Rabu , 23 September 2026

Kini: Baru, Baru, Baru [5]

OPINI

Oleh: Khairul Amri*

JADI ingat tagline yang dipopulerkan oleh pak Dahlan Iskan (DI), mantan bos Jawa Pos induknya Riau Pos: Kerja, Kerja, Kerja.

Apa pun masalahnya, menurut versi pak DI akan bisa selesai asal mau kerja dengan sungguh-sungguh. Intinya, selalu ada jalan keluar atau solusi.

Nah, di Riau Pos Kini, ada juga yang mirip itu. Tapi, tagline-nya: Baru, Baru, Baru.

Ceritanya begini.

Bisnis media mulai terasa berat, sejak 2012. Makin berat ketika memasuki 2015 dan 2016. Pas pula waktu itu saya diberi amanah menjadi pimpinan di PT Pekanbarupos Intergrafika Pers (koran Pekanbaru Pos).

Jabatan saya waktu itu, adalah Wakil General Manager (GM). Dan, tak kepalang beratnya, ketika awal 2017: saya dipercaya pula menjadi GM Pekanbaru Pos.

Meski berat, tapi saya ingat betul kalau budaya kerja perusahaan (corporate culture) Riau Pos Group yang ditanamkan pak Rida K Liamsi, bos lama kami: “maju bersama dalam kebersamaan”, membuat yang berat menjadi terasa ringan.

Itulah yang saya tularkan ke bawah, ke jajaran karyawan Pekanbaru Pos.

Hingga pada suatu waktu, saya ingat betul, saking terasa sulit, sampai saya merayu karyawan: dalam kondisi sulit, perusahaan belum bisa memenuhi kewajiban terhadap karyawan, jika ada yang mau mundur silahkan saja, dan akan diproses sesuai ketentuan.

Tapi, karena budaya kerja perusahaan tadi, saya terenyuh mendengar jawaban para karyawan ketika itu.

Ternyata mereka tak mau mundur, dan masih tetap ingin lanjut bekerja, walau perusahaan tak mampu memenuhi kewajiban secara penuh.

Ini pula yang membuat saya, sebagai pimpinan Pekanbaru Pos, semakin bersemangat.

Awal “Malapetaka”

Cerita inilah yang menjadi babak baru Riau Pos Group. Istilahnya saya sebut: Riau Pos Kini.

Saat saya hadir pada salah satu persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, salah seorang saksi: Ahmad Dardiri yang sekarang menjabat sebagai Dirut PT Riau Pos Intermedia/CEO Riau Pos berujar, bahwa disebabkan kondisi perusahaan Riau Pos terus tidak membaik maka diutuslah tiga orang oleh Jawa Pos.

Kata Ahmad Dardiri, mereka bertiga: Suhendro Boroma, Ahmad Dardiri dan Kusbianto dikirim dari Jawa Pos ke Riau Pos. Tujuannya adalah untuk memperbaiki kinerja dan kondisi perusahaan. Itu, kata dia, sekitar bulan Juni 2017.

Tapi, lucunya, ketika Ahmad Dardiri dicecar oleh salah seorang pengacara dengan pertanyaan: “bagaimana kondisi keuangan dan perusahaan Riau Pos sekarang?”, dia malah menjawab, “kalau sekarang kondisinya menurun.”

Ini, kan aneh!

Setelah memegang tampuk pimpinan di Riau Pos Group selama lebih dari 9 tahun, kondisi perusahaan bukan makin baik. Tetapi justru semakin terpuruk.

Versi saya, bahwa Manajemen baru, baru, dan baru inilah yang menjadi “malapetaka” awal sehinga Riau Pos Group menderita seperti sekarang.

Banyak lagi cerita lain. Saya akan ceritakan dengan versi saya. Sehingga bisa menjawab tanya: ada apa sebenarnya di Riau Pos sekarang. Seperti apa Riau Pos Kini?

Jangan sampai dilewatkan. Simak terus kelanjutannya. ** (bersambung)

*) Khairul Amri, adalah eks karyawan Riau Pos Group yang sedang berjuang menuntut haknya. Pernah bekerja di Riau Pos selama 20 tahun. 

Check Also

Pengalaman Sarapan di Batam

Serasa Dilayani “Robot” Sarapan di Morning Bakery Batam. Oleh: Khairul Amri* JALAN pagi (joging) di …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *