Sabtu , 27 November 2021

Berbagi Pengalaman Ikut Divaksin Covid-19

Jujur Beri Informasi, Badan Sehat Setelah Vaksinasi

Laporan KHAIRUL AMRI, Pekanbaru
amrik4551@gmail.com

 

TAK banyak yang bisa dibagi cerita, setelah menjalani langsung proses vaksin Covid-19. Tapi paling tidak, pengalaman ini bisa jadi penyemangat bagi yang belum divaksin.

Jujur. Perasaan saya agak was-was juga. Ketika dapat ajakan dari rekan, ikut Vaksinasi Massal Nasional Covid-19. Gerakan ini dapat perhatian dari Presiden Jokowi. Ia datang langsung menyaksikan proses awal di sejumlah tempat. Termasuk di Pekanbaru, Riau.

“Jangan ditunggu lagi. Sekarang vaksin. Biar lebih sehat,” tulis rekan saya di WA. Begitu menerima pesan ini, kali ini tak bisa menolak lagi. Segan juga menolak, karena ini sudah ajakan kesekian kalinya. Akhirnya ajakan ini pun di iya-kan saja.

Tak habis akal. Beberapa kawan dekat saya ajak serta. Ada 2 orang teman yang menyatakan bersedia ikut. Sedangkan yang lain pun beralasan sama: belum siap divaksin. Mereka tak siap, karena masih banyak pertimbangan. Salah satunya soal kekhawatiran kondisi badan setelah divaksin. Ditambah lagi dengan banyaknya informasi berseliweran di media sosial, ada yang benar, tapi tak jarang iuga hoax. Itu juga yang membuat saya sempat was-was. Tapi kali ini, saya niatkan saja benar-benar siap dan semangat.

“Tak perlu sulit-sulit. Nanti saya bantu,” kata rekan saya itu. Kebetulan namanya tak mau ditulis. Karena menjaga kode etik, sebab dia seorang dokter.

Benar saja. Pas hari H, Jumat (21/5/2021). Saya dapat telepon. Diminta datang ambil formulir kesediaan ikut vaksin Covid-19. Ada 3 KTP yang saya WA kan ke dia. Itu artinya ada tiga pula formulir isian yang akan saya ambil. Saya dan dua rekan lagi siap-siap untuk menjalani proses vaksinasi.

Waktu yang dijanjikan pun sampai. Pukul 16.00 wib, saya dan dua rekan lagi sudah sampai di lokasi vaksinasi. Di salah satu hotel berbintang di Jalan Riau, Pekanbaru. Kebetulan saya dan rekan satunya lebih duluan hadir. Sedangkan rekan satu lagi agak telad. Namun itu tak masalah. Kami akhirnya tetap bisa sama-sama divaksin di ruangan yang sama, di ball room lantai 7 hotel tersebut.

Meski sudah petang, peserta vaksin ternyata masih ramai. Ruangan ball room yang begitu besar, kelihatan kecil. Sebab di ruangan ini disusun kursi. Banyak sekali kursi. Ada meja tempat petugas dan tenaga medis di sana. Panitia pun nampak sibuk mengatur, agar vaksinasi ini berjalan tertib.

Saya dan dua rekan lagi, yang kebetulan dibantu rekan di sana, tidak terlalu sulit buat sampai ke meja petugas. Tapi, syukurnya, di tempat kami vaksin ini, di jam petang itu, tak lagi begitu ramai yang antre. Alhasil, prosesnya berjalan lancar.

Sampai di meja petugas, formulir yang sudah diisi pun kembali diperlihatkan ke saya. Disodorkan satu form lagi, perlu diisi oleh calon peserta vaksin. Form ini berisikan data diri, dan kesediaan untuk divaksin.

Petugas pun mulai bekerja. Tensi dicek. Masih aman. Lalu beberapa pertanyaan di form isian awal tadi ditanyakan ulang oleh petugas medis.

Di antara pertanyaan itu, soal kondisi kesehatan pribadi calon penerima vaksin. Misal, apakah ada sakit, seperti flu atau batuk dalam sepekan terakhir. Lalu, apakah ada kontak dengan orang terpapar covid.

Di sinilah kita harus jujur menjawab semua pertanyaan itu. Saya tak mau berisiko. Semua yang ditanyakan itu, alhamdulilah aman. Kondisi badan benar-benar dalam kondisi fit. Dan, jika sudah oke, barulah lanjut ke proses berikutnya.

Form isian awal selesai, form kesediaan juga sudah diteken. Semua proses aman. Saya siap untuk divaksin.

“Aman semua, ya. Selanjutnya bisa divaksin,” kata petugas itu. Saya pun diminta bergeser ke bangku samping. Sudah ada dokter di situ. Dan, sebelum disuntik vaksin, pun masih ditanya oleh dokter, apakah siap divaksin.

Karena saya katakan: siap, dokter muda yang berjilbab, berkaca mata dan berparas cantik ini meminta saya untuk menaikkan lengan baju hingga ke bahu. Karena suntik vaksin covid ini pas di pangkal lengan sebelah kiri.

Jarum suntik sudah ada di tangan dokter. “Tarik napasnya, pak…,” kata dia. Sekejap itu juga jarum ditusukkan ke lengan saya. “Lepas napasnya lagi, pak,” ujar dokter itu. Suntik vaksin pun selesai.

Rasanya tidak sakit. Seperti digigit semut. Setelah itu normal lagi. Bekas suntikan itu pun diberi tempelan kapas. Proses suntik vaksin saya pun selesai.

Begitu pula dua rekan saya. Mereka yang awalnya agak was-was, setelah tahu proses vaksin begitu cepat dan mudah, akhirnya ikut tenang. Keduanya juga lamcar menjalani vaksinasi covid petang itu. Sambil menunggu proses lanjut, 15 menit, kami diminta duduk di kursi. Saat itu pula semua senang, tertawa dan saling bercerita, eh ternyata vaksin covid aman dan tidak pakai waktu berlama-lama.

Tak lama berselang, masing-masing kami dipanggil untuk diberikan kartu dan selembar kertas. Ini adalah bukti sudah melaksanakan vaksin tahap I. Di kertas itu juga tertera jadwal vaksin tahap II yang jaraknya 28 hari, atau 4 pekan ke depan. Termasuk dimana fasilitas kesehatan (faskes) yang nantinya bisa dituju.

Selain itu, melalui SMS ke nomor aktif yang didaftarkan pada form pendaftaran vaksin, pun dikirimkan link berisikan sertifikat vaksin tahap I. Ini adalah sertifikat digital yang bisa dibuka kapanpun, atau bisa disimpan di smartphone masing-masing.

Efek Ngantuk, Bangun Pagi Badan Lebih Segar

Macam-macam yang dirasakan setelah divaksin covid. Ada yang tiba-tiba demam. Ada juga yang sakit berminggu-minggu. Bahkan ada pula versi media sosial, katanya sampai lumpuh dan tak sadarkan diri.

Saya pun awalnya terbawa-bawa cerita itu. Pasalnya, ada juga tetangga dekat yang selesai divaksin tiba-tiba demam tinggi. Walau akhirnya pelan-pelan sehat kembali.

Hal ini saya tanyakan ke dokter dan rekan yang mengerti. Mereka bilang: kuncinya adalah jujur menjawab setiap pertanyaan diisian form pendaftaran itu. Jangan sekali-kali tidak jujur. Kalau tidak jujur tentang kondisi diri sendiri, maka bukan tidak mungkin akan berakibat kurang baik pada diri sendiri.

Kondisi saya, alhamdulilah aman dan baik-baik saja. “Biasanya ada efek ngantuk,” kata salah seorang petugas medis ke saya. Dan, ini memang saya rasakan. Setelah divaksin, terasa sekali mengantuk. Berkali-kali saya menguap tanda mengantuk. Tapi, saya tidak langsung tidur.

Jadwal vaksin saya pas di jam 4 sore. Setelah itu saya pula ke rumah. Mandi sore seperti biasa. Lalu, sholat Magrib dan Isya. Lanjut makan makan malam seperti biasa. Walau terasa mengantuk, tetap saya upayakan santai.

Barulah sekitar pukul 21.00 wib saya beranjak tidur. Padahal jadwal tidur malam saya, biasanya pukul 22.30 wib. Artinya, saya malam itu tidur 1,5 jam lebih awal. Dan ini membuat saya lebih nyaman.

Apa hasilnya besok hari? Jam tidur saya lebih lama. Pukul 04.30 wib saya bangun. Badan terasa lebih segar. Durasi tidur saya menjadi lebih lama dari biasa. Mungkin itu pula yang membuat badan jadi lebih fit.

Walau efek jarum suntik di lengan kiri masih terasa. Tapi, kondisi badan sama sekali tidak lemah. Saya bersyukur vaksinasi tahap I ini berjalan baik dan tubuh saya bisa menerima cairan vaksin ini dengan baik.

Hingga hari ini, Ahad (23/5/2021) badan saya terasa normal. Selain itu, saya jadi lebih percaya diri untuk bercerita tentang vaksin covid ini ke rekan-rekan lainnya. Meski mereka banyak yang masih terkesan takut, tapi saya akan bercerita apa adanya, yang saya rasakan saat ini. Semoga yang saya rasakan bisa sama pula dirasakan oleh siapa saja yang akan dan sudah menjalani vaksin Covid-19. **

Check Also

IKM Langgak Craft Raih Penghargaan Pada Malam Puncak Nothern Sumatera Forum 2021

PASIRPENGARAIAN (khabarmetro.com) –Industri Kecil Menengah (IKM) Langgak Craft sebagai UMKM binaan PT SPR Langgak memperoleh …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *