Minggu , 17 Oktober 2021

Nostalgia Kampus Purnama, Menjemput Berkah Tol Permai (bagian -3)

Hutan Bakau Menghijau, di Sana Bangkai Senangin Tersadai

 

Catatan: Khairul Amri
GM Pekanbaru Pos Group
amrik4551@gmail.com

BERKAH kampus Purnama, Marine Station Unri di Dumai, selain berada di areal yang luas, kampus ini juga hebat. Alamnya sangat asri. Dikelilingi oleh hutan bakau nan hijau. Selain itu, di sini, dulu juga tersedia kapal penelitian.

Tentu saja berkunjung ke sini, tak lengkap kalau tidak melihat dari dekat rimbun dan menghijaunya hutan bakau ini. Melihat dari dekat, itu sama artinya dengan masuk ke dalam hutan itu. Merasakan alam di dalam hutan bakau. Menyatukan rasa dan raga dengan sejuknya suasana di dalamnya.

Rombongan tiba di tepi hutan bakau Marine Station sekitar pukul 10.30 wib. Melihat-lihat situasi sekeliling, memantau lingkungan sekitar, bahkan kami coba melewati jembatan/jeti terbuat dari semen yang dibangun sepanjang 300 meter, akhirnya kami memutuskan untuk masuk dan me-lumpur ke dalam hutan bakau atau lebih akrab disebut hutan mangrove itu.

Semangat untuk me-lumpur ini semakin menggebu. Karena diujung hutan bakau itu, pas pula di tepi rawa (estuaria), ada rumah kapal. Ya, disitu dulu selalu bersandar kapal penelitian: KM SENANGIN. Dari kejauhan juga terlihat ada sekoci berwarna orange, yang juga terdampar di dekat rumah kapal.

Ekspedisi me-lumpur pun dimulai. Semua awalnya masuk ke lumpur itu dengan gaya-gayaan. Ada yang masih pakai sepatu. Ada juga yang bersendal. Eh, pas sudah masuk dan terbenam ke lumpur, mau tidak mau dan rela tak rela, akhirnya sepatu dan sendal harus kami lepas.

Pelan-pelan. Sambil tertawa lepas dan berteriak-teriak, semua kami berpacu untuk bisa sampai ke rumah kapal. Sesekali saya sempat juga terpeleset. Untung saja tidak sampai jatuh ke lumpur dan berlumuran lumpur hutan bakau. Meski begitu, semua rombongan nampak senang.

Hutan bakau atau mangrove yang begitu hijau dan rimbun, mengingatkan saya pada kenangan saat ‘pulang kandang’ kami: di tahun 1997 silam. Saat dinihari, kami satu persatu ‘diculik’ dari kamar asrama oleh para senior, untuk direndam ke laut.

Waktu itu masih ada jembatan panjang atau jeti di sana. Jauhnya, sampai ke laut, seingat saya panjangnya sekitar 1 kilometer. Di tengah gelap waktu itu, dinihari, kami berjalan di atas jeti melewati hutan bakau yang rimbun. Waktu itu, takut sekali. Bulu kuduk jadi merinding. Tapi, semangat jadi mahasiwa IK yang baru, ketika itu, mengalahkan semua rasa takut.

Sampai di ujung jeti, kami dikumpulkan dan secara bergantian direndam, dan diajak turun ke laut. Kata senior: anak kelautan itu cinta laut, dan kalian semua harus turun dan merasakan dingin dan apa rasa air laut. Kesannya ekstrem. Tapi, ternyata, gemblengan itu hingga kini masih membekas. Itu pula yang masih membuat semangat ber- IK Unri, terus dan tak akan pernah hilang di ingatan.

Nah, saat bersama-sama masuk dan melewati lumpur di hutan bakau, kemarin, sepertinya saya dan kawan-kawan lain napak tilas masa-masa saat ‘pulang kandang’. Meski kotor-kotor. Meski ada yang sampai luka kakinya. Ada juga yang naik betis dan terasa sakit perut, tapi semua kami bersemangat dan hepi.

Dan, berkat perjuangan, akhirnya sampai juga semuanya ke rumah kapal, di tengah hutan bakau Marine Station.

Ada apa saja disitu?

Saya terenyuh. Cerita-cerira yang saya dengar selama ini, ternyata benar. KM SENANGIN, kapal penelitian IK Unri, bantuan dari luar negeri lewat program Marine Science Education Project (MSEP), saat ini, sudah tersadai di rumah kapal. Kapal kebanggaan kami, seluruh mahasiswa IK Unri itu tak lagi layak disebut kapal. Lebih pas-nya disebut bangkai kapal.

Di lambung sebelah kanan, masih jelas nampak tulisan MSEP. Begitu juga bacaan SENANGIN, masih jelas dan kontras dengan warna bodi bawahnya. Tapi bangkai kapal ini sudah oleng ke kiri. Bagian bodi sebelah kiri itu pun sudah habis disapu air.

Saya dan alumni lain, Imul, sempat berusaha naik ke bangkai kapal itu. Berkat usaha keras, sedikit mandi lumpur, akhirnya kami berhasil naik. Saya lihat lantai SENANGIN sudah dipenuhi lumpur. Tak ada lagi satupun alat dan kelengkapan di dalam dan di atas kapal. Kemudinya pun sudah tak ada lagi.

Padahal, KM SENANGIN ini sangat jaya di masanya. Seingat saya, ada ekspedisi penelitian Nias, waktu itu, yang melibatkan dosen dan mahasiswa IK Unri. Saya juga termasuk beruntung. Karena pada kurun waktu tahun 1998-2000, selama berdiam di asrama Marine Station, sempat sekali diajak berkeliling naik KM SENANGIN. Kami waktu itu berangkat dari muara Sungai Dumai menuju pantai Selat Baru di Bengkalis.

Saya ingat, nakhoda KM SENANGIN waktu itu namanya: Tri Gunawan. Tapi, salah seorang teman se angkatan saya: Yeeri Badrun juga diberi kesempatan untuk pegang stir kapal. Saya pun ketika itu coba-coba. Tapi, lebih banyak Yeeri yang pegang kendali stir. Sebab, dia sudah lihai mengendarai mobil. Sedang saya belum bisa.

Kami semua cuma bisa memandang bangkai kapal penelitian itu. Saya berteriak, “ini dia KM SENANGIN kami. Dulunya hebat, sekarang sudah tersadai jadi bangkai.” Teman-teman lain cuma bisa tertawa mendengar teriakan dan melihat tingkah saya. Walau begitu, saya sempat foto-foto selfi di atas KM SENANGIN. Saya berpikir, mumpung bangkainya masih ada, kesempatan foto, sebelum benar-benar tenggelam.

Di rumah kapal itu, ada satu lagi sekoci. Kata teman saya, sekoci itu bantuan dari Jepang untuk pak Muchtar Ahmad (mantan Rektor Unri, red). Sekoci ini ternyata hebat juga di masanya. Pernah beberapa kali dijadikan sarana buat penelitian oleh para mahasiswa IK Unri. Tapi sekarang, kedua benda mati itu sudah jadi bangkai dan benar-benar sudah mati. Kalau mau diselamatkan cepat, kedua aset ini mungkin bisa dijadikan monumen. Paling tidak untuk bisa bercerita dan terus ingat sejarah.

Kondisi rumah kapal di sini, pun sudah sangat memprihatinkan. Sebagian tiangnya sudah keropos dan hilang. Bagian atasnya sudah bolong-bolong. Kamar, satu ruangan di atas rumah kapal ini sudah berantakan. Itulah dia, nasib KM SENANGIN, Sekoci penelitian dan rumah kapal, benar-benar bikin sedih dan miris. Tentu, semua aset ini dibeli dengan dana yang tidak sedikit. Tapi, justru sekarang, kesannya dibiarkan begitu saja.

Tak jauh beda dengan hutan bakau di sini. Yakin atau tidak, luas hutan bakau atau mangrove di areal Marine Station ini, mencapai 10 hektare. Kawasan ini rimbun dan masih sangat hijau. Foto udara yang kami ambil dengan drone, sangat jelas terlihat, hutan bakau ini masih sangat bagus. Bahkan keanekaragaman mangrove (biodiversity) di sini, nampak sangat luar biasa.

Itulah yang memunculkan pertanyaan di kepala saya. Berkah ini, antara lain: areal Marine Station yang begitu luas, hutan mangrove yang asri dan juga luas, serta sarana penelitian seperti kapal penelitian yang diperuntukkan buat kampus ini, semua itu belum dimanfaatkan secara baik. Belum atau memang tidak mau dimanfaatkan, saya pun tak berani menjawabnya.

Akhirnya, setelah dari rumah kapal, rangkaian nostalgia kami pun selesai. Hutan bakau yang menghijau, di sana pula bangkai KM SENANGIN tersadai. Nasibmu lah itu Marine Station. Mudah-mudahan, dengan akses tol Permai yang sudah ada, dan ketersediaan air bersih PDAM di 2021 nanti, kampus biru ini akan kembali dilirik Unri untuk difungsikan, dan kembali jaya serta jadi primadona.

Kami pun bersih-bersih. Lalu siang pun menjelang. Perut sudah tak lagi kenyang. Teman-teman kebetulan dapat pula ikan Senangin untuk dipanggang. Jadilah, siang itu kami sama-sama makan siang berlauk sambal dan ikan Senangin panggang. Angin yang cukup kencang, siang itu, di Marine Station membuat suasana makan kami jadi nikmat. Sambil melihat-lihat bangunan penuh sejarah di sana. Sesekali kami berbagi cerita juga, akankah Marine Station ini akan kembali dibuka. Semoga sajalah. (selesai)

Check Also

Ahmad Doli Kurnia Ucapkan Terima kasih ke DPD Partai Golkar Kampar

Hadir Bersama Ketua DPD PG Riau, Sempena Sambut HUT Ke-57 Waketum DPP Partai Golkar Ahmad …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *