Minggu , 20 Juni 2021

Nostalgia Kampus Purnama, Menjemput Berkah Tol Permai (bagian -2)

Rumput Terus Dipotong, Sayang, Bangunan Nyaris tak Tertolong

 

Catatan: Khairul Amri
GM Pekanbaru Pos Group
amrik4551@gmail.com

 

MEMASUKI areal kampus Marine Station, Unri Purnama Kota Dumai, Ahad pagi (18/10/2020), mengingatkan saya pada saat kali pertama ke sini. Waktu itu tahun 1997. Ingatan saya melayang jauh ke masa-masa 23 tahun silam.

Ketika itu kami ikut program pengenalan kampus. Ini khusus ala mahasiswa IK Unri. Program rutin tahunan dan turun temurun ini diberi nama ‘pulang kandang’. Waktu itu, kampus Purnama belum ditempati. Tapi fisik bangunannya sudah berdiri megah.

Pada saat itulah saya dan mahasiswa se angkatan diajak ke Marine Station. Ini adalah rumah atau ‘kandangnya’ mahasiswa kelautan. Karena Ilmu Kelautan itu, ya hidupnya dekat ke laut. Kampus Purnama ini memang dibangun dekat dan berhampiran langsung dengan laut.

Makanya, kenapa disebut ‘pulang kandang’. Itu karena mahasiswa IK Unri akan kembali dan dibawa ke habitatnya: laut. Setelah itu biasanya para mahasiswa IK akan lebih paham dan lebih merasakan bahwa mereka adalah bagian dari kelautan. Selain itu, keakraban antar sesama angkatan dan antara junior dengan senior, pun terasa lebih dekat.

Saya mengingat-ingat. Saat ‘pulang kandang’ itulah kami dibina dan diberi pemahaman-pemahaman tentang Ilmu Kelautan, program studi yang kami pilih. Kecintaan akan laut menjadi bertambah. Semangat dan kebanggaan menjadi mahasiswa IK Unri, di awal-awal itu, juga semakin membuncah.

Pantas saja, ketika itu, saya ingat betul, bagaimana kecintaan akan program studi pilihan ini sebegitu kuatnya ditanamkan oleh para senior saya. Salah satu yang saya ingat betul, waktu itu, kami diperintahkan untuk mencium aspal di depan asrama Marine Station. Ketika olahraga pagi. Jika cinta IK, ciumlah aspal itu. Agar semangat IK semakin tertanam.

Tak hanya itu, kami juga direndam dan diceburkan ke laut. Ini tujuannya baik, agar seluruh mahasiswa IK Unri itu ketahanan fisiknya kuat. Karena para mahasiwa baru ini berasal dari latar belakang yang berbeda, makanya perlu diajak ke laut. Itu pun tak akan pernah saya lupa.

Tapi, saya bersyukur, karena dengan cara seperti ini ternyata rasa cinta terhadap IK, program kuliah yang saya pilih, betul-betul jadi tertanam kuat di sanubari. Rasanya, sampai kapanpun peristiwa 23 tahun silam itu tak akan pernah bisa dilupakan.

Nah, ketika kemarin ke sana. Kenangan itu kembali muncul di ingatan.

Tapi, sayang seribu sayang, kondisi asrama mahasiswa Marine Station yang dulu kami tempati dan jadi tempat kami ‘pulang kandang’ tidak lagi seperti itu. Bangunan asrama ini sudah lama tidak diurus. Atapnya sudah banyak yang hilang. Bangunan asrama, dilihat dari luar, sudah sangat miris. Sebagian besar sudut-sudut asrama itu, justru sudah ditumbuhi pohon dan rumput lebat. Asrama kami tak lagi menarik hati. Asrama Marine Station hari ini, sangat-sangat miris kami melihatnya.

Begitu pun dengan bangunan lain. Sejumlah mes pegawai. Termasuk rumah dosen dan petinggi fakultas juga universitas, tak lagi layak disebut sebagai rumah tempat tinggal. Bahkan ada di antara bangunan rumah itu yang hanya tinggal kerangka atapnya saja. Hampir semua rumah, di areal Marine Station ini rusak parah.

Ada beberapa bangunan rumah yang masih layak huni. Itu pun ditempati oleh para penjaga Marine Station. Mereka ditugaskan tinggal di sana oleh Unri, hanya untuk memastikan keberadaan lokasi itu aman dan tak diganggu.

Sebagian besar hamparan rumput hijau di bagian depan Marine Station, pun nampak dirawat rutin. Selalu dipotong. Tapi sayang, sebagian besar nasib bangunan disini nampak nyaris tak tertolong.

“Kalau untuk perawatan dan potong rumput, itu selalu rutin ada. Pihak Unri yang membersihkan. Tapi kalau untuk perbaikan gedung bangunan, sampai ke rumah karyawan dan dosen, sejauh ini belum nampak,” kata salah seorang tim penjaga kampus Marine Station, bernama panggilan Budi, kepada rombongan kami.

Mobil saya pun berhenti persis di depan gedung tempat dulunya kami selalu berkegiatan. Di salah satu ruangan di gedung itu, saya dan mahasiswa lain membuka rental komputer dan dijadikan ruangan redaksi buletin IK Unri. Nama Bulerinnya: Catatan Maritim (disingkat, Camar). Setiap kali akan terbit, kami selalu beraktivitas di ruangan itu. Sekarang, begitu saya melongok ke dalam, semua itu hanya tinggal kenangan.

Ada juga ruang kuliah. Empat ruangan di bangunan bertingkat dua itu, betul-betul menyimpan kenangan fenomenal. Karena disitulah kami diajar berbagai mata kuliah oleh para dosen IK Unri. Kadang terkesan kami belum siap menerima ilmu. Tetapi, karena penuh semangat, kuliah tetap jalan, dan kami pun turut pula bersemangat.

Di dekat bangunan tempat kuliah itu, ada satu bangunan bersejarah. Ini adalah Auditorium Marine Station. Saya ingat betul, banyak kegiatan bertarap nasional dan internasional yang dihelat di dalam auditorium tersebut. Tapi sekarang, semua hanya bisa ditatap sedih. Karena kondisi bangunan auditorium ini betul-betul sangat memprihatinkan.

“Hari Jumat lalu (Jumat, 16 Oktober 2020, red) pak Rektor, pak Dekan Faperika Unri dan beberapa dosen datang juga kemarin. Kata mereka kampus ini akan difungsikan lagi. Bangunan yang rusak-rusak pun akan dibangun bagus lagi. Tapi tak tahu pula, kapan rencana itu akan dimulai.” Begitu kata Budi, memberi informasi tambahan kepada saya dan rombongan.

Kenapa kampus Purnama ini, dulu, ditinggalkan? Lalu, seluruh aktivitas kuliah kembali lagi di Pekanbaru. Seperti yang terjadi sekarang.

Salah satu alasannya ketika itu adalah ketersediaan air bersih. Ditambah lagi, lokasi kampus Purnama ini sangat jauh dari pusat kota. Apalagi dari Pekanbaru, pusat kampus Unri.

Nah, dengan adanya akses tol Pekanbaru ke Dumai (permai), masalah jarak yang jauh terjawab sudah. Saya, dan rombongan alumni IK Unri kemarin, cuma perlu waktu 1,5 jam lewat tol untuk sampai ke Dumai. Dari kota Dumai ke Desa Purnama, tak sampai 10 kilo meter: hanya perlu waktu kurang dari 30 menit. Itu artinya, dari Pekanbaru ke Dumai dan ke Kampus Marine Starion Unri, Purnama, saat ini cuma perlu waktu dua jam.

Soal ketersediaan air bersih. Salah seorang alumni, bernama Masady Manggeng pun coba berkomunikasi dengan petinggi di PDAM Dumai. Kata Masady: jaringan air bersih PDAM sudah akan sampai ke Kampus Marine Station pada 2021 ini.

Nah, ini kan sudah terjawab semua persoalan tadi. Jarak tak lagi jauh. Fasilitas pun sudah ada semua. Ditambah ketersediaan air bersih untuk kampus Purnama akan segera terealisasi.

Pertanyaan kami, rombongan alumni yang kemarin bernostalgia ke area Marine Station ini, apakah pihak Faperika dan Unri akan beritikad baik untuk kembali mengembalikan kejayaan kampus biru ini? Kapan niat baik itu akan dimulai? Kami semua hanya bisa saling pandang: kita berdoa sajalah, semoga kejayaan itu segera kembali.

Salah seorang warga bernama Siti, yang biasa kami panggil Mbak Siti, saat kemarin bertemu saya, pun sempat pula mengungkapkan harapan besarnya.

“Kapan lagi kampus ini ramai seperti dulu? Cepatlah difungsikan lagi. Kalau tidak, kami di sini pun jadi takut. Karena banyak yang bilang, kalau tak ditunggu, bisa jadi sarang hantu,” kata dia.

Mendengar itu, saya hanya senyum. Di dalam hati saya juga berharap agar Marine Station Purnama Dumai ini akan aktif lagi seperti 20an tahun silam. (bersambung)

Check Also

Rezita Meylani Resmi Dilantik Sebagai Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Inhu

  INHU (Khabarmetro.com)– Rezita Meylani Yopi, SE resmi dilantik sebagai Ketua Pimpinan Cabang Muslimat Nahdatul …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *