Sabtu , 28 November 2020

Beting Aceh Memikat, Tetapi Masih Sepi Penikmat

Eksplor Destinasi Wisata Pulau Rupat, Tertarik Karena Gencarnya Ekspos (bagian-3)

 

Laporan KHAIRUL AMRI, Dumai dan Bengkalis
amrik4551@gmail.com

 

TAK lengkap perjalanan wisata ke Pulau Rupat, khususnya Rupat Utara kalau tidak singgah ke Beting Aceh. Intinya: belum ke pulau Rupat, kalau belum ke Beting Aceh. Nama pulau ini sudah terekspos luas. Sayang juga kalau kunjungan ke sana dilewatkan.

Uniknya, pulau ini tak bisa dikunjungi di sembarang waktu. Saat air laut surut, barulah kita bisa menapak di sana. Karena saat air laut pasang, sebagian besar pantai dan daratan pulau ini akan ikut tenggelam.

Saya dan keluarga jadi penasaran. Termasuk teman saya, Selamat Riyadi. Walau dia tinggal di Kota Dumai, bahkan mertuanya orang Rupat, ternyata sekali pun dia belum pernah ke sana.

“Engkau iye lah. Tinggal di Pekanbaru. Aku yang tinggal di Dumai aje, mertua aku orang Rupat, belum pernah ke Beting Aceh tu,” kata Selamat dengan logat khas Melayu-nya.

Ahad pagi (15/11). Air laut di depan penginapan masih naik pasang. Kondisi ini membuat jadwal berangkat ke Beting Aceh sedikit tertunda. Dari info teman saya, sekitar pukul 09.00 wib barulah air laut berangsur surut. Berangkat ke Beting Aceh direncanakan sekitar pukul 09.30 wib.

Di penginapan sudah disedikan sarapan. Saya, isteri dan anak sarapan dulu. Teman saya Selamat, juga sarapan bersama. Sambil duduk di gazebo tepi pantai Teluk Rhu, kami bisa menikmati keindahan langit saat matahari terbit (sunrise). Pelan-pelan dari kejauhan terlihat mentari pagi di ufuk Timur mulai menampakkan diri. Indah sekali cahaya itu.

Angin laut pun terasa dingin. Sambil sarapan, kami pun sempat memanjakan mata dengan pemandangan indah itu. Dentuman ombak dari lautan memecah suasana pagi. Dapat terlihat jelas, persis di depan kami, di tengah laut, terbentang Selat Melaka. Selat ini adalah salah satu perairan tersibuk di dunia. Di sinilah laluan kapal-kapal besar, yang setiap waktu selalu ramai.

Selesai sarapan. Saya berkeliling di sekitar penginapan. Nah, lagi asyik-asyik bercerita dengan isteri, saat itulah saya bertemu Murparsaulian, yang biasa saya sapa Imunk. Dia ini satu profesi dengan saya. Kami pernah pula bekerja di grup media yang sama.

Imunk pun rupanya ke sini bersama keluarganya. Suami dan 2 anak lelakinya. Mereka sudah ada di Pulau itu sejak Jumat (13/11). Anak lelaki Imunk, pun pernah sama satu sekolah dengan anak saya Alifia Ananda Shalehah. Jadi, kami pun saling terkejut. Kok bisa pula bertemu di pulau Rupat. Seperti sudah direncanakan saja. Mau jalan-jalan di pulau yang sama pula.

Cerita punya cerita, Imunk bilang: mereka sekeluarga juga akan ke pulau Beting Aceh. Cuma belum dapat kepastian. “Kepastian soal apa?” Saya bertanya ke Imunk. Kata dia, soal transportasi ke pulau itu, dan berapa biayanya.

Inilah salah satu masalah di sini. Terlalu banyak sumber informasi soal satu hal, yang sebenarnya tak perlu terjadi. Masa iya. Soal ongkos atau sewa boat ke Beting Aceh saja, saya dan Imunk bisa beda-beda info. Kami, karena ada 4 orang, dapat info kalau ongkos ke sana Rp80 ribu per orang. Sementara Imunk dan keluarganya dapat info Rp85 ribu per orang. Padahal mereka juga berempat.

Belum lagi informasi dari pihak penginapan. Justru mereka pakai sistem sewa per-boat. “Kalau sewa boat ke Beting Aceh Rp800 ribu PP. Muatannya 10 orang,” kata isteri pemilik penginapan. Itu artinya, kalau penumpang boat kurang dari 10 orang, tentu biaya sewa boat menjadi mahal. Begitulah. Belum ada informasi valid sebagai rujukan pasti bagi para wisatawan. Itu baru soal ongkos boat. Belum lagi soal yang lain.

Akhirnya, dibantu teman saya Selamat Riyadi, dihubungilah pihak lain. Kebetulan Selamat dapat link di FB: @Beting Aceh Pasir Berbisik. Justru di medsos ini, biaya sewa atau biaya per orang naik boat ke Beting Aceh, hanya Rp50 ribu. Ada nomor kontak di FB itu. Selamat segera telepon, dan didapatlah info valid: biaya atau ongkos PP sesuai yang tertera di FB tersebut.

Tentu, saya dan keluarga beserta Imunk dan keluarganya jadi lega. Akhirnya kami putuskan untuk ikut rencana teman saya Selamat Riyadi. Kami senang, karena tak ada masalah lagi. Kami pun siap-siap untuk menuju ke titik penyeberangan, tempat perahu ditambatkan. Selamat sudah deal kan rencana berangkat. Semua sudah oke dan siap untuk berangkat ke Beting Aceh.

 

Jam di tangan sudah pukul 09.00 wib. Kami semua, jadinya ada 8 orang, sudah tiba di titik kumpul keberangkatan. Lokasinya tidak jauh dari penginapan kami. Imunk dan keluarganya bergerak lebih dulu. Saya dan keluarga, bersama Selamat, naik mobil menuju ke sana. Bisa pula saya parkir mobil di sini, tanpa harus was-was. Nyaman.

Setelah semua ready. Satu persatu kami diberi baju pelampung berwarna orange. Awalnya saya membayangkan kalau pelabuhan boat itu persis di situ. Seperti pelabuhan di tempat wisata lain, yang pernah saya kunjungi. Rupanya, karena air laut pasang, kami dibawa ke arah muara sungai. Letaknya sekitar 80 meter dari titik kumpul pertama. Dari muara inilah kami naik boat, menuju laut, lalu lanjut ke pulau Beting Aceh.

 

Ekspedisi Beting Aceh pun dimulai. Kami semua naik speedboat. Dua mesin menempel di bagian belakang. Speedboat ini terbuat dari fiber. Cerita teman saya, boat ini bantuan dari pemerintah untuk menangkap ikan. Tapi justru difungsikan untuk angkutan laut, hehe. Saya tak mau bahas soal itu. Karena ini ekspedisi jalan-jalan. Bukan mau cerita soal bantuan.

Boat bergerak di muara menuju ke laut. Muara yang tidak begitu luas, kiri kanan tumbuh pohon bakau nan hijau, membuat suasana hati jadi sejuk. Mata pun dimanjakan oleh pemandangan hutan bakau nan asri. Benar-benar asyik, terasa bebas di alam yang indah dan nyaman.

Semua yang ada di boat nampak senang. Walau arus muara sedikit deras, tapi kapten boat-nya cukup ahli. Penumpang pun tak perlu khawatir. Cukup enjoy, hepi menikmati perjalanan. Akhirnya, boat pun keluar dari muara dan sampai ke lautan. Perlu waktu sekitar 30 menit dari titik keluar muara itu, sampai ke pulau Beting Aceh. Untungnya air mulai surut, sehingga ombak laut tidak begitu terasa.

Selama perjalan menuju Beting Aceh, jika menoleh ke kiri, mata akan dimanjakan oleh pemandangan hutan bakau nan hijau dan gugusan pasir putih di sepanjang pantai. Jika menoleh le kanan, kita akan melihat laut lepas Selat Melaka. Wajar, jika tidak pas waktu menyeberang, kadang ombak laut pun cukup membuat jantung tidak stabil. Tapi kali ini, kami beruntung. Perjalanan ke Beting Aceh bisa dinikmati.

“Kalau tidak jumpa Khairul dan keluarga, kami mungkin tak sampai ke Beting Aceh. Udah ragu juga, karena informasinya simpang siur. Untunglah bertemu. Kita bisa sama-sama ke Beting Aceh,” kata Imunk, juga diakui suaminya.

Panas terik, pagi menjelang siang. Tapi karena angin laut kencang, justru lebih terasa terpaan angin daripada sinar matahari. Saya memilih duduk di bagian depan speedboat. Sangat asyik, bisa menikmati alam nan indah ciptaan Tuhan.

Boat makin dekat ke pantai. Karena landai, boat pun bisa langsung merapat sampai ke bibir pantai. Semua turun. Mata pun dimanjakan oleh pemandangan pasir putih di pulau Beting Aceh.

Pasir disini sangat putih. Walau airnya tidak terlalu jernih, tapi cukuplah kalau ingin berendam di laut. Ombak disini pun tidak terlalu kuat. Jadi tak sabar cepat-cepat bisa berenang di pantainya.

Kami menuju daratan. Saya lihat di pulau ini sudah ada tanda-tanda campur tangan pemerintah. Buktinya, sudah terpasang di sini papan pengumuman dari dinas terkait dari Kabupaten Bengkalis. Di sini juga sudah ada dibangun beberapa gazebo kecil, tempat wisatawan istirahat. Juga ada beberapa tempat duduk terbuat dari kayu yang disediakan.

Hanya saja, pulau ini belum diurus secara serius dan menyeluruh. Kondisi sekarang belum bisa dibilang cukup, untuk dijadikan sebagai salah satu destinasi favorit. Sampah dimana-mana berserakan, karena memang tidak ada dibuatkan tong sampah khusus di sini. Beberapa fasilitas pun seperti tak dirawat, seperti dibiarkan begitu saja.

Yang paling memunculkan tanda tanya: di pulau ini tidak ada penghuninya sama sekali. Jangankan jaringan listrik dan air bersih, sekedar tempat untuk buang air (bisa saja portable), pun tak ada. Tempat santai untuk menikmati makanan dan minuman ringan, pun belum ada yang berani mendirikannya.

Lagi-lagi kawan saya, Selamat Riyadi protes. “Ya, macam ginilah. Ekspos Beting Aceh ni sudah kemane-mane. Tapi kondisinya macam pulau tinggal saja. Kadang awak pun heran nengok pemerintah ni,” kata Selamat dengan logat Melayu-nya.

Namun begitu, Penjabat (Pj) Bupati Bengkalis H Syahrial Abdi AP MSi tak menampik kondisi destinasi di pulau Rupat seperti itu. Dia memberikan penjelasan dan beberapa alasan soal kondisi ini.

“Membangun pariwisata Bengkalis tak bisa sendiri dan mengandalkan APBD saja. Harus bersama, sinergi Pemkab, Pemprov, pusat dan dunia usaha,” kata Bupati.

Kelemahan selama ini, tambahnya, terlalu berharap dari APBD bengkalis saja, dan itu sesuatu yang mustahil. “Kita harus buka diri, mendengar masukan-masukan, menjalin hubungan, merajut jejaring, komunikatif, dan harus gigih memperjuangkannya,” jelas Syahrial mengarahkan.

“Saya yakin Rupat segera melesat (efek tol permai, red). Suatu saat, warga Pekanbaru cukup 3 jam akan sampai ke akses pantai-pantai di Rupat,” ujar Bupati optimis. “#sendiritakhebat.” Tulis Bupati di akhir komentarnya via WA.

Itulah yang jadi masalah. Sehingga saat kami sampai di Beting Aceh, serasa pulau ini milik pribadi saja. Sebab, kemarin, tidak ada orang lain yang berkunjung ke sini. Pulau indah begitu luas, dan sangat memikat, tetapi masih sepi pengunjung atau penikmat.

Kadang, seperti kata kapten speedboat bernama Jasri, pada saat libur panjang ramai juga wisatawan datang berwisata ke Beting Aceh. “Kemarin pas libur panjang, ramai juga yang nyeberang ke sini. Tapi hari ini sepi pula,” kata Jasri ke saya.

Karena itulah, saya dan teman saya Selamat Riyadi cuma bisa bercerita dan berandai-andai, suatu saat Pemkab Bengkalis bisa turun tangan dan konsern memajukan wisata di Beting Aceh. Paling tidak, disiapkan saja kebutuhan dasar di pulau itu, seperti listrik dan air bersih, sehingga pihak lain berkenan untuk mengembangkan pulau nan indah dan molek ini.

Meski begitu, untuk mengobat hati, saya dan teman saya tetap juga mandi dan berenang di pulau ini. Begitu pun suami dan anak Imunk. Walau kami sudah tahu tidak akan bisa mandi dan bilas badan di pulau itu, semangat untuk merasakan air laut di Beting Aceh sudah menggebu.

Badan kami sudah asin. Baju dan celana basah-basah semua. Sementara cuaca sangat terik. Alhasil, dari Beting Aceh ke Tanjung Medang, kami sudah seperti ikan asin, hehe.

Jelang pukul 12.00 wib, kami siap-siap kembali ke Tanjung Medang. Semua sudah naik ke boat. Kapten boat pun sudah pula hidupkan mesin boat. Pemberat boat ditarik ke atas. Pelan dan makin lama semakin kencang, boat kami pun meninggalkan Beting Aceh.

Saya hanya bisa menatap pulau indah itu. Di hati saya berucap: suatu saat saya akan datang lagi ke pulau ini. Tapi ketika nanti saya datang lagi, pulau Beting Aceh harus sudah dikelola sebagai salah satu destinasi wisata favorit. Sehingga pulau ini akan ramai. Wisatawan yang datang juga akan silih berganti. Dan, tentunya ekonomi masyakarat akan maju dan semakin baik. “Kita pasti bisa.” (selesai)

About Amat Tarmizi

Check Also

Riau Didukung Gubri Jadi Tuan Rumah Rakernas II MASATA 2021

MASATA Riau Hadiri Rakernas I di Bandung Ketua MASATA DPD Riau Ahmad Fadli (dua kanan) …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *