Penulis: Prof. Jaswar Koto.
BERDASARKAN data 2021, setiap tahun rata-rata sekitar 3,7 juta pelajar lulus dari SMA, MA dan SMK. Diketahui, hanya sebanyak 1,8 juta lulusan yang bisa meneruskan kuliah ke perguruan tinggi dan kurang lebih 1,9 juta pelajar tidak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Alasannya, yakni keterbatasan ekonomi atau keterbatasan bangku kuliah di perguruan tinggi. Hal ini menjadi permasalahan yang mengkhawatirkan, dan harus dicarikan solusinya oleh pemerintah.[Detik.com].
Dengan penerapan Kecerdasan Buatan/Artificial Intillegence (AI) dalam dunia pendidikan, Indonesia akan mampu mengatasi permasalahan pelajar yang putus sekolah karena faktor ekonomi tersebut.
Penerapkan AI dalam pembelajaran hanya memerlukan biaya sebesar Rp.10.000/pelajar/semester. Sehingga total anggaran yang diperlukan untuk 3,7 juta pelajar, adalah Rp37 miliar per 6 bulan atau Rp74 milliar per tahun. Dan, ini jauh lebih kecil dari biaya operasional Pendidikan (BOPTN) yang diberikan ke PTN sebesar Rp9,4 juta/mahasiswa/tahun. Sehingga dengan pembelajaran berbasis AI, pemerintah akan mampu menghemat biaya pendidikan >34 triliunan rupiah per-tahun dari efisiensi BOPTN saja.
Dan, tentu saja ini akan jauh lebih besar lagi efisiensi yang dapat dilakukan oleh Perguruan Tinggi dari dana PNBP, yang bisa digunakan dalam meningkatkan kesejahteraan dosen dan tenaga kependidikan.
Kami memandang pembelajaran berbasis AI merupakan solusi pada sistem pendidikan di Indonesia, karena memberikan beberapa keunggulan/keuntungan, yaitu: akan meningkatkan kualitas standar pendidikan dan setara dengan negara maju, terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat secara ekonomi dan mudah diakses, kinerja dan prestasi guru dan dosen akan meningkat, karena terintegrasi penuh, lebih transparan dan akuntabel.
Disamping itu, juga terjadi peningkatan pemahaman siswa/mahasiswa dalam belajar, siswa/mahasiswa dapat belajar kapan saja, dimana saja dan menggunakan perangkat apa saja dengan ratio siswa/mahsiswa – guru/dosen adalah 1:1.
Keberhasilan pembelajaran berbasis AI diharapkan akan mampu mengatasi tantangan kualitas pendidikan yang tidak merata, semua anak Indonesia akan memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu, sehingga akan mewujudkan Indonesia menuju Sustainable Development Goals (SDGs) 4, sesuai dengan Agenda Pendidikan UNESCO 2030.
Saat ini, pembelajaran berbasis AI telah diterapkan di Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) di tujuh program studi, yaitu Informatika, Sains Data, Bisnis Digital, Kumunikasi Digital, Digital Neuropsychology, Teknik Industri dan Teknologi Industri Pertanian, sebagaimana ditampilkan pada link ini; https://drive.google.com/file/d/1buqEs5DDrQfYTxgSLdFnsQ46-pIfBFXC/view.
Disamping UICI, Teknik Arsitektur Perkapalan UPN Veteran Jakarta telah menerapkan AI dalam pembelajaran pada mata kuliah tertentu, seperti Kekuatan Kapal, Sistem Otomasi Kapal, Managemen Transportasi Laut, Bangunan Lepas Pantai, sebagaimana ditampilkan pada link ini; https://drive.google.com/file/d/1ezoHr9X5c_JkDbY_Ty4pHfECbAm1NqB2/view.
Teknik Mesin, STT Pekanbaru juga telah menerapkan AI dalam pembelajaran pada mata kuliah Kontrol Kualitas, Mesin Konversi Energi, Sistem Pembangkit Tenaga, Perencanaan Jig & Ficture, sebagaimana ditampilkan pada link ini; https://drive.google.com/file/d/1FdpUU_9mdc7uiAtGcj75YvRPVMC4_o7l/view.
Teknik Mesin Universitas Riau (Unri), juga telah menerapkan AI dalam pembelajaran pada mata kuliah Pemilihan Bahan dan Proses, dan Kelelahan Material, sebagaimana ditampilkan pada link ini; https://drive.google.com/file/d/1voaWkw4NzBzbZJ5ADpO3jke5wZku8qLf/view.
**
khabarmetro.com SELALU ADA KABAR BARU