Sabtu , 18 September 2021

Bukit Diatas Awan dan Tempat Permandian Bidadari di Hutan TNBT

Ekspedisi PWI di TNBT dan TNTN (Bagian-1)

 

Kendati tiga hari tiga malam, namun perjalanan ekspedisi Persatuan Wartawan Indoneaia (PWI) Riau menjelajahi rimba di Taman Nasinonal Bukit Tigapuluh (TNBT) Kabupaten Indragiri Hulu dan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Kabupaten Pelalawan, sangat melelahkan. Namun, walaupun sampai letoi, naik betis, gatal-gatal, mencret, demam dan bahkan sampai masuk ruang Istalisasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit demi untuk menyuguhkan yang terbaik kepada pembaca tetap semangat kami lakukan.

Laporan Adnan Buyung

UNTUK mendapatkan pengalaman, menjawab rasa penasaran, mencari nuansa baru dan ingin menyaksikan langsung kawasan taman nasional yang dilindungi itu, tentu tidak gampang. Apalagi, kalau hal itu dilakukan hanya sesekali– seperti acara ekspedisi PWI peduli Konfik habitat hewan dengan manusia– mengarungi rimba– tentu memerlukan pengorban, dibutuhkan badan yang sehat dan tenaga kuat yang ekstra.

Karena, yang namanya masuk rimba sudah terbayang adalah mengarungi semak-semak belukar. Dari Pekanbaru menuju lokasi TNBT Pematang Rebah sudah mulai terasa tantangannya dengan jarak tempuh 300 Km dengan memakan waktu lebih kurang tujuh jam.

Untuk menuju kawasan TNBT –hutan masih perawan itu– jangan bayangkan jalannya mulus seperti sudah pengerasan atau best apalagi diaspal hotmix tetapi jalannya alam yang kondisinya naik-turun, mendatar dan sesekali terjal. –hmmmm remuk rasa badan.

Makanya, untuk bisa melewati medan itu, tidak bisa mobil gardan satu yang biasa digunakan dalam kota, tetapi harus memakai mobil gardan dua. Apalagi tim ekspedisi PWI Riau terdiri 45 orang– dari Resort Talang dan Camp Granit menggunakan 6 mobil yang sebagian besar duduk bak terbuka.

Sungguh luar biasa, walaupun melewati jalan berliku dan terjal, begitu memasuki kawasan TNTB badan terasa langsung terobati. Yang tadinya, ketika awal memasuki kawasan penyangga– cuaca sangat panas dan penuh hingar-binggar karena suara motor dan kiri-kanan pokok sawit, tetapi begitu sampai di pintu masuk TNBT suasana terasa sejuk, hening, senang dan tenang serta pikiran langsung plong. Aroma hutan yang berbau dedaunan nan penuh hawa dingin sangat begitu terasa.

Apalagi, begitu sampai di Camp Granit yang dikenal sebutan –Bukit di atas awan– tempat kami berkemah dan bermalam, suasana terasa begitu hening, senang dan lapang –jauh dari hingar-bingar dan semua permasalahan. Yang terdengar hanya suara siulan burung yang langkah dan jarang didengar. Aduhhhh enaknya…

Ditambah lagi, pelayanan disuguhkan Kepala Balai TNBT, Fifin Jogasara dan tim TNTB yang sungguh sangat luar biasa. Begitu sampai, kami dihidangkan pula minuman dan makanan khas alami seperti air nira, teh dan semangka, jagung dan kopi.

Begitu senja menjemput, aduh indahnya. Camp Granit yang kami tumpangi benar-benar terasa negeri di atas awan. Karena daerah termasuk tertinggi di daerah itu dan di sekeliling hanya terlihat awan dan pucuk pepehonan yang begitu hijau.

Bahkan saat-saat senja atau bahkan pagi hari menjelang biasanya Camp Granit terutama apabila hari hujan, daerah terasa di Bukit Lawang nan dingin, berembun dan serasa diselemuti awan. Kemudian lebih asyik lagi, terdengar sayup-sayup nyanyian jengkrit dan burung pertanda malam akan menjelang. Pokoknya pemandangan indah banget dan luar biasa

Setelah salat magrib bersama dan langsung dilanjutkan makan bersama serta dialog dengan pengelola yang juga Kepala Balai TNBT Fifin Arfiana Jogasara SHut MSi dan bersama jajaran yang begitu terasa dekat, hangat dan akrab. Sesekali diselingi kata canda dan gurauan yang mengundang tawa.

Ketua PWI Riau H Zulmansyah Sekedang tujuan ekspedisi ini mengambil peran wartawan terhadap lingkungan dengan membuat tulisan tentang TNBT dan TNT. Kalau selama ini, TNBT hanya mendengar sekedar informasi sepotong-potong, nah sekarang kita beri kesempatan kepada teman-teman untuk eksplore selama ekspedisi. Mulai dari ngecamp di Camp Granit, jelajah rimba sampai ke Bukit Lancang di TNBT hingga berbincang langsung dengan para Mahout di TNTN silakan tulis semua yang bisa ditulis.

Bahkan dulu, kalau TNBT sering dikenal pembalakan dan ilegal logingnya, namun sekarang tentu kondisinya sudah jauh berbeda. Taman Nasional yang tersimpan ratusan spesies flora dan fauna dan kehidupan hayati lainnya di dalamnya kini terkelola dengan elok dan rapi. Namun, dibalik itu tentu ada permasalahan lain yang harus digali dan digali lagi.

” Tulisan dan foto yang dihasilkan wartawan dari ekspedisi ini dan sudah terbit di media masing-masing ini nanti akan dibukukan. Sebagai jurnalis inilah yang bisa kami lakukan dalam rangka turut peduli lingkungan,” sambung Zulmansyah.
Kepala Balai TNBT Fifin Arfiana Jogasara SHut MSi dalam sambutan mengatakan atas pribadi dan kepala balai TNBT, saya sangat bangga dan mengucapkan terima kasih tim ekspedisi PWI Riau yang begitu bersemangat. ”Kami sangat senang dan bangga atas kehadiran rombongan PWI ke Taman Nasional baik TNBT maupun TNTN. Apalagi teman-temanya Wartawan Peduli Taman Nasional dan datang serta pulang dengan membuat tulisan,” papar kepala balai ini.

Setelah malamnya beristirahat dan tidur merabahkan badan yang letih dari hempasan dan goyangan mobil, paginya kami langsung tracking. Kelompok I dengan track pendek berjarak 3 Km. Awalnya, karena dari informasi tim pemandu jarak tempuhnya lebih kurang 3 kilometer, sebagian peserta tracking menggangap remeh dengan tidak melakukan persiapan apa-apa, bahkan ada yang pakai sandal jepit, namun siapa sangka, separoh dalam perjalan banyak yang menyesal, yang namanya masuk rimba pasti banyak bahayanya. Tetapi bagaimana lagi, karena yang namanya rombongan, walaupun menghadapi ancaman sakit-sakit sedikit harus dikuat-kuatkan.

Untuk kelompok I track yang memang sekitar 3 kilometer pulang pergi. kondisi turun naik dan berliku-liku, di antara yang kami jumpai bekas gudang dinamik yang digunakan menghancur bukit dan batu granit yang dilakukan perusahaan Eks PT Essa sebelum ditetapkan Taman Nasional kswasan itu. Kemudian, dilanjutkan naik mendaki salah-satu puncak Bukit Tigapuluh dengan ketiggian 20 m ditas permukaan laut. Kemudian diteruskan kegiatan menanam pohon dan dilanjutkan air terjun tiga telingkat. Luar biasa, air terasa sangat dingin dan jernih sekali.

Sedangkan untuk II, track sangat panjang dengan melelahkan dengan jarak tempu 7 Km (pulang dan pergi). Diperparah lagi dengan kondisi jalan yang mandaki dan curam mencapai 45 derajat dan memakan waktu perjalanan selama 4 jam lebih tanpa berhenti. Pengalaman tracking ini sungguh berkesan dan luar biasa serta sangat berkesan. Karena, berjalan memang ramai atau rombongan. Tetapi jangan salah, kalau capek dan berhenti sendirian ditambah lagi jauh ditinggalkan rombongan, bisa-bisa dikawani “Sang Datuk” (harimau) dari belakang. Maka tak heran, yang mengikuti tracking II banyak yang sengsara, tepar, naik betis, keram tetapi nikmat.

Namun pada track ini, pengalaman dan pengetahuannya luar biasa. Diantaranya, lokasi sekitar mamalia lewat atau dikenal degnan daerah lintasan, harimau, gajah, tapir, beruang dan gajah serta hewan buas lainnya.

Track ini, tim menjumpai Telaga Teduh Tempat Bidadari Mandi. Aduh, sejuk dan indahnya lokasi ini. Bisa dibayangkan, yang namanya telaga tempat bidadari mandi turun dari kayangan itu tentu lokasinya teduh, spesial, eksotis dan romantis.

Kemudian juga mendaki Bukit Lancang dengan ketinggian 300 dpml (diatas permukaan laut). Untuk mencapai puncaknya jalannya berbelok-belok dan juga melalui anak tangga yang jumlah mencapai 80 anak tangga. Dengan kondisi berlumut, berair dan tentu sanga licin. Ampun….. Ampun.

Selain itu, juga di track II ini, ini tim menjumpai sang raja kayu yakni pohon Marsawa yang umurnya lebih kurang 200 tahunan dengan lingkaran diameter pokoknya mencapai 12 orang dewasa. Kok, bisa ya umurnya sampai segitu? Sementara pohon-pohon lainnya yang dilindungi, belum ada umurnya segitu. Ada apa? Apakah ada penghuninya? Allahu a’lam bissawaf.

Informasi dari penjaga TNBT, kayu marsawa ini memang sudah ada dan hidup, jauh sebelum Indonesia mardeka. Memang luar biasa, tergolong isimewa karena tertua dari pepohon yang ada di hutan larangan tersebut. ****

Check Also

Pemkab Inhu Permudah  Transaksi Melalui Aplikasi “Bela Pengadaan”

Bupati : Pemerintah Perlu Memberikan Kesempatan Pada Pelaku Usaha Mikro Kecil    INHU (Khabarmetro.com)– Untuk …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *