologi pembenihan secara buatan dilakukan sejak 13 Juli 2021 secara Hibrid. Dimana sehari sebelumnya tim pengabdian telah menyampaikan materi penyuluhan tentang Penerapan teknologi Pembenihan secara buatan dan Pemeliharaan Larva ikan di Kantor Desa Pangkalan Baru, Kabupaten Kampar.

Pelaksanaan kegiatan pengabdian ini, berkolabirasi dengan 29 mahasiswa KKN yang ada di desa tersebut.

Kegiatan pembenihan ini diawali dengan melakukan penyeleksian induk ikan lele mutiara. Seleksi induk bertujuan untuk mendapatkan induk jantan dan betina matang gonad dan siap untuk dipijahkan.

Selanjutnya menyuntikkan hormon ovaprim untuk induk betina dilakukan 2 kali penyuntikan dengan total dosis 0,5 ml /kg bb. Penyuntikan pertama dilakukan pada pukul 21.00 WIB dan penyuntikan kedua pada pukul 03.00 WIB, bersamaan dengan penyuntikan Ovaprim untuk induk jantan dosis 0,3 m//kg bb. Penyuntikan dilakukan di punggung atas (intramuscular), dengan sudut penyuntikan 45º.
Enam jam setelah penyuntikan ke dua pukul 09.00 WIB induk betina diangkat dari wadah untuk selanjutnya ditriping/pengurutan agar terlur keluar (Ovulasi) dan sementara itu ikan jantan dibedah untuk koleksi plasma semen.

Setelah itu, dilakukan pencampuran telur dan semen dengan bulu ayam untuk proses fertilisasi/pembuahan. Lalu telur-telur diinkubasi pada wadah yang telah diberi kakaban sebagai wadah menempel telur-telur hingga telur-telur menetas.

Telur menetas sekitar 24 – 36 jam menjadi larva dengan membawa kuning telur sebagai cadangan makan selama tiga hari. Hari keempat larva diberi pakan alami seperti zooplankton (Hewan) berupa Artemia sp.

Disebutkan Nur Asiah, pakan alami yang diberikan pada pemeliharaa larva ikan lele mutiara adalah Artemia sp berupa zooplankton (Hewan) memiliki kelebihan protein tinggi dan mudah dicerna larva mengingat masa larva adalah masa kritis untuk pertumbuhan ikan. Artemia sp di kultur dalam wadah kultur seperti galon lalu dilengkapi selang aerasi. Wadah kultur beisi air 10 liter dan garam sebanyak 250 gr dan kemudian diaerasi kuat.

Selanjutnya dimasukan cyste Artemia sp sebanyak 3 gram dan dibiarkan selama 24 jam sampai artemia yang dikultur menetas.
Cyste akan menetas secara sempurna dan siap untuk dipanen sekitar 24-28 jam. Panen dilakukan dengan cara mengangkat selang aerasi lalu diamkan selama 10 menit.

“Cangkang artemia akan mengapung dan Naupli artemia akan mengendap di dasar wadah penetasan. Lalu artemia disaring dan dibilas dengan air tawar bersih. Naupli artemia siap diberikan ke larva ikan lele setiap 4 jam sekali hingga larva berumur 10 hari. Lalu dilanjutkan dengan pemberian tubifex sp, pellet udang hingga larva berumur satu bulan. Benih ikan lele siap dipanen,” jelasnya.

Kegiatan ini ditujukan untuk masyarakat Desa pangkalan Baru dan terkhusu untuk Mitra kelompok Tani Unggul Farm, sehingga dengan pelaksanaan kegiatan ini ada transfer ilmu dari perguruan tinggi untuk masyarakat dalam rangka meningkatkan hasil produksi benih ikan lele Mutiara pada kelompok Tani Unggul Farm.(km1)

Check Also

Pemkab Inhu Permudah  Transaksi Melalui Aplikasi “Bela Pengadaan”

Bupati : Pemerintah Perlu Memberikan Kesempatan Pada Pelaku Usaha Mikro Kecil    INHU (Khabarmetro.com)– Untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *