Senin , 24 Agustus 2026

Tak Sekadar Jual Kopi, Pak Sahid Coffee Angkat Cerita Kearifan Lokal Bengkulu Lewat Batik “Menyahyo”

 

Adi Sahid, founder Sahid Coffee (kiri) dan Anggota Komisi XI DPR RI H. Kamarussamad.

JAKARTA (Khabarmetro.com) – Kopi Bengkulu kembali mendapat ruang di panggung nasional. Melalui ajang Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 di Jakarta Convention Center (JCC), 20–23 Agustus 2026, Pak Sahid Coffee tidak hanya memperkenalkan kopi kearifan lokal dari Desa Batu Bandung, Kabupaten Kepahiang, tetapi juga mengangkat cerita budaya di balik perkebunan kopi melalui karya batik bermotif kopi bernama “Menyahyo”.

Langkah tersebut dilakukan Founder Pak Sahid Coffee, Adi Sahid, bersamaan dengan kegiatan business matching bersama sejumlah buyer nasional dan internasional. Kehadiran Pak Sahid Coffee difasilitasi Bank Indonesia Kantor Perwakilan Bengkulu di bawah pimpinan Wahyu Yuwana Hidayat.

Bagi Adi Sahid, KKI menjadi momentum untuk memperkenalkan dua produk sekaligus: kopi sebagai komoditas unggulan dan batik sebagai media untuk menceritakan kearifan lokal masyarakat petani kopi Bengkulu.

Dalam kegiatan business matching, Pak Sahid Coffee berdiskusi dengan sejumlah calon buyer. Namun, belum terjadi kesepakatan transaksi karena terdapat permintaan buyer yang belum dapat dipenuhi, terutama terkait harga.

Adi Sahid menjelaskan, biaya produksi masih relatif tinggi karena keterbatasan peralatan pendukung ekspor, antara lain mesin suton dan color sorter. Kondisi tersebut membuat harga yang ditawarkan buyer belum dapat mengimbangi biaya produksi.

Persoalan tersebut turut disampaikan Adi Sahid kepada Kepala Perwakilan BI Bengkulu Wahyu Yuwana Hidayat. Ia mengapresiasi dukungan BI Bengkulu yang telah memfasilitasi keikutsertaannya dalam ajang KKI.

 

“Menyahyo”, Cerita di Balik Secangkir Kopi

Di luar agenda bisnis, Adi Sahid membawa gagasan yang lebih luas tentang kopi Bengkulu. Ia memperkenalkan konsep storynomics yang menggambarkan rangkaian budaya masyarakat Desa Batu Bandung dalam mengelola perkebunan kopi.

Menurutnya, proses tersebut tidak berhenti pada penanaman dan panen. Ada rangkaian pengetahuan dan tradisi lokal mulai dari pembukaan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga proses pascapanen.

Nilai-nilai budaya yang menyertai proses tersebut kemudian dituangkan dalam motif batik kearifan lokal yang diberi nama “Menyahyo”.

Karya tersebut menjadi upaya Pak Sahid Coffee menjadikan batik sebagai media untuk memperkenalkan cerita dan identitas masyarakat penghasil kopi Bengkulu kepada publik yang lebih luas.

“Bukan hanya kopinya yang kita kenalkan, tetapi juga cerita dan budaya yang ada di balik kopi tersebut,” ujar Adi Sahid dalam rangkaian kegiatan KKI.

Dari KKI, Kopi Bengkulu Bertemu Pemangku Kebijakan

Kesempatan mengikuti KKI juga dimanfaatkan Adi Sahid untuk berdialog dengan sejumlah pemangku kepentingan.

Saat mengunjungi pameran, Anggota Komisi XI DPR RI H. Kamarussamad berdiskusi langsung dengan Adi Sahid mengenai kopi Bengkulu dan strategi memperkenalkan produk daerah ke pasar nasional maupun internasional.

Kamarussamad menyambut positif gagasan tersebut. Ia juga menyampaikan pernah berkunjung ke Bengkulu atas undangan Bank Indonesia dan membeli kopi asal Bengkulu.

Diskusi serupa dilakukan dengan Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian, Reni Yanita. Ia mengapresiasi upaya Pak Sahid Coffee memperkenalkan produk daerah melalui berbagai inovasi, termasuk batik bermotif kearifan lokal.

Reni juga diketahui pernah berkunjung ke Bengkulu dan mengenal kopi daerah tersebut. Ia memberikan dukungan terhadap upaya Adi Sahid yang selama beberapa tahun memperkenalkan kopi Bengkulu ke pasar yang lebih luas.

KKI Jadi Ruang Promosi Sekaligus Perlindungan Kekayaan Intelektual

Selain promosi dan business matching, keikutsertaan dalam KKI juga membuka ruang diskusi mengenai perlindungan kekayaan intelektual.

Dalam diskusi yang melibatkan Kementerian Hukum melalui Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual, Adi Sahid mendapat masukan agar motif batik “Menyahyo” segera didaftarkan sebagai karya seni rupa.

Langkah tersebut dinilai penting untuk memberikan perlindungan terhadap karya batik yang mengangkat identitas dan kearifan lokal Desa Batu Bandung, Kecamatan Muara Kemumu, Kabupaten Kepahiang.

Bagi Pak Sahid Coffee, pengenalan kopi melalui batik merupakan bagian dari strategi memperluas nilai produk. Kopi tidak hanya dipandang sebagai komoditas, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk mengenalkan cerita, tradisi dan identitas masyarakat penghasilnya.

Melalui KKI 2026, kopi Bengkulu pun mendapatkan panggung ganda: dipertemukan dengan pasar melalui business matching dan diperkenalkan melalui cerita budaya dalam motif batik “Menyahyo”.

Langkah ini sekaligus memperlihatkan bahwa produk lokal dapat memiliki nilai lebih ketika komoditas, kreativitas dan kearifan budaya berjalan dalam satu cerita. (uli/irg)

Check Also

Paket Kuota 5G Belum Aktif, Sudah Dijual di Aplikasi IM3: Pelanggan Merasa Ditipu dan Pertanyakan Kejelasan Informasi

PEKANBARU (Khabarmetro.com) – Seorang pelanggan Indosat Ooredoo Hutchison (IM3) di Riau mempertanyakan kejelasan penjualan paket …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *