
Para dosen IPB University yang ikut program Dospulkam 2026.
PEKANBARU (Khabarmetro.com) – IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung (Dospulkam) 2026 mendampingi lima usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) olahan perikanan di Kota Pekanbaru dan Kabupaten Kampar, Riau.
Program yang berlangsung pada 12–14 Oktober 2026 ini berfokus pada penguatan merek, pengembangan kemasan, serta peningkatan kemampuan pemasaran digital.
Tim yang dipimpin Dr. Nimmi Zulbainarni mengawali kegiatan dengan mengunjungi lima pelaku usaha, yakni Zayyan Homemade, Shanaya Food, Rendang Ikan Pak Ombak, Dapoer D’Family DaiDilDi, dan PT Sedap Molex Nusantara.
Kelima UMKM tersebut mengembangkan beragam produk olahan perikanan, mulai dari sarden, abon, siomay, Sotindang atau bakso patin kuah udang, rendang ikan, sambal ikan salai patin suwir, hingga kecap ikan patin.
Melalui kunjungan langsung dan dialog bersama pemilik usaha, tim mengidentifikasi berbagai kebutuhan pengembangan bisnis. Persoalan yang mengemuka antara lain pengiriman produk beku, kesesuaian kemasan, konsistensi informasi produk, serta pengelolaan promosi digital di tengah keterbatasan tenaga dan waktu.
Pengelola Shanaya Food, Innayah Umnihanie, mengungkapkan bahwa pengelolaan media sosial usahanya masih ditangani sendiri. “Selama ini memang saya pegang saja, saya belum punya tim,” ujarnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran tantangan yang dihadapi UMKM dalam mengembangkan pemasaran digital tanpa mengabaikan kegiatan operasional sehari-hari.

Pelatihan Berbasis Produk UMKM
Pada hari kedua, Selasa (13/10), peserta mengikuti pelatihan dan praktik pemasaran digital yang dibuka oleh Dr. Nimmi Zulbainarni.
Materi pelatihan mencakup lima aspek utama, yakni branding dan nilai jual produk, pengembangan produk dan kemasan, marketplace dan toko digital, strategi konten, serta live commerce dan live selling.
Pelatihan tidak hanya berisi pemaparan teori, tetapi juga praktik menggunakan produk masing-masing peserta. Para pelaku UMKM memanfaatkan Brand Canvas untuk menentukan sasaran konsumen dan keunggulan produk, mengevaluasi kemasan dan label, serta meninjau kelengkapan informasi dalam katalog digital.
Peserta juga berlatih menyusun ide konten berdasarkan pertanyaan pelanggan, membuat keterangan promosi atau caption dengan ajakan pemesanan yang jelas, serta mempraktikkan cara mempresentasikan produk melalui siaran langsung.
Sebelum dan sesudah pelatihan, peserta mengikuti tes untuk mengukur pemahaman terhadap materi yang diberikan. Setiap tes terdiri atas 15 soal pilihan ganda dengan waktu pengerjaan 15 menit.
Pada sesi penutup hari kedua, Dr. Suhendi merangkum materi sekaligus membahas kebutuhan peserta sebagai dasar pendampingan lanjutan.
Nilai Evaluasi Tetap Tinggi
Evaluasi pada Rabu (14/10) menunjukkan bahwa rata-rata nilai pre-test dan post-test dari lima peserta sama-sama mencapai 93,3 pada skala 0–100.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemahaman awal peserta terhadap materi yang diujikan sudah tinggi. Namun, belum terdapat kenaikan pada rata-rata nilai keseluruhan setelah pelatihan.
Karena itu, penguatan berikutnya diarahkan pada penerapan materi dalam kegiatan usaha, terutama kejelasan ajakan pemesanan, kesiapan melakukan live selling, dan keakuratan informasi stok produk.
Tim juga meninjau lembar kerja peserta yang masih perlu dilengkapi. Masukan diberikan terkait kejelasan nilai jual, konsistensi informasi produk, dan ketersediaan bukti pendukung.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu setiap UMKM menetapkan prioritas perbaikan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan usahanya, bukan sekadar mengikuti materi pelatihan.

Sepakati Rencana Aksi 30 Hari
Sebagai tindak lanjut, kelima UMKM menandatangani surat perjanjian komitmen untuk melaksanakan rencana aksi selama 30 hari.
Peserta berkomitmen melaporkan perkembangan setiap minggu melalui kanal komunikasi yang disepakati. Laporan tersebut dilengkapi bukti kegiatan, kendala yang dihadapi, serta kebutuhan bantuan.
Tim Dospulkam akan memberikan arahan, umpan balik, dan pemantauan sesuai mekanisme pendampingan yang telah disepakati. Hasil pelaksanaan rencana aksi beserta bukti pendukung ditargetkan terkumpul paling lambat 14 November 2026.
Apabila peserta menghadapi kendala, langkah perbaikan, target, maupun jadwal pelaksanaan dapat dibahas dan disesuaikan bersama tim pendamping.
Rangkaian kegiatan turut mendapat dukungan dari para mitra, yakni Dr. T. Ersti Yulika Sari, S.Pi., M.Si. dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau, serta Alfa Frisa Septania dan Dr. Novi dari Asia Small Business Federation (ASBF) Regional Riau.
Kegiatan ditutup oleh Dr. Nimmi Zulbainarni, dilanjutkan dengan penyerahan cenderamata Sekolah Bisnis IPB University kepada para mitra dan foto bersama.
Melalui program Dospulkam 2026, pendampingan UMKM olahan perikanan di Riau diarahkan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi berlanjut pada penerapan pengetahuan, evaluasi kemajuan, dan perbaikan usaha secara terukur selama 30 hari.
Keberhasilan program selanjutnya akan dinilai dari pelaksanaan rencana aksi dan bukti perubahan yang dapat ditunjukkan masing-masing UMKM dalam mengembangkan produk serta memperkuat pemasaran digitalnya. (rls/irg)
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU