Jumat , 2 Desember 2022

Kazaini, Sang Pejuang dari Pulau Mendol Riau: Saya Sekarang Bertulang Besi

“Perjuangan Ini Tidak Main-main”

Kazzaini diwawancarai wartawan.

Perjuangan untuk kembali merebut hak. Perjuangan demi kampung halaman. Itulah yang dilakukan oleh tokoh masyarakat sekaligus pejuang Pulau Mendol (pulau Penyalai), Kabupaten Pelalawan. Sempat mengalami kecelakaan, bahkan jatuh korban, tapi tak sedikitpun menyurutkan langkah Kazzaini dan rekan-rekannya. Berikut tulisannya untuk teman-temannya.

Assalamualaikum teman-teman terkasih. Semoga kita senantiasa sehat, sukses, dan lancar menjalankan tugas. Amin. Pada kesempatan ini, saya mohon maaf karena akhir-akhir ini tidak bisa begitu aktif menyertai berbagai kegiatan PWI (persatuan wartawan Indonesia).

Tetapi saya mengikuti setiap perkembangan yang dikabarkan atau diekspose di grup. Saya turut bersuka cita karena teman-teman cukup aktif dan bergairah menjalankan roda organisasi.

Sebagaimana diketahui, saya mengalami kecelakaan lalu lintas di tol Merak, Banten. Tepatnya di daerah Ciruas, sekitar pukul 11.20 wib, Ahad, 18 September 2022.

Kecelakaan itu cukup mengagetkan dan sangat parah. Sungguh tidak pernah terbayangkan. Mobil yang saya kendarai betul-betul hancur. Tidak bisa lagi diperbaiki. Tidak bisa digunakan lagi. Kami berangkat menggunakan tiga mobil, dengan 18 anggota rombongan.

Satu orang anggota rombongan kami, Said Abu Sopian –para aktivis memanggilnya dengan sebutan SAS– meninggal dunia, sekitar pukul 21.20 wib, Kamis, 22 September 2022, setelah lima hari dirawat di ruang ICU RS Hermina Ciruas. Innalilahi wainnailaihi rojiun. Semoga almarhum diterima di-sisiNya. Amin.

Dan, Alhamdulillah, jenazah almarhum dapat kami urus dengan baik. Setelah dimandikan, dikafani, dan disalatkan di salah satu rumah tokoh Banten yang bersimpati pada perjuangan kami, dan juga atas bantuan banyak pihak, jenazah diantar ke bandara dan diterbangkan ke Pekanbaru, Riau.

Almarhum masih sangat muda, meninggalkan dua anak laki-laki yang masih sangat kecil. Yang tertua kelas 2 SD dan yang kecil baru berumur 4 bulan. Bagi orang Penyalai, orang Pulau Mendol, almarhum adalah pahlawan, diyakini sebagai syahid, dan setiap rumah di Penyalai berduka dan mendoakannya.

Fotonya dipajang di berbagai sudut Pulau Penyalai. Pada kecelakaan itu, saya sendiri mengalami patah tulang pada lengan tangan kiri. Berdasarkan ronsen, tulang saya betul-betul patah, sehingga terlepas. Engsel pergelangan tangan kiri saya juga terkucil dan lepas.

Tulang jari tengah di atas telapak tangan juga patah. Dokter di RS Hermina Ciruas menyarankan saya untuk segera operasi. Saya tidak mau. Dokter memarahi saya, karena menurutnya sangat berbahaya kalau terbiar. Tetapi saya tetap tidak mau.

Saat itu yang ada di pikiran saya, jika saya menjalani operasi maka saya harus diopname. Kalau saya diopname, maka semua agenda yang sudah disusun akan berantakan: Senin jumpa/diskusi dengan beberapa LSM lingkungan, Selasa memenuhi undangan Wamen ATR/BPN, Rabu ke Komisi II DPR RI, Jumat ke KSP. Akhirnya saya putuskan mencari dukun patah-tulang.

Malam itu juga, atas informasi perawat di RS Hermina Ciruas, saya ke tempat dukun patah-tulang di daerah Baros, sekitar 10 km dari RS Hermina Ciruas. Dari rumah sakit saya dibekali obat antibiotik, pereda nyeri, dan saya disuntik bius, karena tangan saya semakin berdenyut perih.

Saya juga diminta menandatangani pernyataan karena tidak mau dioperasi. Di Jakarta kami terus bergerak, dan bolak-balik ke Banten untuk memantau kondisi SAS di ICU RS Hermina Ciruas. Hal itu hampir setiap hari kami lakukan.

Secara bergiliran ada anggota yang tetap berjaga di rumah sakit. Tidak hanya itu, kami ke Banten juga untuk menjalani proses di Polda Banten atas kecelakaan yang terjadi. Alhamdulillah, semua proses berjalan dengan lancar dan baik. Mobil yang bertabrakan dapat kami keluarkan dan dikirim ke Pekanbaru dengan mobil gendong.

Dua mobil lagi, pun akhirnya kami pulangkan dengan menggunakan supir sewaan, karena tidak ada di antara anggota rombongan yang bersedia nyetir, karena trauma dan letih.

Mungkin karena terlalu banyak bergerak, tangan saya semakin membengkak dan nyeri berdenyut. Kalau dikeluarkan dari gendongan, terasa sangat berat. Ketika saya cek ulang ke dukun patah tulang di Banten, dia kaget. Katanya, tulang lengan saya bergeser lagi dan berselisih jauh. Namun kondisi itu, dan apa yang saya rasakan, tidak saya ceritakan ke anggota rombongan.

Saya khawatir mereka cemas dan merusak konsentrasi. Lagi pun saya malu, karena yang saya alami belum apa-apa jika dibandingkan yang dialami SAS. Jadi, saya tahan saja rasa sakit itu, sambil berpikir setelah pulang ke Riau nanti baru saya cari penanganan yang lebih baik.

Oleh sebab itu, setiba di Pekanbaru, Rabu sore, 28 September, saya langsung melakukan ronsen ulang. Ternyata benar, tulang lengan kiri saya yang patah bergeser dan berselisih jauh. Dua sisi ujung yang patah itu menusuk ke daging. Mungkin itu yang membuat nyeri dan berdenyut.

Malam itu saya langsung ke sinse Aseng. Dia kaget karena tangan saya sudah sangat bengkak dan agak bengkok. Aseng pun kelihatannya menyerah, menyarankan saya secepatnya operasi.

Saya pun akhirnya memilih operasi beberapa hari kemudian. Saya memilih RS Awal Bros Panam, karena dekat dengan rumah saya. Dokter di RS Awal Bros menanyakan: mengapa terlambat. Saya katakan, saya takut operasi. Alhamdulillah operasinya berjalan sukses.

Sekarang lengan kiri saya sudah dipasangi pen. Kepada teman-teman seperjuangan, pada unjuk rasa di Kanwil ATR/BPN, Senin (17/10) lalu, sambil tertawa ringan, saya katakan, saya sekarang bertulang besi. Sekarang tangan saya masih diperban, karena masih dalam proses pemulihan, dan masih dalam pengawasan dokter ortopedi.

Tetapi setelah ini saya juga harus menjalani terapi di dokter fisioterapi, karena jari-jemari dan pergelangan tangan saya sulit ditekuk dan digerakkan. Menurut dokter, itu karena faktor lambat penanganan.

Kepada teman-teman pengurus dan seluruh anggota PWI, saya mengucapkan terima kasih atas dukungan diberikan selama ini. Perjuangan ini untuk meluruskan yang bengkok, membela masyarakat banyak, dan menyelamatkan pulau yang merupakan amanah yang diberikan Tuhan kepada kita.

Mohon difahami, kami berjuang untuk kampung halaman kami, tempat tumpah darah kami, tempat datuk-nenek kami dikuburkan, tempat anak-cucu generasi penerus masyarakat kami dibesarkan. Perjuangan ini tidak main-main.

Kami sanggup berkorban darah dan nyawa. Mohon difahami. Kepada teman-teman yang memiliki pandangan yang berbeda, saya akan berusaha untuk memaklumi.

Yakinlah, persahabatan dan silaturrahim insyaAllah kan selalu abadi. Semoga Allah swt, Tuhan yang Maha Kuasa, membalas atas setiap kebaikan, dan selalu memberi kita petunjuk ke arah kebaikan. **

Check Also

Sukses Remajakan Sawit, Jatmiko CEO Terbaik se- Indonesia

Pekanbaru – Jatmiko Krisna Santosa, Direktur PT Perkebunan Nusantara V berhasil meraih penghargaan sebagai satu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.