Selasa , 19 Oktober 2021

Dari Sungai Dumai Menyeberang, Sensasi Bakar Ikan di Tanjung Medang

Eksplor Destinasi Wisata Pulau Rupat, Tertarik Karena Gencarnya Ekspos (bagian-2)

 

Laporan KHAIRUL AMRI, Dumai dan Bengkalis
amrik4551@gmail.com

 

TIDAK satu jalan untuk menuju Pulau Rupat, khususnya Rupat Utara. Destinasi wisata, seperti pantai yang indah dan panorama alam tepi laut, umumnya berada di sini. Persisnya di Tanjung Medang.

Puas menikmati indahnya pantai Ketapang, membuat rasa lelah di perjalanan berkurang. Jalan yang banyak berlubang, rusak sana sini, seakan lupa, saat tiba di sini.

Matahari sudah condong ke Barat. Sayangnya, di pantai Ketapang matahari terbenam (sunset) ke arah daratan. Di sini, khususnya pantai di kawasan Rupat Utara, matahari memang terbenam ke arah daratan. Asyiknya pas saat pagi, indahnya matahari terbit (sunrise) bisa dinikmati dari tepi pantai.

Mendekati pukul 18.00 wib, segera masuk sholat Magrib. Kami pun bergerak meninggalkan pantai Ketapang. Tujuan selanjutnya, adalah Tanjung Medang. Di sana ada pantai Teluk Rhu dan pantai Lapin di Tanjung Punak. Tak ketinggalan, satu destinasi wisata favorit: yakni pulau Beting Aceh.

Perjalanan menuju Tanjung Medang, dari kawasan pantai Ketapang, sekitar 30-40 menit. Kondisi badan jalan relatif sama: ada yang sudah aspal atau semenisasi. Tapi banyak juga yang masih jalan tanah, campur pasir dan batu (sirtu).

Cuaca mulai gelap. Malam pun turun menyelimuti bumi. Terang siang hari, perlahan pergi. Kiri kanan jalan nampak gelap. Lampu mobil saya hidupkan. Sesekali selisih jalan dengan mobil dan kendaraan lain, hanya itu yang menerangi jalan.

Dalam hati saya berucap dan bertanya-tanya: kenapa tidak diberi penerangan jalan? Seperti tak terlihat sedikit pun tanda-tanda bahwa pulau ini adalah kawasan wisata. Ya, Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) pula. Sudah pula diekspos secara luas, akan menjadi salah satu destinasi wisata favorit di Kabupaten Bengkalis.

Mobil kami terus melaju. Meski gelap, lampu mobil saya masih bisa membuat jalan di depan menjadi terang. “Beginilah kondisinya. Jalan belum semuanya bagus. Kalau sudah malam, ya gelap gulita. Ini ciri khas kampung lama,” kata teman saya, Selamat Riyadi yang duduk di sebelah.

Sempat singgah di beberapa tempat, akhirnya sekitar pukul 19.30 wib, kami sampai di Tanjung Medang. Beberapa badan jalan di sini nampak sudah bagus. Malah rata-rata semenisasi. Lampu penerangan jalan pun sudah ada. Kawasan ini adalah perkampungan yang relatif sudah berkembang baik. Melihat itu, barulah timbul rasa lega di hati. Kembali muncul semangat, karena sudah sampai di destinasi pantai Teluk Rhu.

Teman saya menelepon sahabatnya di Tanjung Medang, persisnya di kawasan Pajak. Selain terkenal memiliki pantai yang indah, di sini juga banyak ikan laut. Rata-rata penduduk di sini menggantungkan hidup sebagai nelayan. Sehingga hasil laut, seperti ikan, udang dan kepiting harganya relatif murah.

Kami sudah siap-siap untuk menikmati sensasi santai di tepi laut, sambil bakar ikan. Sahabat teman saya itu namanya Adi. Lebih dikenal dengan nama: Adi Bor. Profesinya banyak. Tapi yang lebih populer, ia dikenal sebagai tukang sumur bor. Hampir semua sumur bor di pulau itu, Adi lah yang mengerjakannya.

Sampai di rumahnya, di kawasan Pajak, kami duduk santai sebentar. Keluarga Adi sangat ramah. Duduk bercerita, sambil melepas penat, kami pun disuguhkan minuman kopi. Ternyata teman saya ini sangat dekat dengan Adi Bor. Mereka sempat lama tinggal di Kota Dumai, persisnya di kawasan JM atau Jaya Mukti.

Tak berlama-lama di sini, maksud untuk mencari ikan segar pun disampaikan. Pas di sebelah rumah Adi, tetangganya punya usaha menjual ikan laut segar. Saya, istri saya dan Adi melihat ke rumah tetangga. Kami pilih 1 ekor ikan Tenggiri, beratnya 1,5 kilogram. Tak mahal. Cukup Rp70 ribu, saya sudah bisa dapat ikan laut segar. Ditambah lagi, Adi ternyata sudah menyiapkan tempurung kelapa dan kayu arang untuk kami bakar ikan. Hati senang, niat buat bakar ikan di tepi pantai segera kesampaian.

Jelang pukul 21.30 wib kami pamit. Adi memberikan referensi, bisa menginap di penginapan Mutiara Pantai. Lokasi cocok sekali, kalau ingin merasakan dan menikmati hawa angin laut. Juga dentuman ombak laut, karena penginapan ini letaknya persis di tepi pantai.

