Minggu , 17 Oktober 2021

Rekonstruksi Pembelajaran Biologi Abad 21: Berkreasi dengan Kehidupan Nyata

Oleh : Ibnu Hajar
Universitas Negeri Padang

Artikel

Ilmu pengetahuan dan teknologi terasa cepat perkembangannya pada era industri 4.0. Perkembangan tersebut membawa dampak atau perubahan dalam tantanan kehidupan. Perubahan tersebut juga terjadi di Perguruan Tinggi (PT). Meskipun terjadi perubahan yang cepat, PT. mesti menjaga peran dan fungsinya yaitu “menjaga nilai-nilai luhur, pemandu perubahan peradaban, sarana untuk memahami tantangan, pembuka kesempatan, dan alat untuk menunaikan tanggung jawab, serta memberikan solusi terhadap tuntutan kedepan”.

Untuk dapat menjalankan peran dan fungsinya, konsekuensinya penyelenggaraan PT. pada masa ini harus mengikuti Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI) tahun 2020. Karena SN-DIKTI bertujuan untuk menjamin tercapainya tujuan Pendidikan Tinggi yang berperan strategis dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia yang berkelanjutan. Menjamin agar pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi di seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia mencapai mutu sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.

Penyelenggara pendidikan harus dapat menghadirkan pendidikan yang efektif, berkualitas. Upaya tersebut seperti penyempurnaan kurikulum, peningkatan sumber daya tenaga pendidik & kependidikan, peningkatan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, sebagai wujud reformasi pendidikan.

Bagaimana pembelajaran di PT. agar dapat diterima pengguna? PT. harus melahirkan lulusan yang mempunyai keterampilan yang dibutuhkan pada abad ini yaitu abad ke 21. Pembelajaran harus memasukkan domain belajar untuk mempersiapkan keterampilan abad 21 bagi peserta didik, domain pembelajaran harus merubah 1) cara berpikir: kreatif dan inovatif, berpikir kritis,pemecahan masalah, membuat keputusan dan pembelajaran, 2) cara bekerja sama: komunikasi dan kolaborasi, 3) menggunakan alat untuk bekerja: teknologi informasi dan komunikasi, literasi, dan 4) keterampilan hidup: kewarganegaraan, hidup dan karir, tanggung jawab pribadi dan sosial.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI yakni Nadiem Anuar Makarim menindaklanjuti arahan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan Wakil Presiden Republik Indonesia Ma’ruf Amin tentang peningkatan kualitas sumber daya manusia. Dalam Webinar di Jakarta pada hari Selasa (5/5/2020) menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan beliau telah mencanangkan reformasi sistem pendidikan Indonesia melalui kebijakan Merdeka Belajar.

“Kebijakan Merdeka Belajar memberi kemerdekaan setiap unit pendidikan berinovasi. Konsep ini harus menyesuaikan kondisi di mana proses belajar mengajar berjalan, baik sisi budaya, kearifan lokal, sosio-ekonomi maupun infrastruktur.”

Menurut Nadiem Anuar Makarim kurikulum yang mudah dipahami dan lebih fleksibel juga menjadi salah satu hal yang diperlukan untuk mendukung implementasi Merdeka Belajar. Kurikulum yang dapat mendorong para guru agar dapat memilih materi atau metode pembelajaran dengan kualitas tinggi, tetapi sesuai tingkat kompetensi, minat, dan bakat masing-masing peserta didik. “Esensi Merdeka Belajar adalah menggali potensi terbesar para pendidik dan peserta didik untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran secara mandiri. Mandiri bukan hanya mengikuti proses birokrasi pendidikan, tetapi benar-benar inovasi pendidikan,” tegas Mendikbud.

Pembelajaran Biologi selama ini cenderung didominasi belajar terori, praktikum, namun sulit menemukan hubungan dengan realitas kehidupan, pendidik di kelas lebih melihat kepada penguasaan konsep termasuk standar keberhasilan didasarkan kepada kemampuan penguasaan konsep, karena itu pembelajaran harus direnovasi dan dikreasikan, karena itu perlu model yang dapat menghubungkan atau relevan dengan kehidupan. Menurut Suwono Dekan FMIPA Universitas Negeri Malang dalam seminar Guru Besar di Universitas Islam Riau tahun 2020 bahwa tantangan yang besar bagi pendidik Biologi yaitu menyelaraskan biologi dengan kebutuhan para pelajar abad 21, yaitu merubah pembelajaran Biologi masa kini: isu, aktivitas, profesi, relevan dengan situasi sehari-hari dari konsep pembelajaran Biologi masa lalu.

Harus disadari dan digarisbawahi bahwa rekonstruksi pembelajaran yang dirancang harus terintegrasi dengan kurikulum. Salah satu mata kuliah yang direkontruksi pembelajarannya yaitu mata kuliah Tanaman Obat. Tanaman Obat merupakan mata kuliah yang materinya bersifat kontekstual, diperlukan secara luas dalam masyarakat, didukung potensi sumber daya alam Indonesia yang sungguh luar bisa yaitu sebanyak 40 ribu jenis flora yang tumbuh di dunia, 30 ribu tumbuh di Indonesia. Baru 26% dibudidayakan dan sisanya sekitar 74% masih tumbuh liar di hutan-hutan.
Hutan tropis Indonesia yang sangat luas beserta keaneragaman hayati yang ada didalamnya merupakan sumber daya alam yang tak ternilai harganya. Indonesia dikenal sebagai gudang tumbuhan obat (herbal) sehingga mendapat julukan live laboratory . Kemudian tren penggunaan herbal yang tinggi. “Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO) penggunaan obat-obat tradisional di berbagai negara di belahan dunia mulai membaik, hingga kini 80 persen masyarakat menggunakan obat herbal,”

Untuk dapat memanfaatkan potensi tersebut perlu usaha yang terencana dan terprogram melalui melalui program pembelajaran. Karena itu perlu ditatapkan capaian pembelajaran, yaitu setelah perkuliahan Tanaman Obat mahasiswa mampu merancang jamu saintifik, serta mengkomunikasikannya dengan sikap bertanggungjawab. Capaian pembelajaran ini berhubungan dengan model pembelajaran, karena model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau tutorial untuk menentukan perangkat-perangkat pembelajaran termasuk didalamnya ada buku-buku, film, computer, kurikulum.

Model pembelajaran yang diterapkan hendaknya menumbuhkembangkan kemampuan pada peserta didik. Fungsi model pembelajaran tidak hanya untuk mengubah perilaku peserta didik sesuai dengan yang diharapkan, tetapi juga berfungsi untuk mengembangkan berbagai aspek yang bersangkutan dengan proses pembelajaran. Selain itu model pembelajaran bermanfaat untuk menyusun rencana pendidikan peserta didik, karena memungkinkan kegiatan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Untuk memenuhi tuntutan dalam pembelajaran Biologi di atas maka dilakukan pengembangan model pembelajaran, yaitu pengembangan model PjBL untuk perkuliahan Biologi yang disebut model Biology Interdisciplinery Project Learning disingkat Model BIDPL.

Kerangka dasar pembelajaran model BIDPL menggunakan proyek dari Dewey dan Kilpatrich yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Setelah dikontruksi ulang kerangka model ini menjadi: (1) orientasi, (2) perencanaan, (3) pelaksanaan, (4) tindak lanjut, dan (5) penilaian. Dari kerangka model ini dikembangkan menjadi 6 fase dalam mengajar (sintak) yaitu (1) mengamati (observing), (2) menetapkan ide (establishing ideas), (3) merencanakan kegiatan proyek (planning project activities), (4) kreasi produk (produk creation), (5) komunikasi dan refleksi (communication and reflection), dan (6) penilaian (assessment).

Dalam model BIDPL mahasiswa belajar materi dan belajar kehidupan melalui proyek yang mereka kerjakan. Mulai dari mengeksplorasi permasalahan pada fase observasi, munculnya empati pada fase penetapan ide, menerapkan manajemen proyek pada fase menyusun rencana, membangun tim (Team building) pada fase kreasi produk, belajar public speaking pada fase komunikasi dan refleksi.

Mahasiswa dalam perkuliahan Tanaman Obat harus mampu menguasai dan mengaplikasikan teori, merancang dan diminta tanggungjawab atas pencapaian hasil kerja. Pembelajaran seperti ini dilakukan dalam rangka untuk mencapai standar yang ditetapkan pada level 6 Kerangka Kualiifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yaitu: mampu mengaplikasikan, menguasai konsep teoritis, mampu memformulasikan penyelesaian masalah prosedural, mampu mengambil keputusan, mampu memberikan petunjuk dalam memilih berbagai alternatif solusi secara mandiri dan kelompok, dan bertanggung jawab diberi tanggung jawab atas pencapaian hasil kerja organisasi.

Sudah suatu keharusan bahwa rekonstruksi yang dilakukan perlu dilihat keefektifannya. Melalui serangkaian uji coba (fielt test) yang dilakukan pada mahasiswa program studi pendidikan Biologi Universitas Islam Riau di Pekanbaru, diperoleh hasil bahwa model BIDPL yang dikembangkan dapat memfasilitasi mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas baik dalam kelompok maupun dalam kelas. Hal ini disebabkan karena fase-fase model berperan sebagai kerangka atau peta jalan peningkatan aktivitas belajar. Fase-fase ini mendorong pemikiran aktual untuk beraktivitas. Tidak ada belajar kalau tidak ada aktivitas. Dalam kegiatan belajar, subyek didik atau peserta didik harus aktif berbuat. Dengan kata lain, bahwa dalam belajar sangat diperlukan adanya aktivitas.

Mahasiswa dalam kegiatan belajarnya melalui proyek menciptakan produk berupa jamu saintifik salah satunya ditujukan untuk mengatasi keluhan ibu-ibu seperti mudah capek, asam urat, darah tinggi, dan kolesterol. Model ini juga dapat meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Tanaman Obat. Keberhasilan peserta didik dalam meningkatkan hasil belajar dalam model ini dipengaruhi oleh pembelajaran yang sesuai dengan minat dan perhatian, motivasi dalam belajar. Peningkatan hasil belajar dengan model ini pada level sedang dan tinggi. Sehingga dapat dimpulkan model ini dapat memfasilitasi mahasiswa untuk berkreasi dengan melakukan berbagai aktivitas, menghasilkan produk dan meningkatkan hasil belajar. ***

*** Artikel ini ditulis berdasarkan Disertasi penulis yang berjudul: Pengembangan Model Project Based Learning untuk Perkuliahan Biologi, untuk menyelesaikan Program S3 pada Program Studi Ilmu Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang, dengan TIM Promotor Prof. Dr. Lufri, M.S dan Prof. Dr. Ahmad Fauzan, M.Pd., M.Sc

Check Also

Ahmad Doli Kurnia Ucapkan Terima kasih ke DPD Partai Golkar Kampar

Hadir Bersama Ketua DPD PG Riau, Sempena Sambut HUT Ke-57 Waketum DPP Partai Golkar Ahmad …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *