Senin , 27 April 2026

Pacu Sampan yang Unik, Sakral dan Memacu Pembangunan

 Budaya Lestari, Pariwisata Maju, Ekonomi Bangkit dan Masyarakat Sejahtera

 

PACU Jalur adalah sejenis lomba dayung tradisional yang berasal dari Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Perlombaan mendayung menggunakan perahu atau “jalur” itu disebut masyarakat Kuantan Sengingi ini memang agak unik. Karena Pacu Jalur
bukan semata olahraga dayung saja tetapi pacu dayung ini berpaduan dengan seni dan bahkan magic.

Menurut kepercayaan masyarakat Kuansing, konon sejarah pacu jalur ini sudah ada sejak abad ke- 17 dan merupakan tradisi budaya turun-temurun ini sudah diwariskan lebih dari 100 tahun para nenek moyang masyarakat Kuansing. Awalnya pada abad ke-17 itu, jalur ini hanya digunakan sebagai alat transportasi bagi masyarakat yang tinggal sepanjang aliran Sungai Kuantan. Bahkan
masa penjajah Kolonial Belanda Pacu Jalur ini digunakan merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) Ratu Wilhelmina setiap tanggal 31
Agustus setiap tahunnya. Namun setelah Indonesia merdeka, tradisi Pacu Jalur dilaksanakan untuk merayakan Hari Ulang Tahun
(HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia dan hari raya agama Islam seperti Idul Fitri di Riau.

Pacu jalur ini juga bukan semata olahraga tetapi pacu jalur ini sudah mendarah daging pada masyarakat Kuansing. Karena  sejarahnya, Pacu Jalur ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat Kuansing. Karena dari Pacu Jalur inilah banyak kegiatan
yang membuat masyarakat Kuansing itu selalu kompak dan bersatu serta gembira pada saat melihat pacu jalur.

Seperti dalam pembuatan perahu (jalur) misalnya. Untuk membuat jalur ini pohon tidak bisa sembarangan saja tetapi kayu pilihan  seperti kayu meranti dan sejenisnya dengan panjang mencapai 35- 45 Meter dengan diameter 120 meter, yang tentunya usianya
pasti mencapai puluhan tahun bahkan ratusan tahun. Untuk mencari kayu seperti itu dimana didapatkan? Salah satu, tentu ada di hutan lindung. Maka wajar, dengan adanya pacu jalur ini, masyarakat dan pemerintah Kuansing menjaga kelestarian hutan lindung
di daerah itu.

Begitu juga untuk bahan baku jalur ini adalah pokok kayu besar kayu super. Untuk mendapat dan menetapkan pohon kayu  panjajng dan besar itu tidak semberang ambil saja tetapi wajib memakai acara ritual terlebih dahulu. Misalnya, sebelum mengambil
kayu besar, cari beberapa batang terlebih dahulu. Setelah didapatkan kemudian dilaporkan ke ninik mamak atau para tetua kampung. Setelah itu, beberapa anggota masyarakat dan bersama ninik mamak tadi melakukan ritual terlebih dahulu. Tujuannya untuk menghormati dan meminta izin kepada “penghuni” hutan saat mengambil kayu yang besar.

Dilihat perkembangannya, jumlah jalur cendrung dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Sementara pohon yang digunakan untuk pembuatan “Jalur” sulit untuk didapatkan. Untuk mendapatkan pohon pilihan dan usia puluhan tahun tentu tidak  gampang dan kayu seperti ini tidak ada dihutan milik masyarakat tetapi hanya ada di hutan lindung atau hutan adat. ”Inilah ancaman dari pacu jalur. Mencari kayu pilihan yang panjang 45-60 M ini sangat sulit. Kayu seperti ini tentu ada di hutan lindung hutan larangan lainnya,” papar Bupati Kuansing, Suhardiman Amby didampingi Kadis Kebudayaan dan Pariwisata Kuansing, Azhar Ali dihadapan “Tim ekspedisi jurnalistik PWI Riau Tahun 2024 yang melakukan rangkaian kunjungan kerja di Kabupaten Kuantan
Singingi (Kuansing) awal Juni lalu.

Begitu juga untuk mendapatkan dan membawa pohon untuk dibawa ke kampung untuk dibuat jalur. Dengan adanya acara ini, membuat masyarakat Talukkuantan harus bergotong royong karena memindahkan pohon yang panjang 50 meter perlu tenaga yang
kuat yang dilakukan bersama-sama. Begitu juga setelah jalur sudah siap, ada lagi trdisi “maelo” jalur. Ini juga tidak pekerjaan yang bisa dialkukan 2 atau 3 orang tetapi harus bersama dengan bergotong royong.

Tradisi ini dari zaman nenek moyang sampai sekarang tetap berlangsung dan sudah bersebati pada masyarakat Kuansing. Bahkan sejak Indonesia Mardeka, tradisi pacu jalur ini tidak pernah berhenti dilaksanakan. Bahkan berbagai ancaman silih berganti yang
datang, namun acara tradisi pacu jalur tetap dilaksanakan. Bahkan semakin tahun event pacu ini semakin besar dan semarak.

Sebagai bentuk keseriusan, bukan saja menjadi kelender wisata Kabupaten Kuansing tetapi menjadi kelender pariwisata Provinsi
Riau. Tahun 2023 lalu, event tradisional yang juga dikenal sebagai pesta rakyat ini sukses digelar dan diikuti 193 jalur yang berasal dari Kabupaten Kuansing, serta berbagai Kabupaten lainnya yang berada di Riau. Pacu jalur ini adalah gabungan unsur olahraga
dan seni yang sangat indah. Makanya, tidak heran jika Festival Pacu Jalur menjadi salah satu festival budaya terbaik di Indonesia
yang sukses menarik perhatian wisatawan.

Bahkan tahun 2023 pacu jalur yang digelar 23-27 Agustus setidaknya ada 193 jalur yang berasal dari Kabupaten Kuansing, serta
berbagai Kabupaten lainnya yang berada di Riau. Karena pacu jalur ini gabungan unsur olahraga dan seni, tidak heran jika Festival pacu Jalur menjadi salah satu festival budaya terbaik di Indonesia yang sukses menarik perhatian wisatawan. Menurut data dari Provinsi Riau, Festival Pacu Jalur berhasil menarik kunjungan 1,3 juta orang.

Disisi lain, Festival Pacu Jalur Tradisional yang menyuguhkan atraksi seni dan budaya di Kabupaten Kuantan Sengingi sangat besar pengaruhnya terutama pembangunan di Kuantan Sengingi itu. Dengan ada pacu jalur, bermunculan wisma atau hotel, restoran dan
rumah makan berdiri dan beroperasi. Terbuka lapangan pekerjaan. Selain dampak langsung dirasakan masyarakat adalah meningkat penjualan dari pedagang, seperti penjualan makanan khas kuansing dan barang harian lainnya.

”Dengan banyak orang datang ke Kuansing tentu penginapan dana wisma banyak terisi. Kemudian para wisatawan berbelanja disini. Seperti inilah yang kita idam-idamkan, dengan festival ini budaya kita lestari, potensi wisata dan pariwisata kita gali dan kita
majukan, Ekonomi masyarakat menggeliat dan bangkit. Kalau ini sudah terwujud tentu masyarakat Kuansing ini akan sejahtera,” ungkap Bupati.

Seperti diungkapkan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menjelaskan, Festival Pacu Jalur menjadi salah satu bagian dari 110 event dalam Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023. Diharapkan dengan hadirnya banyak wisatawan dapat membangkitkan ekonomi masyarakat.

“Event-event daerah ini akan membuka peluang usaha, akan menggeliatkan ekonomi, akan terlihat UMKM-UMKM yang mendapatkan
omset lebih tinggi, selain itu ini akan memberi dampak langsung bagi masyarakat di Kuansing,” yakin Sandiaga.

Bahkan tambah Sandiaga, Pemerintah Republik Indonesia juga telah mengakui dan menetapkan Pacu Jalur sebagai bagian integral
dari Warisan Budaya Nasional Takbenda asli Indonesia dan menjadikan Pacu Jalur menjadi agenda pariwisata nasional KEN
Kemenparekraf. “Sebagai upaya untuk melestarikan warisan budaya tersebut, pemerintah Indonesia mendukung Festival Pacu Jalur
diadakan setiap tahun di Kuantan Singingi dan mempromosikan pentingnya festival tersebut kepada masyarakat luas baik nasional
maupun internasional,” ucap Kepala Dinas Pariwisata Riau, Roni Rakhmat.

Pada tahun 2022 lalu, Pacu Jalur menyedot 1,3 juta orang yang menyaksikan acara tersebut. Mereka berasal dari kalangan pedagang
luar daerah dan masyarakat Kuansing yang kembali dari perantauan, hingga wisatawan lokal dan asing. Untuk tahun ini, Pemprov Riau sudah menyiapkan hadiah, totalnya sekitar Rp 250 juta untuk para pemenang. Ada juga dari Pemda Kuansing sebesar Rp 300
juta. Banyak juga masyarakat Kuansing yang juga menyiapkan hadiah, secara pribadi.

Festival bergengsi

Pacu jalur menjadi tradisi kebanggaan bagi masyarakat Kuansing. Tak heran saat pacu jalur berlangsung, sepanjang Sungai Kuantan berubah menjadi lautan manusia yang ingin menyaksikan langsung pertandingan. Dijelaskan Bupati Suhardiman festival seni
budaya yang sudah dilestarikan selama ratusan tahun ini tidak hanya menyapa Provinsi Riau, tapi gaungnya telah mendunia. “Kami sangat menyambut dengan penuh kekaguman festival pacu jalur ini setelah sempat absen dua tahun lamanya, sekarang kembali hadir menjadi festival yang sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Saatnya Kuansing menjadi salah satu tujuan wisatanasional
dan dunia,” ucap Datuk Suhardiman ini.

Selama festival berlangsung, juga acara bazar juga berlangsung, ribuan pedagang dari berbagai kota/provinsi di Indonesia memanfaatkan kesempatan itu. Salah satu warga Kuantan Singingi yang turut menyaksikan acara ini Metri mengaku bangga akan budaya dan tradisi yang telah turun temurun dilaksanakan di daerahnya.

Festival Pacu Jalur menjadi salah satu bagian dari 110 event dalam Karisma Event Nusantara (KEN) 2023. Berlangsung lebih kurang seminggu hari, Festival Pacu Jalur sukses menarik perhatian masyrakat Indonesia, dan menjadi topik hangat di media sosial. Tak  hanya karena seru, popularitas Festival Pacu Jalur saat ini melejit dan terkenal ke seontero dunia Internasional.

Faktanya, tradisi turun-temurun ini memiliki makna dan filosofi yang sangat mendalam. Baik itu dari segi pembuatan perahu,hingga makna di setiap gerakan sang penari saat Pacu Jalur. Ditambah lagi, pembuatan jalur tidak dilakukan sembarangan. Sebelum
mengambil kayu besar, seluruh masyarakat harus melakukan ritual terlebih dahulu. Tujuannya untuk menghormati dan meminta
izin kepada hutan belantara saat mengambil kayu yang besar.

Tentang jalur, Tambah Suhardiman, satu jalur bisa menampung 50-60 orang (anak pacu), dan setiap orang di perahu memiliki tugas  masing-masing. Baik itu Tukang Concang (komandan atau pemberi aba-aba), Tukang Pinggang (juru mudi), dan Tukang Onjai
(pemberi irama dengan cara menggoyang-goyangkan badan), dan terakhir adalah Tukang Tari atau Anak Coki yang berada di posisi
paling depan.

Menariknya, posisi Tukang Tari hampir selalu diisi oleh anak-anak. Alasannya karena anak-anak memiliki berat badan yang tergolong ringan. Dengan begitu, perahu tetap bisa melaju dengan lincah. Uniknya, gerakan yang dilakukan Anak Coki memiliki makna tersendiri. Anak Coki menari di depan jalur kalau perahu yang dikendarainya unggul. Kalau sudah sampai garis finish, Anak  Coki akan langsung sujud syukur di ujung perahu. Berkat keunikannya, tentu tidak heran jika Festival Pacu Jalur menjadi salah
satu festival yang dinantikan oleh banyak orang. (adnan)

Check Also

Aktif Lapor Masalah Sampah, Wako Berikan Reward

  Pemerintah MKota Pekanbaru menempati janjinya dengan memberikan  pemberian reward, terhadap warga yang aktif melaporkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *