Senin , 31 Agustus 2026

Bersempena Memperingati 69 Tahun Hari Kebangsaan Malaysia: 101 Tahun Tun Mahathir

OPINI

Oleh: Ilham Muhammad Yasir*

TUN Dr. Mahathir Mohamad dan istrinya, Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali, sekarang menjadi pasangan langka. Bukan semata-mata karena jejak politik Mahathir yang cemerlang sekaligus kontroversial, melainkan karena keduanya telah melampaui batas usia satu abad.

Mahathir genap berusia 101 tahun pada 10 Juli 2026 lalu. Dua hari sesudahnya, Siti Hasmah mencapai usia 100 tahun. Pada 5 Agustus, pasangan dokter yang bertemu di bangku kuliah ini juga memperingati 70 tahun perkawinan keduanya.

Suatu rentang kebersamaan yang bahkan lebih panjang daripada usia kemerdekaan tanah air mereka, 69 tahun. Ketika Malaysia memperingati Hari Kemerdekaan ke-69 pada 31 Agustus 2026 ini, Mahathir berdiri sebagai salah satu saksi hidup terakhir dari hampir seluruh perjalanan negara Malaysia.

Umurnya 32 tahun ketika Persekutuan Tanah Melayu memperoleh kemerdekaan dari Inggris pada 31 Agustus 1957. Ia telah melewati masa kolonial, pendudukan Jepang, perjuangan menentang _Malayan Union,_ kelahiran UMNO, kemerdekaan Malaya, pembentukan Malaysia, kerusuhan rasial 1969, industrialisasi, dan perubahan Malaysia menjadi salah satu kekuatan ekonomi penting di Asia Tenggara.

Mahathir bahkan hidup lebih panjang dari sejumlah pemimpin besar serumpun yang sezaman dengannya. Presiden Soeharto meninggal di usia 86 tahun, sedangkan pendiri Singapura, sekaligus Perdana Menteri, Lee Kuan Yew, meninggal di usia 91 tahun. Akan tetapi, panjang usia Mahathir tidak hanya menarik sebagai keajaiban biologis. Dalam dirinya tersimpan riwayat sebuah negeri: harapan, pertentangan, keberhasilan, suka dan duka dalam membentuk Malaysia modern seperti hari ini.

Karena itulah, menyongsong Hari Kemerdekaan Malaysia tahun ini, penulis memilih menuliskan kembali sosok perjalanannya. Mahathir banyak dikenal dan dikagumi di Indonesia dan tulisan ini juga bersempena ulang tahun Mahathir yang ke-101. Ia bukan hanya orang yang menyaksikan sejarah dari kejauhan. Ia pernah menjadi dokter di Alor Setar, Kedah dan menuangkan kegelisahannya dalam tulisan ketika melihat ketertinggalan bangsanya, kekalahan dalam pemilu, serta kritik-kritiknya terhadap Perdana Menteri Malaysia pertama, Tunku Abdul Rahman ketika itu hingga ia dikeluarkan dari UMNO di tahun 1969.

Lalu, 3 tahun kemudian ia kembali lagi ke UMNO di masa Tun Abdul Razak hingga akhirnya terpilih sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-4, menggantikan Tun Hussein Onn di tahun 1981 selama kurang lebih 22 tahun.

Dari The Malay Dilemma hingga Malaysia: The Way Forward, sebagai karya tulisannya yg monumental tentang perjalanan Malaysia. Mahathir memperlihatkan bagaimana sebuah kritik terhadap keadaan bangsanya sendiri berubah menjadi gagasan pembangunan visioner, kekuasaan, dan visi tentang masa depan negaranya.

Mengenal Mahathir
Mahathir lahir di Alor Setar, Kedah, pada 10 Juli 1925. Ia dibesarkan dalam keluarga sederhana yang sangat menekankan pendidikan. Ayahnya, Mohamad bin Iskandar, seorang pendidik berdisiplin keras. Ibunya, Wan Tempawan, menanamkan agama, adat Melayu dan keyakinan bahwa sesuatu harus diperoleh melalui kerja.

Pendidikannya pernah terputus karena Jepang menduduki Malaya. Pada masa sulit itu, Mahathir berdagang di Pekanrabu, Kedah. Ia menjual makanan, buah-buahan dan barang kebutuhan sehari-hari. Dari pasar itulah ia melihat wajah ekonomi masyarakat secara nyata.

Kegiatan perdagangan perkotaan lebih banyak digerakkan oleh masyarakat Tionghoa, sementara orang Melayu berada di ekonomi pinggiran dan penonton saja. Kegelisahan tersebut menetap dalam pikirannya dan kelak menjadi salah satu dasar tulisan monumentalnya: _The Malay Dilemma._

Setelah perang, Mahathir terlibat dalam gerakan menentang Malayan Union. Ia kemudian memperoleh beasiswa untuk belajar di King Edward VII College of Medicine, Singapura —cikal-bakal Universiti Malaya (UM) yang kemudian dipindahkan di Kuala Lumpur.

Di kampus itu, ia menyaksikan betapa sedikitnya mahasiswa Melayu yang mampu memasuki pendidikan tinggi. Mahathir mulai menulis dengan nama pena “Che Det”, membahas pendidikan, kemiskinan dan masa depan bangsanya.

Sepulang dari Singapura, ia bekerja sebagai dokter pemerintah sebelum akhirnya membuka klinik sendiri yang diberi nama “Maha Clinic” di Alor Setar, Kedah. Pasiennya berasal dari masyarakat Melayu, Tionghoa dan India. Ilmu kedokteran telah memberinya lebih dari sekadar profesi semata.

Namun, ia memperoleh ruang untuk melihat masyarakat dari jarak yang lebih dekat. Kemiskinan, keterbatasan pendidikan, penyakit dan ketimpangan bukan baginya angka-angka di atas kertas saja, melainkan wajah manusia yang datang ke ruang praktiknya.

Dari klinik itulah Mahathir perlahan memasuki gelanggang politik. Ia terpilih sebagai anggota Dewan Rakyat (DPR) dari Kota Setar Selatan pada 1964 dan masuk Majelis Tertinggi UMNO setahun kemudian. Ia tampil sebagai tokoh muda yang berani, keras dan tidak mudah tunduk kepada hierarki partai.

Namun, Pemilu 10 Mei 1969 mengubah perjalanan hidupnya. Mahathir kalah dari calon PAS, Haji Yusof Rawa. Kekalahan itu sangat memukulnya. Ia menilai peralihan dukungan sebagian pemilih Tionghoa telah menjatuhkannya sekaligus memperlihatkan rapuhnya koalisi Perikatan yang terdiri atas UMNO, MCA dan MIC.

Tiga hari kemudian, setelah pemilu, Kuala Lumpur terbakar oleh kerusuhan rasial. Ketegangan politik pascapemilu, pawai kemenangan oposisi, pawai balasan, provokasi serta ketimpangan ekonomi yang telah lama menumpuk berubah menjadi kekerasan Melayu – Tionghoa. Ratusan orang kehilangan nyawa menurut angka resmi, sementara rumah, toko dan kendaraan dihancurkan.

Mahathir tidak berada di pusat kerusuhan ketika kekerasan itu dimulai. Ia sedang dalam perjalanan menuju Kuala Lumpur untuk membicarakan kekalahannya di pemilu. Polisi menghentikannya di Tanjung Malim dan memintanya kembali. Ketika berhasil kembali memasuki Kuala Lumpur beberapa hari kemudian, ia melihat bangunan menghitam, kendaraan terbakar dan jalan-jalan yang dijaga tentara.

Tragedi itu memperkeras keyakinannya bahwa ketimpangan ekonomi bukan hanya persoalan kesejahteraan, tetapi ancaman terhadap keutuhan negara.

Pada 17 Juni 1969, Mahathir menulis surat tajam kepada Perdana Menteri, Tunku Abdul Rahman. Ia menuduh Tunku gagal membaca keresahan Melayu, terlalu lunak dalam kompromi politik dan tidak cukup berhasil mengatasi ketertinggalan ekonomi. Lebih jauh, ia meminta sang perdana menteri mengundurkan diri.

Surat itu beredar luas. Mahathir diminta mencabutnya dan meminta maaf, tetapi ia menolak.

Pada Juli 1969 ia dikeluarkan dari Majelis Tertinggi UMNO. Dua bulan kemudian, keanggotaannya dicabut. Jadi, Mahathir tidak dipecat karena menulis buku _The Malay Dilemma,_ sebagaimana sering diceritakan di sejumlah tulisan. Penyebab langsungnya adalah pembangkangan terbuka terhadap Tunku dan penyebaran surat yang dianggap melanggar disiplin partai.

Tersingkir dari UMNO tidak membuatnya berhenti berpikir. Ia kembali ke Alor Setar, menjalankan praktik kedokteran dan menuangkan kegelisahannya ke dalam The Malay Dilemma, yang diterbitkan pada 1970 di Singapura. Buku itu merupakan diagnosis tentang ketertinggalan ekonomi Melayu. Mahathir berpendapat bahwa persaingan bebas tidak akan menghasilkan keadilan apabila kelompok-kelompok masyarakat memulai dari kedudukan yang sangat timpang. Karena itu, negara harus membuka akses pendidikan, modal, pekerjaan dan kepemilikan ekonomi bagi Melayu.

Namun, ia juga mengkritik masyarakat Melayu sendiri. Sikap pasif, kurangnya disiplin ekonomi dan kecenderungan menerima keadaan.

Di sinilah letak dilema yang dimaksudkannya. Tanpa perlindungan, Melayu juga dapat semakin tertinggal. Namun, perlindungan yang berlebihan dapat menciptakan ketergantungan dan mematikan daya saing.

Sebagian pandangannya mengenai ras dan keturunan dikemudian hari memang sempat dikritik karena dianggap tidak sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Bukunya tersebut juga terlalu luas dalam menarik kesimpulan tentang watak kelompok masyarakat. Namun, terlepas dari kelemahannya,  The Malay Dilemma menjadi salah satu naskah tulisan politik paling berpengaruh dalam sejarah Malaysia modern.

Setelah Tunku Abdul Rahman mengundurkan diri dan Tun Abdul Razak mengambil alih pemerintahan, jalan Mahathir kembali terbuka. Ia diterima lagi dalam UMNO pada 1972, pernah menjadi senator, anggota Dewan Rakyat, Menteri Pendidikan, Wakil Perdana Menteri, lalu dilantik sebagai perdana menteri pada 16 Juli 1981. Dalam waktu sekitar 12 tahun, tokoh yang diusir partainya itu berhasil mencapai puncak kekuasaan.

Selama lebih dari 22 tahun, Mahathir mencoba mengubah diagnosis menjadi tindakan. Malaysia diarahkan meninggalkan ketergantungan pada karet, timah dan komoditas menuju manufaktur, teknologi dan industri berat.

Ia meluncurkan Dasar Pandang ke Timur, membangun Proton, mempercepat Jalan Tol Utara–Selatan, memperluas industri elektronik serta membangun KLIA, Putrajaya, Cyberjaya dan Menara Kembar PETRONAS.

Pada 1991, dua puluh satu tahun setelah The Malay Dilemma, Mahathir menyampaikan makalah kebijakan yang kemudian menjadi buku berjudul Malaysia: The Way Forward. Dari naskah itulah lahir Wawasan 2020, yang merupakan cita-cita menjadikan Malaysia sebagai negara maju yang bersatu, percaya diri, ilmiah, toleran, beretika dan adil secara ekonomi.

Perbedaan kedua naskah itu mencerminkan perjalanan Mahathir. The Malay Dilemma adalah suara seorang politikus yang kalah dan tersingkir, sedangkan Malaysia: The Way Forward adalah suara seorang perdana menteri yang memiliki kekuasaan untuk melaksanakan gagasannya. Yang pertama bertanya,  mengapa Melayu tertinggal? yang kedua bertanya, bagaimana seluruh Malaysia dapat bergerak maju?

Tun Mahathir di Usia 101 Tahun
Tentu, modernisasi tersebut memiliki harga. Pemerintahannya dinilai terlalu melakukan pemusatan kekuasaan, pembatasan pers, penggunaan undang-undang keamanan, krisis peradilan 1988, patronase bisnis dan peristiwa pemecatan Wakil Perdana Menteri, Anwar Ibrahim pada 1998.

Mahathir membangun jalan, pabrik dan kota, tetapi tidak selalu membangun ruang demokrasi dengan kekuatan yang sama.
Ketika menyerahkan jabatannya kepada Abdullah Ahmad Badawi pada 31 Oktober 2003, Mahathir meninggalkan Malaysia yang jauh berbeda dari negara yang diterimanya pada 1981. Memang Mahathir bukan satu-satunya pembangun fondasi Malaysia. Jika Tun Abdul Razak telah merintis Dasar Ekonomi Baru dan mendirikan PETRONAS, namun Mahathir lah yang mempercepat, memperbesar dan memberi imajinasi industrial terhadap pembangunan itu.

Pada usia 101 tahun, warisan Mahathir tetap mengandung pertanyaan yang belum selesai. Apakah perlindungan ekonomi telah menghasilkan kemandirian atau ketergantungan baru? Apakah pembangunan fisik telah menciptakan bangsa Malaysia yang benar-benar bersatu? Dan, apakah modernisasi dapat disebut sempurna tanpa demokrasi yang kokoh?

Di usianya yang ke-92 tahun, Mahathir memang pernah kembali mencatatkan sejarah ketika dilantik sebagai Perdana Menteri Malaysia, dan Wan Azizah Ismail (istri Anwar Ibrahim) sebagai wakil perdana menteri pada 10 Mei 2018.

Ia kembali ke Putrajaya setelah koalisi Pakatan Harapan (PH), terdiri PKR, DAP, AMANAH, dan BERSATU berhasil mengakhiri lebih dari enam dekade kekuasaan koalisi Barisan Nasional (BN), yang terdiri dari UMNO, MIC dan MCA.
Pemerintahannya dirancang sebagai masa transisi menuju penyerahan kekuasaan kepada Anwar Ibrahim (di dalam tahanan), namun itu tak pernah terealisasi dan hanya bertahan sekitar 22 bulan. Krisis dan perpecahan koalisi mengakhiri pemerintahan keduanya pada Februari 2020.

Di tulisan kali ini penulis tidak membahasnya lebih mendalam, dan mudah-mudahan di tulisan berikutnya ada kesempatan menuliskannya.

Tapi, itulah Mahathir. Seorang dokter yang membaca penyakit masyarakat, penulis yang merumuskan dilema bangsanya, politikus yang pernah dibuang, dan pemimpin yang kemudian membangun Malaysia menurut visinya sendiri.

Usianya saat ini sudah melampaui satu abad, tetapi perdebatan mengenai gagasan dan warisannya tampaknya akan tetap hidup jauh lebih lama dari usia hidupnya.

Selamat Ulang Tahun dan Selamat Hari Kebangsaan Tun! 

*penulis dan jurnalis lepas peminat isu-isu politik global, tinggal di Pekanbaru dan alumni Fakulti Per Undang-Undangan Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM).
**tulisan ini telah terbit RiauOnline.co.id

Check Also

Mini Cross LPM Cup I Buka Potensi Baru Waduk Ciptakarya, Reza dan Abu Bakar Janji Dorong Jadi Pusat Olahraga dan UMKM

Anggota Komisi III DPRD Pekanbaru H Abu Bakar (topi hijau) dan Ketua KONI Pekanbaru yang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *