Rabu , 8 Februari 2023

Repol, Di Mata Teman Satu Sekolah

Sosok Pemimpin yang Dirindukan Masyarakatnya

Khairul Amri (kiri) bersama Repol.

Oleh: Khairul Amri
(Teman Satu Angkatan di MAN 1 Pekanbaru)

SIAPA yang kenal Repol, ketika duduk di MAN 1 Pekanbaru. Saya saja tak kenal dia. Karena jurusan kami beda. Repol di Jurusan A1 (Agama), sedangkan saya di Jurusan A2 (Fisika).

Saya memang tidak aktif di OSIS waktu di MAN 1. Tapi, sempat mau dicalonkan menjadi Ketua OSIS oleh salah seorang guru, namanya Ibu Deli, guru pelajaran Aqidah Akhlak kami. Sementara Repol, saya tak pernah dengar namanya. Prestasi di sekolah waktu itu pun biasa-biasa saja. Tak pernah saya dengar nama Repol dipanggil dapat juara di sekolah kami. Hmmm.

Ya, karena dia Jurusan Agama, makanya dia lanjut ke IAIN (sekarang UIN Suska Riau, red). Sedangkan saya, lebih memilih kuliah di Universitas Riau (Unri). Saya dan Repol, boleh dibilang tak pernah bersua. Atau bisa jadi jumpa di sekolah, tapi tidak terlalu akrab dan saling kenal. Padahal, kami sekampung. Sama-sama berasal dari Kampar. Sama-sama orang Ocu, hehe.

Waktu terus bergulir. Repol tamat di IAIN. Dan, saya pun menyelesaikan kuliah di Unri. Saya selesai tahun 2000. Sedangkan Repol, yang banyak berkiprah di organisasi kampus menjadi seorang aktivis, saya dengar, lebih lama tamat kuliah dibanding saya. Saat kuliah inilah, nama Repol mulai pernah saya dengar.

Yang paling saya ingat, ketika masa-masa bergulirnya ‘Gerakan Reformasi’ tahun 1998. Kami di Unri juga aktif menyuarakan perubahan, rezim orde baru waktu itu. Kawan-kawan di IAIN Susqa pun demikian. Dan, Repol, saya tahu sebagai salah satu motor di dalam pergerakan itu.

Namun, saya tidak pernah menyangka, kalau Repol yang di IAIN itu adalah teman saya satu sekolah dan satu angkatan di MAN 1 Pekanbaru. Eh, rupa-rupanya kawan sendiri, sudah jadi aktivis dan namanya mulai terkenal saat di kampus IAIN. Repol sangat aktif di pergerakan mahasiswa. Ia sangat vokal, dan malah sempat bergabung dengan Himpunan mahasiswa Islam (HmI), untuk semakin menggelorakan suara dan tuntutan mahasiswa.

Meski begitu, kami tidak pernah berjumpa, saat kuliah.

Setamat kuliah, masing-masing berproses di jalurnya. Saya mengambil jalur sesuai hobi, yang akhirnya berubah jadi profesi. Sedangkan Repol, sejak tamat, dia lebih memilih aktif di partai politik. Jadi, di antara tahun 2001-2004, kami sudah sama-sama masuk ke dunia nyata alias belajar bekerja.

Nah, karena keseriusannya berkecimpung di dunia politik, akhirnya pada Pemilu Legislatif 2004 Repol terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Kampar dari Partai Golongan Karya (Golkar). Sedangkan saya, pada 2004 itu masih berstatus sebagai reporter tetap di Harian Riau Pos (Jawa Pos Group, salah satu grup media cetak terbesar di Indonesia).

Waktu terus berjalan. Hari berganti, bulan dan tahun pun terus bergulir. Repol sudah jadi wakil rakyat. Sedangkan saya, sudah pula sibuk hari-hari mewawancarai rakyat. Profesi kami sama-sama selalu dekat dengan rakyat, hehe. Bedanya, satu di parlemen dan satu lagi di ‘dapur’ radaksi.

Terpilih jadi anggota DPRD Kabupaten Kampar, di periode pertama 2004-2009. Berlanjut dipercaya rakyat lagi ke periode kedua, tahun 2009-2014. Makin eksis, Repol tetap dapat kepercayaan rakyat di periode ketiga, tahun 2014-2019. Itu artinya, Repol sudah 15 tahun, ketika itu duduk di DPRD Kampar.

Saat tahun-tahun ini, saya dan Repol mulai dekat. Beberapa kali kegiatan alumni MAN 1 Pekanbaru, kami jumpa. Bahkan Repol, walau sibuk di DPRD, masih bersedia masuk di jajaran kepengurusan Ikatan Keluarga Besar Alumni (IKBA) MAN 1 Pekanbaru. Walau dengan sedikit ‘memaksa’, saya akhirnya bisa membujuknya untuk ikut andil di IKBA MAN 1 Pekanbaru.

Tahun 2019, Repol sudah tiga periode di dewan. Sementara saya, saat itu, sudah pula berada di posisi puncak di perusahaan media. Saya dipercaya jadi Direktur Pekanbaru Pos (anak perusahaan Riau Pos). Ya, ternyata, selama 15 tahun berkarir di profesi masing-masing, alhamdulilah jalan kami sama dimudahkan oleh-Nya untuk sampai ke puncak karir. Komunikasi kami pun makin intens.

Saat saya memutuskan untuk keluar alias resign dari Riau Pos Group, pada akhir 2021, Repol sempat bertanya; kenapa bisa keluar dari Riau Pos. Waktu itu saya jawab; sudah 20 tahun pula jadi ‘kuli’. Sekarang mau coba pula, apa rasanya jadi pengusaha media. Mendengar itu, Repol tertawa, tapi dia tetap mendukung keputusan saya itu.

Repol pun masih terus dipercaya oleh rakyat. Periode ini, tahun 2019-2024 kembali untuk keempat kalinya Repol diberi kepercayaan sebagai wakil rakyat di DPRD Kampar. Itu artinya, sampai akhir periode nanti, sudah 20 tahun juga lamanya Repol tak lagi menjadi rakyat, melainkan menjadi wakilnya, hehe. Turun sedikit status dari rakyat menjadi wakilnya rakyat, tapi di lembaga terhormat DPRD Kabupaten Kampar.

Repol di tengah-tengah anak muda, pengurus dan anggota Angkatan Muda Satkar Ulama Indonesia (AMSI) Kampar.

 

Low Profile dan Tidak Neko-neko

Sekarang, Repol dipercaya pula jadi Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Kampar. Sebagai partai yang meraup suara besar, Repol pun menjadi wakil ketua DPRD Kampar. Kalau bicara politik, sudahlah, sudah menjadi makanan dia hari-hari.

Bahasa Repol ke saya, beberapa waktu kami sempat dusun ngopi, justru waktu saya di politik ini lebih banyak pula agaknya dibanding dari waktu saya untuk keluarga. Kalau sudah bicara itu, Repol selalu tertawa lepas. Dia bisa tertawa lepas kalau kami sudah duduk santai, sambil mengulang² dan mengingat² cerita lama, masa-masa sekolah dulu. Mana ada pernah sempat terpikir akan jadi seperti sekarang ini. Itulah kehendakNya. Kita hanya menjalankan saja.

Kok bisa Repol dipercaya oleh rakyat sampai 4 periode di DPRD Kampar? Saya coba berpikir sendiri dan melihat dari gelagat Repol keseharian. Dua hal yang dapat saya simpulkan dari Repol. Pertama, dia ini punya pribadi yang low profile alias mudah bergaul dengan semua kalangan. Lalu kedua, Repol ini sosok wakil rakyat yang tidak suka neko-neko alias lebih senang berjalan sesuai aturan. Kalau pun ada aturan yang ditabraknya, Repol akan cepat kembali ke pangkal jalan untuk mengubah dan memperbaikinya. Dengan begitu tidak akan menimbulkan masalah, baik bagi dirinya sendiri, partai politiknya, maupun keluarga dia.

Kebiasaan lain yang saya suka dari Repol, adalah dia tidak suka umbar janji. Walau seorang politisi, tapi dia lebih suka berjanji untuk ditepati, bukan berjanji untuk diingkari. Bahkan kalau mau berjanji, Repol selalu menolaknya dengan sangat sopan; Saya tak janji, ya. InshaaAllah, kalau sempat saya akan ke sana, atau saya akan ikut atau hadir. Sehingga orang pun tidak marah pada dia. Orang pun jadi paham dengan sikap seperti itu.

Repol pun tidak suka meninggi. Walau sedang anggota DPRD, dia tetap tampil apa adanya. Walau sudah wakil ketua DPRD, dia pun tak berubah. Walau sudah jadi ketua partai, Repol yang saya kenal dulu, ya sama seperti Repol yang sekarang.

Di setiap kesempatan luang, Repol tak segan mengundang kawan² satu sekolahnya dulu ke kediaman/rumah dinas. Di sana kami dijamu oleh Repol dan keluarganya. Sebagai teman, dan juga jurnalis senior, saya merasakan sosok pemimpin rakyat seperti Repol inilah ke depan yang dirindukan rakyatnya.

Dia tak segan buat turun langsung bertukang. Dorong gerobak. Ikut mengecor atau bahkan turun ke lumpur sekalipun. Repol tetap tampil jadi pribadinya sendiri. Selama 20 tahun jadi anggota DPRD, Alhamdulillah semuanya bagi dia hal biasa. Tidak ada persoalan apalagi masalah besar yang melilit Repol. Dia tampil dimana-mana, selalu banyak yang menyambut. Ucapannya selalu didengar. Dan, bantuannya selalu dinanti oleh konstituennya.

Itulah sosok Repol di mata saya, seorang temannya yang pernah dulu sama² satu sekolah. Saya doakan selalu yang terbaik buat ‘konco’ terbaik. Tetaplah jadi Repol yang pernah saya kenal. Walau nanti jadi apapun konco. Hehe.

Salam sehat dan sukses selalu … **

Check Also

Gubri Lepas Delegasi Riau ke Puncak Peringatan HPN di Medan

PEKANBARU (khabarmetro.com) – Gubernur Riau, H Syamsuar melepas Delegasi Riau ke puncak peringatan ke-77 Hari …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.