Tanpa pikir panjang, kami bergerak menuju penginapan. Di sini kami pesan 2 kamar. Kebetulan kamar yang masih kosong, cuma dilengkapi kipas angin. Harga 1 kamar cukup terjangkau, Rp150 ribu per malam. Sedangkan kamar ber AC, harganya Rp250 ribu per malam, sudah termasuk sarapan.

Kami masuk kamar. Ganti pakaian santai, lalu siap-siap untuk menikmati sensasi bakar ikan di tepi pantai. Asyiknya lagi, di sini sudah disiapkan tunggu khusus pemanggang ikan. Jadi, kami tidak perlu khawatir. Pihak penginapan pun ikut pula membantu kami untuk menyalakan api, bakar tempurung kelapa dan kayu arang terlebih dahulu, baru ikan dipanggang di atas tungku pemanggangan.

Dentuman ombak di pantai Teluk Rhu. Berhadapan langsung dengan Selat Melaka. Tapi karena gelapnya malam, tak begitu terlihat tengah lautan. Angin laut yang kencang, di bawah terangnya sinar lampu, membuat sensasi dan suasana malam itu terasa lengkap. Meski dari perjalanan jauh, dengan kondisi jalan kurang baik, tapi lelah itu semua terbayar. Saya dan keluarga, termasuk teman saya, asyik sekali menikmati suasana malam itu.

Karena bara api yang menyala cukup banyak di tungku, ikan yang dipanggang pun lebih cepat matang. Setelah matang, kami semua menikmati makan malam. Ikan bakar, dicampur sambal plus nasi putih, semakin membuat nikmat. Makan ikannya biasa saja, tapi suasana tepi lautnya itu yang membuat hati senang dan sulit dilupakan. Padahal hari sudah makin larut. Sekitar pukul 23.00 wib, kami baru selesai makan malam. Setelah itu siap-siap untuk menuju kamar untuk istirahat.

***

UNTUK bisa sampai ke Tanjung Medang, tidak perlu khawatir. Bukan cuma bisa lewat darat, menggunakan kendaraan roda dua atau roda empat, tapi juga bisa melewati laut. Kita bisa menyeberang dengan speed boat, dari Dumai menuju destinasi ini.

Kebetulan saya bertemu kawan satu profesi pula di sini. Namanya Murparsaulian, yang dulu sama-sama bekerja di media Riau Pos Group. Imunk, begitu saya menyapa dia, kebetulan juga berangkat ke Tanjung Medang untuk berwisata. Bersama suami dan 2 anak lelakinya, Imunk ternyata sejak Jumat malam (13/11) berada di kawasan Rupat Utara.

Menurut cerita Imunk, mereka tidak lewat darat atau menggunakan roro. Mobilnya ditinggal di seberang, di kota Dumai. Mereka naik speed boat dari Sungai Dumai menyeberang menuju Tanjung Medang. Karena menurut suaminya, dari temannya dia dapat informasi: jalan darat dari roro Tanjung Kapal ke Tanjung Medang rusak parah. Makanya mereka lebih memilih jalur laut.

Berapa angkos dari Dumai ke Tanjung Medang? Kata Imunk: per orang Rp85 ribu sekali jalan. Sedangkan anak-anak (usia SD), tak bayar ongkos alias bisa gratis. Jadwal speed boat dari Sungai Dumai sekitar pukul 09.00 wib. Sedangkan jadwal dari Tanjung Medang (pelabuhan Pajak) ke Dumai, sekitar pukul 14.00 wib atau 15.00 wib.

Hanya saja, diakui Imunk dan keluarganya, jika menggunakan jalur laut maka ruang gerak saat berada di destinasi wisata agak terbatas. Ini karena mereka tidak punya kendaraan. Alhasil, mereka hanya bisa pergi ke pantai Lapin di Tanjung Punak. Juga ke Pulau Beting Aceh di seberang Teluk Rhu. Sedangkan ke pantai Ketapang dan kawasan lain di daratan, tidak bisa mereka kunjungi.

Saya pun berpikir. Kalau begitu kondisinya, tentu sangat perlu informasi lengkap dan jelas tentang kondisi jalan termasuk rute dan fasilitas lain di destinasi wisata Pulau Rupat ini. Sehingga para wisatawan, baik lokal maupun mancanegara tidak kebingungan.

Bayangkan saja, rombongan wisatawan yang datang ke sini, ingin berwisata dan senang-senang, malah harus pulang dengan kecewa tersebab mereka tidak dapat informasi yang valid.

Apa akibatnya? Namanya saja wisatawan. Mereka datang pasti untuk liburan. Ketika yang dirasakan itu tidak sesuai dengan harapan, tentu untuk datang lagi ke Pulau Rupat pasti mereka akan berpikir ulang. Bahkan bisa saja, itu akan menjadi promosi kurang baik buat destinasi wisata di tempat ini.

Silahkan saja dipilih. Mau menggunakan jalur darat, melewati jalan umum dengan terlebih dahulu naik roro dari Dumai ke Tanjung Kapal. Atau maunya lewat jalur laut. Bisa dengan naik speed boat dari Sungai Dumai ke Tanjung Medang di Rupat Utara. Majulah pariwisata Riau. (bersambung)

Check Also

Bupati Rezita Meylani Yopi Serahkan Bantuan kepada Ponpes Al Madani

INHU (khabarmetro.com)–Bupati Indragiri Hulu, Rezita Meylani Yopi menyerahkan secara langsung bantuan Dana dan Al-Qur’an kepada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *