Sabtu , 19 Juni 2021

Melihat Bandara Tempuling, Setelah 12 Tahun Dibangun (bagian-2)

Siap Kembali Menggeliat, Menunggu Anggaran Pusat

 

Laporan KHAIRUL AMRI, Tembilahan, Inhil
amrik4551@gmail.com

NEGERI Indragiri patut bersyukur. Sekarang, ada dua bandara beroperasi di sini. Bandara Japura di Indragiri Hulu (Inhu), yang sekarang jadi sekolah penerbangan. Satu lagi Bandara Tempuling di Desa Sungai Salak, Kecamatan Tempuling, Indragiri Hilir (Inhil). Kalau saja bandara ini berfungsi bagus, alangkah terbantunya transportasi masyarakat.

Bandara Tempuling dibangun di atas lahan seluas 184,3 hektar. Namun, hingga kini belum seluruh lahan ini yang difungsikan. Bahkan masih ada 1 persil tanah di lokasi ini yang belum bersertifikat.

Itu pula, seperti dijelaskan Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Inhil Rudiansyah kepada koran lokal (posmetro indragiri, red) via telepon, kemarin, yang membuat pihaknya belum bisa mengajukan pengelolaan Bandara Tempuling ke pemerintah pusat.

“Sesuai aturan perundang-undangan, sebenarnya pengelolaan Bandara Tempuling bisa diserahkan ke pemerintah pusat. Alokasi anggaran operasionalnya bisa lewat APBN. Tapi, ternyata masih ada lahan di lokasi bandara ini yang belum disertifikat. Kalau sudah selesai disertifikat semuanya, nanti kita ajukan lagi pengelolaannya ke pusat,” jelas Rudiansyah.

Awalnya, tambah Rudiansyah, ada 2 persil lahan bandara yang belum bersertifikat. Sekarang tinggal 1 persil lagi. “Kami terus mengupayakan lahan 1 persil ini selesai di sertifikat. Jika ini selesai, nanti kami ajukan kembali,” ucapnya, sambil menyebutkan, bahwa usulan itu sebenarnya sudah lama diajukan ke pusat. Ke depan pihaknya, akan menindaklanjuti rencana dan usaha itu kembali.

Begitu juga dengan lintasan pendaratan dan take off pesawat (run way). Saat ini, Bandara Tempuling memiliki run way sepanjang 1.350 meter atau 1,35 kilometer. Untuk ukuran bandara perintis, sebenarnya ini sudah cukup. Hanya saja jika ingin lebih berkembang, paling tidak bandara ini harus punya run way sepanjang 1,8 kilometer.

Ini dibenarkan oleh Rudiansyah. “Sekarang run way di Bandara Tempuling ini, 1.350 meter. Baru bisa didarati pesawat kecil, seperti Susi Air dan pesawat jenis RJ 100. Dulu, kan ada pesawat Riau Airline (RAL) yang mendarat. Makanya, saat nanti sudah diajukan ke pusat, kami pun akan coba ajukan usulan perpanjangan run way ini. Agar Bandara Tempuling bisa didarati pesawat berbadan besar,” kata Rudiansyah optimis.

Apa yang disampaikan Kadishub Inhil ini, dapat dilihat secara jelas dari lantai 2 gedung terminal Bandara Tempuling.

Karena penasaran, rombongan Posmetro Indragiri naik ke lantai 2. Banyak pecahan kaca dan sampah berserakan di lantai. Bahkan kaca salah satu pintu utama, pun sudah pecah. Kami pun bisa melangkah ke luar di atap gedung terminal itu. Dari sinilah situasi dan pemandangan Bandara Tempuling dapat dilihat dengan jelas.

Lahan parkir pesawat nampak masih bagus. Walau rumput di sekelilingnya sudah mulai meninggi. Dari kejauhan juga terlihat lintasan run way, tempat pesawat akan lepas landas dan mendarat. Karena hujan, rombongan tidak bisa turun ke lahan parkir dan run way. Hanya saja, sepintas, run way bandara ini nampak masih layak pakai.

Buktinya, saat ini pun bandara tersebut masih didarati pesawat Susi Air. Jadwalnya sekali sepekan, yakni setiap Jumat siang. Namun mirisnya, wujud bandara ini mirip dengan bandara lain, tapi pelayanan bagi penumpang, itu yang sama sekali belum standar sebuah bandara.

“Soal pelayanan ke penumpang, baik yang akan berangkat dan datang, memang belum bisa kami lakukan maksimal. Sebab fasilitas bandara dan bangunannya sudah banyak yang rusak. Tapi, secara umum sistem kebandaraan masih kami jalankan. Malah dibantu oleh petugas dari Bandara Japura. Meski begitu, pihak maskapai pun sudah bisa memaklumi. Alhamdulillah, setakat ini Bandara Tempuling masih bisa beroperasi,” jelas Kadishub Inhil Rudiansyah.

Perihal keberadaan Bandara Tempuling saat ini, Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Riau Indra Putrayana pun menjelaskan, pengelolaannya saat ini sudah di bawah Pemkab Inhil. “Bandara Tempuling sudah diserahkan ke Pemkab Inhil. Pengelolaannya pun di sana,” kata Indra kepada Posmetro Indragiri.

Ia mengakui, bandara tersebut dibangun degan APBD Riau tahun 2005 lalu. Tapi dirinya tidak mengetahui secara pasti, berapa besar anggaran daerah yang dihabiskan untuk membangun bandara tersebut. Indra menekankan, jika memang ingin diserahkan pengelolaannya ke pemerintah pusat, Pemkab Inhil bisa langsung saja dan tak perlu lagi izin dari Pemprov Riau.

Khairul Amri mengabadikan beberapa spot foto di Bandara Tempuling. Beginilah suasana di sana, sekarang.

 

Terkait keinginan Pemkab Inhil untuk meminta uluran tangan pemerintah pusat, dalam bentuk anggaran, pun mendapat respon positif dan dukungan dari salah seorang anggota DPR RI asal Riau H Abdul Wahid. Ketua DPW PKB Riau, yang juga anak jati Inhil ini menegaskan, dirinya siap membantu.

“Yang penting administrasi penyerahannya ke pusat lengkap,” kata Wahid.

Ia pun akan berusaha sesuai dengan kapasitasnya di DPR RI untuk mewujudkan niat baik tersebut. “Insyaallah kita dorong,” tambahnya via balasan WA ke Posmetro Indragiri.

Saat ditanya, kira-kira seperti apa langkah konkretnya nanti, untuk mendorong agar Bandara Tempuling bisa dibantu pemerintah pusat, Wahid tak menjawabnya secara pasti. Soal ini, ia hanya katakan, inshaaAllah akan membantu.

Tempuling, Sendiri dalam Gelap

Hujan belum juga berhenti. Rombongan Posmetro Indragiri sudah cukup puas berkeliling melihat dari dekat kondisi bandara. Ini, adalah satu dari sekian banyak aset kebanggaan masyarakat Riau. Apalagi masyarakat di Kabupaten Inhil, dan negeri Indragiri secara luas.

Melihat kondisi Bandara Tempuling seperti itu, sekarang, ada juga rasa sedih. “Apa tidak terpikir oleh pemerintah mau diapakan aset seperti ini. Misalnya untuk penerbangan komersial, dikelola secara baik dan benar. Atau bisa untuk sekolah penerbangan,” kata Royan, awak Posmetro Indragiri, yang juga anak jati Inhil.

Begitulah nasib Bandara Tempuling. Mengingat awal peresmiannya, di 2008 lalu, seperti akan hebat dan luar biasa keberadaan bandara ini. Tapi sekarang, saat rombongan meninggalkan lokasi, ditatap ke arah bangunan terminal, yang terlihat adalah sunyi dan kesepian. Dalam gelap, Bandara Tempuling sendiri di lokasi itu. Begitu megahnya bangunan itu. Begitu banyak uang masyarakat Riau yang habis untuk membangunnya. Sekarang, justru tak tarawat dan seperti ditinggalkan dalam kesendiriaannya.

Harapan kedepan, tinggal menunggu uluran tangan pemerintah pusat. Akankah Bandara Tempuling mendapat porsi anggaran nantinya? Semoga saja begitu. Sehingga aset yang dibangun dengan uang rakyat ini tidak hancur dan punah begitu saja. (uli/selesai)

Check Also

RS Awal Bros Grup MoU dengan CBS School Of Communications Jakarta

Tingkatkan Kemampuan Komunikasi foto ki-ka: dr Widya Putri MARS Ketua Regional I RS Awal Bros, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *